5 Ekspektasi Brand saat Bekerjasama dengan Influencer

By Erny Kurniawati - 01.11.00


Yes, saya kembali lagi nulis tentang social media. Selain nulis tentang beauty, sebenernya saya pengen lebih sering sharing soal social media di sini. Itung-itung biar ilmu yang saya dapet saat bekerja sebagai social media strategist tuh nggak mandek atau terlupakan begitu saja. Kan katanya makin banyak sharing, makin banyak yang didapet ilmunya. Tapi sepertinya saya sempet eneg karena sehari-hari sudah ngurusin segala macem soal social media, mulai dari branding sampai ngurusin soal influencer yang diajak kerjasama. Khusus kali ini, saya mau sharing topik yang jarang dibahas. Yaitu tentang 5 ekspektasi brand saat bekerjasama dengan influencer. Setiap poin dalam postingan ini saya kumpulkan dari cerita beberapa temen yang sehari-hari juga bersinggungan dengan influencer. So, tulisan ini based on experience saya dan temen-temen yang sayang sekali nggak bisa saya sebutkan namanya di sini. 

Sebelum membahas 5 ekspektasi brand saat bekerjasama dengan influencer, saya mau kasih batasan dulu influencer yang dimaksud dalam tulisan ini. Influencer yang dimaksud ini lebih ke orang yang punya power di dunia digital, terutama Instagram, blog, dan juga vlog. Influencer sendiri banyak levelnya. Kurang lebih temen-temen di brand side kenal leveling berikut ini, ada influencer, buzzer, dan troopers. Tapi biar gampang semua saya sebut influencer ya! Kapan-kapan deh saya bahas satu-satu tentang perbedaan influencer, buzzer, dan troopers.

Ngomongin tentang influencer, ini tumbuh perubahan tren beriklan berubah. Sejak beberapa tahun terakhir tren beriklan brand mengalami perubahan nih. Dari yang tadinya mengandalkan media mainstream seperti surat kabar, radio, dan televisi, beberapa tahun terakhir belanja iklan lebih banyak dilakukan untuk bekerjasama dengan influencer. Perubahan belanja iklan inilah yang bikin influencer kebanjiran kerjasama dengan brand. Oiya, influencer juga nggak selalu dari kalangan artis, banyak banget yang dari kalangan orang biasa juga. Nggak heran yah sekarang nggak cuma artis yang bisa jadi bintang iklan, bahkan saya yang standar aja bisa kecipratan sponsored post di blog maupun media sosial! Nggak pernah ngebayangin sebelumnya! 

Di balik tawaran kerjasama tersebut, pastinya brand punya ekspektasi kepada influencer. Sebenernya ekspektasinya cukup banyak dan beragam, tapi kali ini saya jabarin 5 dulu ya. Here we go! 

Awareness Produk dan Brand

Apa sih tujuan utama beriklan? Dari dulu sampai sekarang udah jelas tujuannya biar produk dan brand lebih dikenal oleh masyarakat. Terutama oleh market pasar yang dituju. Begitu pula saat bekerjasama dengan influencer. Brand pastinya ingin meningkatkan product awareness mereka. Kalau awareness meningkat, selanjutnya peluang peningkatan penjualan kan meningkat juga. Walaupun kenaikan penjualan nggak selalu terjadi instan ya.

Selain produk, kerjasama dengan influencer juga bisa bertujuan untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap performa brand. Misalnya aja kalau brand tersebut mengadakan gathering atau talkshow dan influencer diundang. Di samping media coverage dari media mainstream, coverage dari influencer itu juga dianggap penting dan berpengaruh. 


Menegaskan Branding Produk

Kerjasama sama influencer juga bertujuan untuk memperkuat branding produk lho. Percuma juga kan kalau misalnya strategi brandingnya udah kece, tapi nggak ada saluran untuk menjangkau target pasar yang lebih luas. Kalau begitu kondisinya, ya berarti strategi tersebut nggak terealisasi. Setidaknya dengan kerjasama bareng influencer, produk tersebut jadi diketahui oleh pengikut si influencer. Misalnya kaya es krim Magnum yang identik dengan kesan mewah, ya biar branding mewahnya dapet dia pun ngajak kerjasama dengan influencer yang SES-nya dilevel A biarpun dari segi harga cukup terjangkau.

