Mengenang Masa Remaja Lewat Film Dilan 1990

By Erny Kurniawati - 17.27.00

Sumber: Instagram @falconpictures_Film

Seingat saya, ini adalah kali pertama saya puas nonton film di bioskop yang menceritakan kisah cinta anak SMA. Saat menulis ini, saya baru saja pulang dari Empire XXI di Jalan Solo, Jogja, untuk nonton film Dilan 1990. Saya sengaja menonton film ini setelah weekend kemarin berhasil dibikin campur aduk pikiran dan hatinya oleh tiga novel Pidi Baiq dengan judul Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Saya tidak akan membahas novelnya kali ini, tapi pada postingan ini saya mau sharing saja apa pendapat saya tentang film Dilan 1990. Saya tidak akan menyebutnya sebagai review karena mungkin bakal ada spoiler di sana-sini. Jadi kalau kamu belum nonton dan nggak mau baca spoiler bisa berhenti di sini. Tapi kalau temen-temen penasaran ingin tahu gimana pendapatku tentang film Dilan 1990, yuk baca sampai tuntas!
Awalnya saya nggak tertarik sama sekali untuk nonton Dilan 1990. Apalagi pasca trailernya keluar. Entah kenapa cuplikan Dilan yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan ex CJR sedang ngegombalin Milea yang diperankan oleh Vanesha Prescilla itu terlihat wagu di mata saya waktu itu. Belum lagi warganet beramai-ramai membahas kekurang cocokan sosok Iqbal memerankan sosok Dilan yang merupakan siswa bandel dan dianggap nakal, plus panglima tempur geng motor. Bener, waktu itu saya jadi mikir juga, "Iya ya, Iqbal ini mukanya anak remaja baik-baik dan berprestasi yang cool gitu."


Long story short, sampailah pertengahan bulan Januari tahun 2018 ini film Dilan 1990 semakin gencar dipromosikan. Saya kebetulan ngikutin akun presenter, Soraya Hilmy yang sudah sejak lama sering membahas Dilan. Bahkan udah dari berbulan-bulan yang lalu. Nah, saya jadi penasaran karena Aya ini ngebahas terus menerus. Lalu saat pertama kali ditayangkan, temen deket saya Fitri juga nonton dan mengunggah Insta Story yang isinya dia kaget kalau film Dilan 1990 ini bagus. Berhubung selera film Fitri dengan saya itu sebelas-dua belas. Saya langsung memutuskan membaca novelnya sebelum nonton filmnya, dan kegilaan saya pada Dilan 1990 dimulai. 

Saya memutuskan nonton film Dilan 1990 seorang diri. Kebetulan Dhimas nggak suka genre film ini. Saya excited setengah mati karena sejak Minggu kemarin sudah terpesona dengan bayangan sosok Dilan yang diperankan oleh Iqbal dalam film ini. Saya tadinya nggak ngefans dengan cowok berusia 18 tahun ini karena ya umur saya lebih tua 6 tahun dari dia. Haha. Dan selera saya itu mas-mas yang mature gitu. Tapi, semua berbalik sejak saya jatuh cinta dengan novel Dilan 1990. Dan semakin dibuat jatuh cinta gara-gara stalking abis sosok Iqbal Diafakhri Ramadhan. Saya yang berumur menjelang 24 tahun tiba-tiba merasa masih 16 tahun karena kagum dengan cowok ini. Sungguh lucu!
Perasaan excited saya masih meletup-letup sampai film ini dimulai. Scene demi scene berlalu. Aksi Dilan ngegombalin Milea juga sudah mulai. Saya yang dulu sempat merasa gombalan Dilan ini wagu ternyata saat duduk menonton di bioskop kesan itu nggak ada. Yang ada banyak scene PDKT ala Dilan ke Milea bikin saya senyum-senyum tersipu. Iya, saya nonton Dilan 1990 karena kan saya mau totalitas ngebayangin jadi Milea selama nonton film ini. Haha.

sumber: Instagram @dilanku

Rasa gombalan Dilan ke Milea itu buat saya masuk akal dan legit. Berhasil mengingatkan saya ke masa remaja. Walaupun saya lahir tahun 1994, tapi saya masih ngalamin momen-momen dalam film tersebut. Seperti surat-suratan sampai ketakutan kalau cowok yang ditaksir dan naksir saya dateng ke rumah. Ingatan pada momen-momen itu justru bikin saya geli dan tersipu. Tenang, tersipunya bukan karena cowok di masa remaja, tapi tersipu karena saya ngebayangin digombalin sama Dilan yang semanis itu senyumnya dan setajam itu tatapan matanya. Sampai di sini, saya mengapresiasi kemampuan acting Iqbal. Senyumnya ke Milea nggak perlu diragukan lagi kadar manisnya.Terus tatapan matanya Iqbal ke Vanesha memang dapet banget chemistry-nya. Tatapan tajam penuh cinta gitu. 

sumber: Instagram @falconpictures_
Sumber: Instagram @falconpictures_

Kalau acting ngegombal dan lovable gitu dianggap lebih mudah, part yang bikin saya sempet sanksi sekaligus penasaran sama actingnya Iqbal itu justru gimana dia saat memerankan adegan berkelahi dan memimpin geng motor. Nakal, brandalan, dan keras kepalanya kelihatan atau nggak? Makanya, sepanjang film saya beneran fokus dan nggak ragu untuk bilang kalau acting Iqbal saat berkelahi pun bagus. Nggak kelihatan kaku dan natural. Waktu memimpin konvoi bersama geng motornya pun Iqbal bisa mengubah mimik mukanya menjadi lebih garang. Ternyata, kesan Iqbal dengan identitas CJR dan juga kesannya yang cool, kalem, anak baik-baik, serta nggak nakal itu berhasil dia lepaskan. Saya sih pengen kasih tepuk tangan. Karena actingnya untuk jadi Dilan bisa dibilang sukses. Dalam film ini, Iqbal nggak ada karena yang ada adalah Dilan.

