The Signs of Burnout & How I Deal With It

By Erny Kurniawati - 11.49.00


"Kayaknya ada yang aneh sama diriku deh. Kamu ngerasain nggak sih mas?" Tanya saya kepada Dhimas sambil menyantap makan malam. Weekend lalu saya banyak menangis karena sebab-sebab yang sesungguhnya remeh. Semua berawal dari perasaan guilty feeling yang timbul karena malam Sabtu saya habiskan untuk santai-santai berselancar di Internet. Paginya saya bangun kesiangan. Kebetulan sedang datang bulan, saya pun baru benar-benar bangun pukul 10.00 pagi. Bangun-bangun saya sedih dan BT luar biasa. Saya merasa bersalah sudah bersantai-santai. Pikiran saya bilang, "Erny, mestinya kamu tuh semalem matiin HP dan ngerjain itu kerjaan yang targetnya kelar awal bulan ini, tapi belum juga kelar. Yah, pantes kamu gini-gini aja. Kamu pemalas dan banyak alasan sih. Kamu kurang giat." Itu kata-kata yang muncul di pikiran saya Sabtu pagi kemarin. Setelah itu, saya langsung beranjak mandi dan berusaha menuntaskan apa yang perlu saya tuntaskan. 

Saya sudah sarapan dengan roti. Sudah di depan laptop. Beberapa dokumen terbuka untuk saya baca. Sayangnya, semakin saya membaca, semakin saya mencoba memahami, dan semakin kekeh saya berusaha menerjemahkannya dalam tulisan, saya justru semakin pusing. Beberapa puluh menit terbuang, saya masih saja berusaha menulis, tapi tidak menghasilkan apapun. Baru sekitar 1,5 jam kemudian otaknya kooperatif mau diajak kerjasama. Saya bisa menulis beberapa paragraf. 

Sabtu kemarin, to do list saya ada dua. Pertama menulis hal sudah saya ceritakan barusan. Kedua, saya mau foto untuk konten blog. Kebetulan saya mau mereview salah satu produk makeup lokal. Saya sudah bikin mood board, fotonya seperti apa, fotonya dimana, sekali foto dapet berapa materi konten yang bisa saya tuliskan di sini. Intinya, rencana saya sudah matang. 

Dalam perjalanan menuju lokasi untuk foto, langit mulai gelap lagi. Perasaan saya udah nggak enak. Saya mulai BT lagi karena sudah menebak agenda hari ini bakalan gagal. Dan bener, agenda untuk foto konten tersebut gagal. Saya pun semakin BT. Bad mood luar biasa. Anehnya, saya biasanya nggak sedrama ini, tapi Sabtu kemarin saya rasanya gelap mata. Pikiran negatif dan menyalahkan diri sendiri memenuhi kepala saya.

Kata-kata menyalahkan diri sendiri mulai menghantui kepala saya lagi. Saya terngiang-ngiang oleh kalimat ini, "Erny, mestinya kamu tuh semalem matiin HP dan ngerjain itu kerjaan yang targetnya kelar awal bulan ini, tapi belum juga kelar. Yah, pantes kamu gini-gini aja. Kamu pemalas dan banyak alasan sih. Kamu kurang giat." Kepala saya mendadak sakit dan nafas saya naik turun nggak karuan. Ternyata saya marah dengan diri sendiri. Saya sedih luar biasa karena merasa nggak produktif. Saya merasa sedih karena nggak bisa memperkirakan momen-momen yang nggak sesuai harapan seperti, mendung dan hujan yang mempengaruhi lighting saat foto. Maklum saya masih ngandelin cahaya matahari. 


Rupanya, insiden nggak jadi foto itu membuat saya jadi mellow habis sampai nangis-nangis. Tapi yang saya tangisi bukan karena nggak bikin konten blog. Melainkan saya merasa kurang usaha dan kurang kerja keras dalam hal apapun. Makanya, saya nggak bisa mencapai target sidang awal bulan ini. Makanya saya nulis skripsi aja lama. Yap, balik lagi saya nyalahin diri sendiri. Saya nyalahin kenapa saya nggak punya pilihan untuk berhenti kerja dan fokus kuliah dan lain sebagainya. Dan saya semakin sedih saat ada yang menasehati saya untuk fokus dan mungkin meninggalkan blog ini untuk sementara waktu. Di titik ini, saya sebenarnya tahu cara untuk fokus tapi kondisi yang belum memungkinkan. 