Baca juga: Get Ready with Make Over Ain't Got No Time

Profesional dan Kooperatif

 

Setiap kali saya diajak diskusi soal kerjasama bareng influencer, saya selalu menekankan kalau penting banget dapet influencer yang profesional dan kooperatif. Sebenernya kalau profesional mestinya sih kooperatif. Cuma saking banyaknya influencer dan saat ini profesi influencer sedang naik daun, nggak jarang saya ketemua sama influencer yang kelihatan profesional tapi kurang kooperatif karena mereka merasa dibutuhkan. Hal ini juga diamini sama temen-temen saya yang bekerja di kantor lain. 

 
Biasanya sih bentuk kurang profesional dan kurang kooperatif itu terlihat dari bagaimana attitude mereka. Kalau undangannya dateng event, bisa dibilang kurang profesional dan kooperatif kalau diawal sudah sepakat dengan tanggung jawab yang dibebankan brand kepada mereka, tapi nggak dilaksanain. Misalnya influencer harus posting foto maksimal 1 hari setelah event berlangsung, caption harus menceritakan message dalam acara, dan sebagainya tapi ternyata nggak dilaksanain sesuai kesepakatan. Hal-hal kaya gini sering missed lho! Belum lagi kalau telat dateng tanpa kabar. Wah temen saya ada yang cerita soal ini sambil kelihatan mukanya yang sebel abis! Haha. 

Contoh lainnya misal influencer bertanggung jawab melakukan review produk di media sosial maupun blog pada tanggal sekian. Tapi realisasinya sampai deadline nggak diunggah. Wah, hal ini udah jadi obrolan sehari-hari para penanggung jawab influencer. Soalnya kinerja influencer yang tidak tepat waktu itu efeknya bisa sampai nurunin kredibilitas si penanggung jawab influencer lho, belum lagi kalau jobnya itu diturunin ke community. Bahkan community-nya bisa kena imbas dilihat jelek oleh brand karena influencer di dalamnya nggak tepat waktu.  Jadi kalau saya dan temen-temen dari brand side lainnya menganggap tepat waktu itu komponen paling dasar dari profesional. Kalau udah tepat waktu, biasanya tanggung jawab lain bakal terlaksana dengan baik. Soalnya, saat tepat waktu itu artinya nggak nyepelein pihak brand yang ngajak kerjasama. 

Duh, nggak kerasa poin ini paling panjang ternyata. Fiuh~ Saya emang dapet cerita dan insight paling banyak di poin ini sih. So, masih sanggup lanjut baca kan? Kita move poin selanjutnya!

Menyampaikan Kritik dengan Bahasa yang Halus

Nothing perfect in the world. Begitu pula produk-produk dari brand sponsor. Kekurangan pada produk tersebut sebaiknya memang nggak ditutupi, apalagi kalau bentuk kerjasama dengan influencer berupa job review. Namun, semestinya influencer punya cara tersendiri untuk menyebutkan kekurangan produk dengan bahasa yang halus. Contoh simplenya begini, produk parfum A kemasannya agak gede, tapi bentuk kemasannya kece. Bahasa penyampaiannya bisa begini, "parfum A ini memang punya kemasan yang kurang travel friendly, tapi siapa sih yang nggak jatuh cinta dengan bentuknya yang unik? Jadi walaupun kemasan kurang travel friendly, saya tetep suka dengan parfum ini karena botolnya pun bisa jadi pemanis di meja rias saya." 

Soal penggunaan bahasa yang halus untuk kritikan ini nggak semua brand memberi note untuk hal tersebut. Tapi sebagai influencer, seharusnya cukup paham karena kerjasama tersebut tujuannya nggak lain adalah beriklan. Jadi kalau ada kekurangannya, tetep harus ditonjolkan sisi kelebihannya supaya audiens tertarik untuk melakukan pembelian.