Sementara meninggalkan blog, berarti membuka pintu stres yang jauh lebih buruk. Sekalipun blog ini mulai menghasilkan, tapi bagi saya menulis di sini adalah self healing ala diri saya. Karena itulah Sabtu kemarin saya semakin menangis tersedu. Sungguh, ini hal yang aneh bagi saya. Saya nggak seperti ini biasanya. Saya menangis sepanjang jalan. Bahkan saya nggak mau makan malam. Saya hanya makan sayur kangkung setelah dipaksa sama Dhimas.

Di tengah perasaan heran tentang yang terjadi dengan diri saya ini, saya inget-inget artikel yang pernah saya baca beberapa hari sebelumnya di website Forbes. Artikel tersebut membahas tentang burnout. Burnout ini menurut dalam artikel tersebut dideskripsikan sebagai kondisi dimana orang mengalami kelelahan yang terus menerus dan ketidaktertarikan pada sesuatu sehingga berpengaruh pada menurunnya kualitas atau kecepatan kerja. Nah, burnout ini umumnya dipicu oleh stress. Kondisi stres dan tubuh kelelahan yang melebihi kemampuan diri kita untuk menangkal stresor tersebut membuat seseorang berada di titik ini. Walaupun saya nggak mau menyebut situasi kemarin sebagai burnout, tapi saya nggak menyangkal kalau yang saya alami sejak awal bulan ini menunjukkan gejala tersebut.

Gejala-Gelaja Burnout


Burnout ini ada gejalanya. Salah satunya diawali dengan perasaan kelelahan secara terus menerus baik secara fisik, mental, maupun pikiran. Kondisi kelelahan ini juga bisa memicu lack of motivation. Yes, motivasi bekerja atau melakukan sesuatu menurun dan rasanya berat untuk menghadapi hari baru. Kabar buruknya, saya mengalami dua gejala tersebut! Dan situasi diperparah dengan kenyataan kalau ada target yang saya usahakan nggak bisa saya selesaikan.

Terus gejala ketiga adalah merasa pesimis dan pikiran dipenuhi dengan hal-hal negatif. Yes, lagi-lagi saya mengalami gejala ketiga ini. Pikiran saya dipenuhi dengan perasaan bersalah karena sudah membuang-buang waktu dengan sia-sia, saya merasa nggak fokus, saya merasa nggak bisa bekerja cepat, dan pada intinya pikiran saya dipenuhi hal-hal negatif yang endingnya menyalahkan diri sendiri. Kondisi ini memperburuk diri saya sehingga saya juga mengalami gejala yang keempat yaitu fokus saya menurun. Yes, saya justru fokus pada kekurangan diri sendiri, pesimis, dan semakin sering salah mengambil keputusan. Akibatnya saya semakin merasa capek dan marah dengan diri sendiri.

Kondisi tersebut juga membuat saya seminggu terakhir insomnia. Padahal sejak akhir Agustus hingga awal Oktober kemarin saya sudah bisa memperbaiki ritme hidup sehari-hari. Saya bisa tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Sadly, saya telat menyadari kalau ternyata saya kelelahan luar biasa sehingga memicu situasi ini. 

Saya berani sharing soal burnout karena setelah saya membaca berbagai sumber yang salah satunya adalah website Psychologytoday, kondisi saya memang mengarah ke sana. Weekend kemarin, selain emosi yang aneh, marah, lack of motivation yang terlihat semakin jelas, dan anxiety, saya juga mulai menyadari adanya gangguan kesehatan. Sakit kepala dan diare (setiap stres saya mengalami ini) terjadi selama beberapa hari. Berhubung saya menyadari kondisi ini, Minggu malam saya berjanji untuk mulai memperbaiki ritme hidup dan memberi sugesti positif kepada diri sendiri. Termasuk beberapa hal yang sebaiknya saya lakukan untuk mengatasi kondisi ini. 