Baca juga: L'Oreal Paris White Perfect Clinical Honest Review

 

Hubungan Mutualisme 

 

Meskipun ada influencer yang kadang nggak menjalankan tugas sesuai ekspektasi, tapi nggak sedikit juga dari mereka yang bener-bener profesional. Profesionalnya itu level nggak diminta data pageview google analytic, tapi ngasih ke pihak brand. Ada juga yang cuma minta dipost sekali di media sosial, eh dia ngeposting berkali-kali. Dan banyak bukti profesional lainnya. Nah, biasanya sih influencer begini sadar betul kalau hubungan mereka dengan brand itu simbiosis mutualisme. 

Track record kerjasama dengan brand tertentu bisa ningkatin profesionalitas dari influencer secara nggak langsung. Lalu sikap profesional influencer bisa menjadikan pertimbangan untuk brand agar mengajak kerjasama lagi di lain waktu. Itu contoh paling simpel dari hubungan mutualisme antara brand dan influencer. Bahkan nggak jarang seorang influencer bisa menaikkan rate card setelah bekerjasama dengan brand tertentu. 


Itu dia 5 ekspektasi brand saat bekerjasama dengan influencer. Nggak nyangka ternyata pas dibahas jadi panjang banget begini. Oiya, saya minta maaf kalau misalnya ada kalimat atau penjelasan yang kurang enak. Semua poin di atas ditulis berdasarkan pengalaman saya dan temen-temen lain saat menghandle kerjasama dengan influencer. Nah, kalau dari temen-temen ada pendapat apa nih? Share ya di kolom komentar!

PS: kalau ada ide untuk next post seputar social media, share di kolom komentar ya!
all picture belong to unsplash.com

  • Share:

You Might Also Like

59 komentar

  1. Setuju banget sama semua point-nya. Belakangan ini sempat dipercaya untuk handle beberapa blogger untuk satu brand kecantikan dan huff, it took lots of patience to handle them. Makanya nggak heran deh kalau acara2 yang pake influencer/blogger biasanya dipilihin yang udah kenal deket. Hehehe. Soalnya lebih enak komunikasinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yess, feed rapi aja nggak cukup ya untuk menilai keprofesionalan seorang influencer. Tapi itu justru insight buat kita karena kan kita tahu gimana cara kerja dari brand dan sebagai influencer juga. Milih yang sudah kenal pun harus tetep selektif juga yaa

      Hapus
  2. duhhh ilmu banget ini yg kudu di bookmark and share

    feed ige-ku masih acak adul + lagi belajar rapiin (tapi syusyah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. AYo mbak semangat! Pasti bisa. Biar lebih mudah bisa download apps seperti Preview utk bikin rancangan postinganmu

      Hapus
  3. Makasih sahring-nys mbak. Berguna banget nih buat sy yang lagi belajar nyemplung di dunia influencer. Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih mbak Ivonie. Thanks juga sudah baca tulisan ini

      Hapus
  4. Setuju sama fakta bahwa influencer makin banyak. Tapi brand pun mesti, dan harusnya, menyadari bahwa hanya influencer yang bertumbuh di media sosial, konsumen atau target pasarnya tidak. Coba lihat contoh di twitter, jika ada launching atau event produk tertentu, yang RT dan share ya influencer-influencer juga. Jadi seolah menjual ke penjual, bukan ke konsumen. Ya kalau kita follow influencer-influencer tersebut, TL twitter kita cuma berisi tagar promosi sebuah produk atau event =(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak, sebelum brand melakukan kerjasama biasanya kami melakukan riset yang bahkan cukup lama. Riset ini salah satunya untuk memilih influencer yang tepat. Kalau untuk twitter, sejauh ini memang pertumbuhan twitter di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berkurang. Biasanya kontrak utama lebih ke Instagram, FB, dan twitter hanya tambahan. Kami tidak fokus pada twitter karena kami sadar kalau twitter saat ini bukan media yang signifikan untuk beriklan. Jadi kalau ada influencer2 yang posting sponsor di twitter, bisa mereka memang sudah jari seleb twit dari dulu atau kalau nggak job untuk posting tersebut cuma tambahan saja. Untuk data perkembangan twitter di Indonesia sendiri bisa kakak simak di techinasia dsb. Yang jelas sih, brand ngeluarin uang pakai proses panjang dan nggak asal hehe. Thanks ya kak

      Hapus
    2. Wah... baru tahu soal perkembangan twitter di Indonesia ini mbak. Menarik sekali.

      Hapus
  5. Noted banget ama poin-poin yang disampaikan. Kalau kerjasama dilakukan bagus biasanya brand makin semangat untuk bekerjasama tak hanya sekali tapi berkali-kali ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, nggak jarang juga ada special invitation dan lain sebagainya. Saya juga ngamatin ini pas jd influencer utk sebuah brand. Kalau kita baik ke mereka, mereka pasti seneng juga kerjasama dgn kita.

      Hapus
  6. Halo jeng. Makasih loh ulasannya. Aku selalu berusaha tepat waktu kl kerjasama, krn itu kekuatan plg besar yg aku punya, hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloooo mbak, ya ampun akhirnya mampir sini lagi hehe. Iya mbak, aku juga setidaknya jangan pernah telat soalnya telat itu kaya nyepelein. Apalagi kalo alasannya nggak jelas kaya mood ilang dsb. Kalau telat alasannya jelas, pasti brand maklum hehe

      Hapus
  7. Terima kasih banyak infonya, Mba. Kalau untuk posting IG, misal stok foto makanannya (saya memang lebih banyak post makanan) ada 3 macam, walau disuruh post-nya 1 aja, besoknya tetap saya post 2 lainnya, apalagi kalau untuk promo tulisannya di blog. Tepat waktu iya jadi pelajaran juga biar profesional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus donk mbak hihi. Iyes, tepat waktu tuh hal paling dasar dari wujud profesionalitas kerja yah

      Hapus
  8. Wah thank you bgt mba untuk ulasannya. Jadi 'ngeh sama bbrp hal yg selama ini terlewat hehe :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi syukurlah mbak, berarti siap utk lebih baik lagi donk. Kembali kasih, thanks juga sudah mampir

      Hapus
  9. Makasih mbak.. bbrp saya sdh lakukan.. tetapi utk kritikan saya baru sadar klo kritikan saya walaupun saya rasa sdh halus tnyata stlh baca ini eh ada yg lbh halus lg n ttp menonjolkan kelebihannya ya..
    Makasih mbak infonya ditunggu artikel2 laen soal beda msg2 type influencernya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih mbak Anne. Iya mbak, kalau kerjasama sebisa mungkin kekurangan dibungkus sedemikian rupa biar tetep value kelebihannya nggak tertutup. Hehe

      Hapus
  10. Wah, thank you Erny, artikelnya bagus banget! Jadi belajar banyak, sekaligus jadi catetan dan self reminder banget nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih Ayu! udah mampir dan baca postingan ini

      Hapus
  11. Hehee bener banget itu soal waktu.
    Disiplin.
    Hahaa

    Ngga boleh ditunda2 meski harus begadang, karena itu adalah bagian dari tanggung jawab. Tapi tetep nulisnya harus ikhlas, karena biar enak di baca.
    Tulisan yang buru buru di ketik sama yang ikhlas di tulis itu menurutku juga beda sih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYESS bener banget li. Biasanya sih kalau aku begitu brief turun terus turunin dulu outline dicatetan haha. Sering juga ngerjain sampe jam 1 atau 2 haha. Tapi nggak papa daripada lewat deadline kan? Aku yakin kamu juga ngalamin begitu haha

      Hapus
  12. Ilmu banget ini Erny..
    Thank you for sharing Er..