Cara Saya Mengatasi Gejala Burnout


Saat saya merasa lelah lahir batin, mental, dan fisik kemarin, saya sengaja numpahin dengan nangis-nangis. Selama nangis itulah saya sambil mencari tahu apa yang mesti saya lakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Dan, dari kondisi yang saya sebut burnout ini saya punya beberapa cara untuk mengatasinya.

Bercerita dan Butuh Didengarkan bukan Dinasehati

 

Dalam kondisi seperti ini, saya tahu betul kalau saya cuma ingin mengeluh sepuasnya tanpa dinasehati. Tempat terbaik saya adalah ngomong dengan Dhimas dan Ibu. Mereka berdua adalah orang yang benar-benar memahami kondisi saya. Dalam situasi begini, nasehat orang justru bisa jadi boomerang karena saya bakal merasa semakin salah dan semakin pesimis. 

Menganalisa yang Terjadi Pada Diri Sendiri

Setiap kali mengalami situasi di luar kendali saya, saya langsung mengingatkan diri untuk melakukan analisa. Dasarnya suka nganalisis sampai ketemu alasan logis, saya juga melakukan itu untuk membaca kondisi diri saya sedang berada di titik mana. Hasil analisa inilah yang membuat saya sadar kalau diri saya menunjukkan sinyal-sinyal burnout.

Oh ya, buat saya yang namanya bad mood secara otomatis itu nggak ada. Bagi saya, semua kondisi itu ada sebabnya yang bisa dinalar logis. Karena itulah saat merasa nggak baik-baik saja saya pasti meluangkan waktu untuk menganalisa diri sendiri. 

Tidur yang Cukup

 

Tidur punya peranan penting. Gejala burnout yang ditunjukkan oleh diri saya ini juga berangkat dari memforsir diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu sampai kurang tidur dan kelelahan. Setiap hari kurang tidur dan kelelahan sementara target nggak tercapai membuat saya lack of motivation, kehilangan kepercayaan diri, pesimis, serta menyalahkan diri sendiri. Maka dari itu, sejak hari Minggu kemarin saya berusaha untuk kembali tidur lebih awal. Ya walaupun seawal-awalnya saya itu ya jam 12 malam. But it's better, sebelumnya saya tidur jam 2 atau 3 sementara mulai jam 9 pagi hingga jam 12 atau 1 malam saya bakalan mengerjakan ini itu non-stop di depan layar laptop. 

Refreshing


Temen saya yang lain bilang saya kurang piknik saat saya menceritakan apa yang saya alami. Sementara Dhimas menawarkan saya untuk membelikan tiket liburan dekat-dekat Jogja atau sekadar spa biar diri saya merasa lebih baik. Menurut mereka saya perlu break. Saya perlu bersenang-senang. Berhubung saya belum tahu mau piknik atau liburan kemana, saya pun memilih refreshing dengan belanja.

Soal belanja, saya itu pelit. Maksudnya saya nggak pernah lagi belanja untuk pelarian. Jadi saat kemarin memutuskan belanja saya memikirkan terlebih dulu dengan baik-baik barang apa yang saya butuh dan berapa budgetnya. Soalnya, kalau saya impulsif justru after effectnya malah memperburuk keadaan. 

Membangun Motivasi Kembali

Sama halnya dengan refreshing, usaha untuk membangun motivasi ini saya lakukan dengan slow but sure. Saya kurangi to do list harian, tapi saya  berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu. Jadi nggak terlalu multitasking seperti sebelumnya. Dengan bisa menyelesaikan satu persatu task, saya merasa punya energi dan motivasi lagi. 

Membangun motivasi ini juga bisa dengan merancang reward kalau kita bisa achieve target. Nah, saya berencana memberi reward kecil pada diri sendiri untuk belanja item fashion idaman bulan depan. Kenapa bulan depan? Soalnya akhir tahun biasanya ada banyak penawaran diskon yang besar-besaran, jadi saya bisa dapet barang impian tanpa mengeluarkan budget besar. Termasuk e-commerce andalan saya Zalora yang November nanti bakalan ada penawaran menarik Singles Day .