    Lia,
    www.liamelqha.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Lia! Hihi makasih udah mampir yah

      Hapus
  13. Nah, menyampaikan kritik secara halus night poin penting banget. Harus hati-hati banget menuliskannya. Tricky banget soalnya. Kalau perlu dibaca berulang-ulang atau tanya temen buat masukan Kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Maya, namanya juga sponsored post yah hehe...

      Hapus
  14. Mbak Erny memang junjungan akkoh.
    Nice share looooh.. Banyakin postingan tentang socmed gih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Junjung aku kak! wkwk. Iya ses lagi berusaha memetakan apa lagi nih yang mesti dibahas haha. Kadang udah eneg ngutek-utek bab ini di dunia nyata haha

      Hapus
  15. Duh ilmu banget nih, butuh aku bookmark dan save hahaha.
    Karena newbie banget aku kudu banyak berguru padamu deh Er.
    Thank you for sharing yaa sist :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. weee jangan berlebihan harda, aku juga masih belajar terus melakukan pengamatan haha

      Hapus
  16. Jadi ingat waktu itu pernah 'mengawal' teman yang lagi kerjasama sama blogger buat review suatu brand. Trus aku mendapati kenyataan kalau ternyata blogger femes juga ada yang nggak disiplin, padahal ekspektasinya milih itu blogger karena karyanya bagus dan tepat waktu pas ngerjain tulisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, banyak banget mbak Ratna haha. Aku juga suka gemes :( tapi ya kalau tahu gitu yaudah lain kali nggak pake hehe

      Hapus
  17. Wah makasih infonya. Bisa jadi bahan introspeksi lagi supaya lebih profesional ke depannya.

    BalasHapus
  18. Mbak Erny postingan ini bener-bener bermanfaat banget, thankyou untuk sharing ilmunya. Aku setuju sekali dengan point influencer bisa meningkatkan brand awareness dari suatu produk, saat dimana brandnya sendiri belum cukup dikenal masyarakat luas. Tapi aku penasaran nih, apa menurut Mbak Erny personal branding dari social media influencer juga dapat memberikan pengaruh banyak bagi citra suatu produk yang diiklankan?

    www.zahwaaldila.blogspot.co.id

    BalasHapus
  19. On time! Setuju banget sama poin itu sis
    bahkan on time ini diperlukan banget pas acara2 gathering lhooo, kadang banyak yg menyepelekan hehehe
    sering2 dong sis share yang beginian, karena bermanfaat banget :D

    mampir yuk,
    www.deniathly.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess, on time saat event penting banget. Selain bisa foto2 venue pas masih rapi, kita juga nggak ngelewatin info dari brand ya

      Hapus
  20. Hai, Mbak.
    Bahasan yang menarik. Mau request donk tentang: "konten seperti apa yg diharapkan brand dr influencer"

    Karena saya, dan beberapa teman, sedang "merasa terganggu" dengan gaya konten promosi dari, yang dibilang influencer. Khususnya para blogger

    Di sosial media, misalnya, promosi di socmed yang bejibun dari para blogger, yg lingkarannya blogger juga. Itu jatuhnya mubazir ga sih? Kaya demonstarasi sebuah produk di satu cafe yang isi pesertanya semua sales produk itu.

    Belum lg "konten yg sama di blog".

    Ehehee. Komennya kepanjangan.

    Dari sisi seorang blogger saya pernah menuliskan betapa menyebalkannya konten dan konsep seperti itu. Kalau berkenan, boleh loh dibaca :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah aku malah seneng lho dikomentarin panjang haha. Makasih ya masukannya. Nanti aku kulik-kulik lagi untuk ngejawab pertanyaanmu hehe

      Hapus
    2. Menanti tulisan soal yang ini mbak. Colek2 dong kalau sudah publish mbak. Penasaran juga.

      Hapus
  21. Aku hampir setuju sih sama semua point di atas karena memang dilihat dari kacamata brand terhadap influencer. Setuju juga sama Mas Andhika yang beranggapan kalau "serbuan konten blogger yang serupa" itu kadang annoying. Aku paham bgt sama goals brand tertentu yang memang ingin meraih awareness tinggi tapi aku sbg pengguna sosmed dan pastinya follower kadang malah males liatnya haha, karena ibarat kata udah "gumoh".