Huh, ternyata postingan curhat ini panjang sekali yah! Thanks for reading, meskipun isinya nggak ada solusi dan cuma sharing yang lebih banyak keluhan. Temen-temen ada yang pernah mengalami gejala-gejala burnout seperti saya? Biasanya diatasi dengan cara apa sih?

  • Share:

You Might Also Like

22 komentar

  1. Saat baca ini aku jadi sadar aku juga sekarang lagi burnout.
    Rasanya pingin marah terus sama diri sendiri karena nggak bisa menyelesaikan banyak target, merasa jadi orang yang payah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, karena udah tahu gejalanya, buruan ditanganin deh. Kalau meledak nanti payah lho!

      Hapus
  2. Don't be too hard on yourself, ya Er. Inget ga cerita-cerita nggak jelasku yang sebenernya sebab-sebabnya sepele tapi kata-kataku di chat selalu emosional? Efek stres yang njelimet kayak benang kusut, tapi aku memaksakan diri buat keep on track; tetap laksanain kewajiban, tetap berusaha ngejar target, tetap berusaha waras dalam kondisi yang begitu-gitu aja, tapi pada akhirnya malah ngerasa stuck dalam situasi yang nggak enak. Kualitas hidup pun jadi menurun gara-gara itu. And you know what? Aku merasa pulih begitu aku sampe di Jogja, begitu balik ke Jakarta pun aku merasa lebih baik. Tiba di kegilaan yang sama tapi aku lebih kuat ngadepinnya, mungkin karena aku udah balik waras :))))

    Aku jadi mikir, mungkin emang sebenernya, aku butuh mencapai apa yang aku (secara personal) pengin biar aku nggak ngerasa hidupku kayak robot didominasi faktor-faktor luar. Soalnya dengan ngejalanin, ngelakuin, ngedapatin apa yang aku pengin kan aku jadi merasa aku berdaya, aku punya otoritas atas diriku, ya semacam itulah. Hihi.

    Coba inget-inget, kamu punya keinginan apaaa gitu ga yang terpendam? Kejar deh, siapa tau bisa mulihin energi positif kamu ke 100% lagi. Gapapa pelanin langkah sesaat, gapapa mundur sedikit, anak panah aja butuh mundur untuk kemudian melesat maju kan. :p

    By the way mau ngingetin aja, aku available buat jadi tempat sampah tiap kamu punya unek-unek yang mau diluapin. Cheer up, chin up! <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhhh shay....... duh mo nangis bacanya huhu.

      Hapus
  3. Di usia kayak kita itu emang momen momennya galau hebat itu pasti ada. Jangankan awal 20, bahkan saya aja ngalamin lagi di usia 25an. Bukan burnout sih jatohnya, saya ngalamin quarter life crisis. Masih di pusaran badai sekarang. Ngebandingin diri dengan hidup orang lain emang sulit sih, jadi pengen lebih. Mungkin alesan selalu berpikir negatif itu seperti itu. Ini mah sharing aja yah hehe, da saya juga tipe yang gampang berpikir negatif tentang diri sendiri. Satu satunya yang bisa nyelamatin kita itu kita sendiri, jadi memang harus mau nyembuhin diri sendiri dulu sebelum minta bantuan orang lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya... umur 20an emang rentan burnout. Biasanya makin dewasa makin berkurang krn mungkin mulai settle juga ya. Bener banget kita harus selesai dengan diri sendiri dulu sebelum minta tolong orang lain. Thanks ya sharingnya.

      Hapus
  4. Mbak, ternyata aku juga termasuk dari beberapa gejala burnout ini, Kayak aku perlu jalanin tips yang mbak saranin. Terima kasih infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih mbak Yelli. Yuk, balikin ritme idup yg bener biar ga burnout hehw

      Hapus
  5. Ouh "Burnout". Sepertinya saya pun mengalami itu. Lbh kepada kebosanan lalu udah ngrasa capek, muak gtu. Pdhl pekerjaan msh banyak yg menanti.
    Mungkin memang butuh refreshing kali ya dr kegiatan yg itu itu aja...
    TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess, mungkin perlu ngasih jeda untuk diri sendiri. Anggep aja waktu untuk napas hihi kan badan butuh recharge, pikiranpun juga

      Hapus
  6. Erny sayang... setiap orang normal pasti pernah mengalami hal ini ko. Aku aja sampai sekarang masih ngalamin sedihnya aku cuma bisa dipendem sendiri aku gak mau anak-anak melihat ibunya sedih dan gak berdaya karena aku adalah contoh untuk mereka. Jadi kalau lagi sedih biasanya aku coba tenangin diri karena aku orangnya juga suka nyalahin idri sendiri khususnya untuk mengurus anak-anak pastilah ingin yang terbaik tapi semakin dipikirkan semakin sakit kepala so... jalanin dan enjoyed the show. Terus lakukan yang terbaik walaupun aku suka bilang ini kurang maksima,l inilah, itulah. No body's perfect girl... orang lain mau ngomongin apa kek cuekin aja just let it flow setiap orang punya kekurangan dan kelebihan kan? yang penting kita harus berusaha lebih baik lagi dalam segala hal dan tidak mengganggu atau merugikan orang lain. Tetap semangat ya Er.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahhhh kak Kania, your words :') membuatku jadi lebih positif bawaannya. Oktober ini bisa dibilang the hardest month so far :')

      Hapus
  7. Erny, thanks for sharing. Ternyata ada yang namanya burnout, bukan hanya stress atau depresi. Take care, Erny dear.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak Wina, dia di atas stress tapi di bawah depresi skalanya hehe

      Hapus
  8. Ooo burnout to istilahnya. Aku sepertinya juga sering mengalami hal ini. Tanpa sadar sih ya kadang. Tapi aku gak bisa nangis gitu mak. Palingan cuma bisa dipendem atau meluap jadi emosi ke suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampe emosi sama suami hihi. Nanti malah runyam lho

      Hapus
  9. Baru tau juga kalo namanya burnout, sering juga mbak ngerasain kayak gini. Diri sendiri nggak berproduktif, eh marah-marah sendiri. Apalagi awal hamil dulu, ngapa-ngapain mual, masak mual, cuci piring mual, udah aja di kamar mulu. Terus sedih sendiri karena ngerasa diri kok mendadak ga berguna dan ga produktif. Terimakasih sarannya mbak, tetap semangat :))

    BalasHapus
  10. ERNYYYYYY!! THANK YOU FOR SHARINGG!!
    Sumpah ini tuh lagi aku alami sekarang. Jadi lack of motivation. Aku baru tau begini namanya burnout. Aku sering jadi hilang arah sendiri, mau ngerjain apa-apa serba salahh. huhu..

    BalasHapus
  11. yaa ampun ternyata slama ini ini toh yg ak rasain ampe insomnia T.T hiks emang bener bgt sedih gtu ps ngrasa waktu trbuang sia2 T.T kudu refreshing yah cuma ud jrg bgt dpt piknik *ngobrol2 sm emak aja wes

    BalasHapus
  12. Burnout, yang paling sulit adalah burnout dan tidak ada orang lain yang bisa puk puk - in, hehe. Anyway, nice post!

    www.eandana.com

    BalasHapus
  13. Ernyyy makasih sharing nya, dalam ngeblog khususnya aku sering banget tuh ngerasain hal-hal seperti lack of motivation, kurang fokus, tiba-tiba kayak malas nulis padahal di sisi lain sadar betul kalau menulis buat saya adalah kebutuhan bukan sekedar hobby, sama seperti erny, ngeblog buat saya juga sebenernya adalah self healing. Tapi waktu perasaan kurang motivasi itu muncul tiba-tiba juga suka nyalahin diri sendiri haha. Baru tau kalau yg seperti ini istilahnya "Burn out" :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya dalam hal apapun lack of motivation itu bisa dateng yah! Aku pun gitu kok. Manusiawi hehe. Iyah, istilah burnout kurang populer di Indonesia :D

      Hapus