    Bikin dong Er versi kebalikannya juga, karena kadang sebagai blogger apalagi yang newbie suka mendapat perlakuan gak enak juga dari brand. Contoh paling sering, brand punya kebiasaan gak tepat waktu dalam memenuhi tanggung jawabnya, misalnya deadline payment/fee, hahaha. Kadang kalau gak ditanya sampai berminggu-minggu, padahal brand besar loh :p

    Sorry ya Er kepanjangan wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. WILL CREATE! soal payment itu terutama. BTW biasanya kalau payment lama itu brand ngelimpahin ke agency dan brand suka susah bayar ke agency (CMIIW) based on pengetahuanku di lapangan. Thanks ya masukannya nanti aku bikin kontennya :D

      Hapus
  22. Thanks for sharing, Erny. This is so eye opening. Dapat insight banget dan jadi introspeksi juga buat blogger.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyess, aku juga banyak introspeksi nih. Terutama soal tepat waktu pas dateng ke event gitu

      Hapus
  23. Tulisannya sangat informatif mbak. Memang perkembangan dunia bloger dan influencer itu sudah semakin besarnya ya.
    Saya sendiri punya pengalaman yang agak bikin kesal ketika bantu handling acara. Ada yang datang telat dan sampai di lokasi saat acara sudah selesai. Nanya sana sini, orang itu ternyata sudah cukup sering seperti itu. Saya hanya bilang ke teman yg punya acara, jangan sama dia lagi ya nextnya.
    Attitude ini memang sangat penting sih.
    Menantikan juga untuk tulisan lainnya ya mbak, seperti yang dimintakan. Salam kenal.

    BalasHapus
  24. Luv bangettt sis postingannya, sebagai ex-brand aku juga sempet ngerasain ada di dua posisi ini bersamaan... dan rasanya susah banget :') btw sering2 sharing beginian yakkk, supaya kita semua dapet insight :D

    BalasHapus
  25. Ah siiiiiip banget ini sharing dari kamu. Aku sendiri masih terus berusaha meningkatkan kualitas kontenku dan profesionalitas saat ada kerjasama bareng brand tertentu.

    Pernah suatu hari aku lupa total buat bikin postingan. Akhirnya aku buru-buru bikin H+1 deadline. Waktu aku kasih linknya, perwakilan dari brand yang kontak aku nggak jawab apa-apa bahkan setelah aku email dan WhatsApp. Aku jadikan pembelajaran aja supaya next time nggak kejadian lagi :')

    BalasHapus
  26. Ijin nyimak biar bisa dapet ilmu

    BalasHapus
  27. Chakep bahasannyaaa LUV! Ditunggu postingan lainnya kaaak!
    www.yubikanobi.com

    BalasHapus
  28. Suka bacanya yang simbiolis mutualisme itu mbak. Emang nanti pasti ada waktunya lah ya influencer memetik hasilnya, asalkan bekerja dengan profesional jg TFS

    BalasHapus
  29. Mba Er...dari awal sampai akhir i feel you lah. Paham banget dan ngejalanin bahkan sampai dikomplain sama brand juga pernah. Tapi Alhamdulillah selama ini masih bisa diatasi dan dibicarakan.

    Ditunggu insight yang lainnya ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, dari dimarahin jadi belajar banyak yah mbak hhehe. Ini lagi nyiapin tulisan selanjutnya hehe. Tunggu yah Mbak

      Hapus
  30. Erny makasih banyak atas pengetahuannya! 😍😘😘 Aku mau berkembang buat jadi lebih profesional!
    Aku tunggu postingan selanjutnyaaa 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi ini masih research Ikka, thanks for reading! Nulis begini jauh lebih ribet ketimbang review kosmetik hehe

      Hapus
  31. nice info erny :D postny bermanfaat beud <3 betul bgt tuh ak plg srg ngasi kritik cm bahasany tak alusin

    BalasHapus