Sejauh saya nonton film-film Indonesia, rasanya baru ini saya benar-benar terkesan dengan acting artisnya. Nggak cuma Iqbal yang menurut saya apik actingnya. Vanesha yang memerankan Milea pun nggak kalah bagus. Walaupun beberapa temen saya berpendapat kalau actingnya sebagai Milea kurang 'dapet'. Tapi nggak untuk saya. Saya melihat dia bisa memerankan sosok Milea dengan baik. Apalagi chemistry-nya dengan Iqbal nggak perlu diragukan lagi. Tatapannya, excitednya saat bertemu Dilan, harap-harap cemas menanti telpon, dan  gimana Milea berusaha mencari info soal Dilan itu khas remaja banget yang bikin saya senyum-senyum sendiri karena terhibur selama menonton film ini.

Acting Vanesha yang paling saya suka itu justru waktu dia panik kalau Dilan mau nyerang geng lain. Aksinya ngajak Dilan jalan tiba-tiba itu khas remaja banget karena panik dan nggak berpikir panjang. Terus manja sekaligus ngeyelnya saat melarang Dilan pergi juga bikin saya manggut-manggut. Itu sih udah fix sangat natural dan real banget.

Sumber: Instagram @dilanku

Beneran deh, walaupun banyak yang bilang film ini seperti nggak ada klimaksnya, tetapi saya justru menikmati setiap scene-nya. Gombalan ala Dilan yang mungkin terlihat berlebihan, tapi sangat real pada masa itu. Lalu sikap Dilan yang mudah 'panas' dan terpancing emosinya khas remaja. Hingga senyum manis mereka berdua yang dapet banget feel-nya. Kalau soal acting, kedua pemeran utama ini sudah berhasil membawa film ini jadi lebih bagus dari ekspektasi saya. Salut karena nggak cheesy sama sekali!

Setelah membaca semua seri novelnya dan menonton filmnya, Dilan 1990 ini buat saya nggak sekadar film. Melalui film ini, saya rasanya seperti kembali umur 16 tahun sesaat setelah keluar bioskop. Parahnya, saya jadi rindu masa remaja dulu waktu naksir-naksir lawan jenis dan bertemu tatap tanpa sengaja saja bikin saya merinding nggak karuan. Belum lagi masalah stalking gebetan yang nggak semudah sekarang. Jadi inget juga kalau zaman dulu teman-teman gebetan itu jadi informan penting untuk mengorek informasi lengkap tentang si Doi. Ya, seperti Piyan teman Dilan itu perannya. Perantara untuk berkirim surat hingga untuk ditanyai ini itu soal sosok yang kita taksir. Atau seperti Wati, teman Milea sekaligus sepupu Dilan. Kebayang kan, skill analisis generasi saya dan sebelumnya itu cukup terasah karena stalking gebetan aja butuh effort lebih dan nggak tak seinstan zaman sekarang.


Kesimpulannya...


Fix saya baper parah dengan sosok Dilan dan juga Iqbal. Saking bapernya saya sampai pulang nonton nggak bisa tidur. Akhirnya begadang sampai nyaris subuh dan malah ngepoin video behind the scene syuting film Dilan 1990 sampai video promo mereka di berbagai acara. Bapernya bukan semata-mata sama Dilan dan Iqbalnya, tetapi juga sama Vanesha sebagai Milea. Baper karena bikin saya teringat masa remaja dan happy! Saking bapernya juga saya potong poni saat dini hari karena kangen masa remaja. Haha. Hubungannya sama poni sih karena muka saya lebih muda aja kalau berponi.


Lalu kalau soal acting para cast-nya, saya merasa semua cast-nya terlihat berusaha maksimal untuk menampilkan yang terbaik. Pemilihan cast untuk setiap karakter pun tepat. Yang terpenting, nggak ada yang kelihatan terlalu tua atau terlalu muda. Pemainnya benar-benar umur belasan yang masih pas untuk peran tersebut. Meskipun menurut pandangan obyektif saya, acting Iqbal sebagai Dilan ini paling menonjol dibandingkan cast lainnya. Dia tampak sangat serius untuk tidak mengecewakan fans novel karya Pidi Baiq tersebut.

Namun, peran Piyan, Wati, dan Anhar memang kurang diceritakan sedalam pada novel. Pun penggambaran Dilan sebagai panglima tempur geng motor juga terasa kurang matang. Namun, masalah seperti ini memang wajar bila diangkat dari novel. Bahkan film sekelas Inferno juga melakukan hal yang sama. Tidak menggambarkan seorang tokoh sedalam pada novelnya. Jadi, saya tarik kesimpulan kalau hal seperti ini memang masalah klasik dalam film adaptasi dari novel.
 
Sumber: Instagram @iqbaal.e

Soal jalan cerita, saya pun menikmatinya sekalipun seperti yang saya singgung sebelumnya, film ini nggak punya klimaks. Tapi hal itu nggak bikin film ini nggak bagus. Justru kekuatannya ada pada hampir setiap scene yang berhasil bikin geli plus gemes mengingat masalalu. Terus seinget saya, baru ini saya puas dengan film Indonesia yang dibuat dari adaptasi novel. Kalau ada beberapa cerita dalam novel yang nggak ada di film ini, saya maklum karena masalah durasi memang mau gimana lagi.

Kalau ada yang harus dikritik, saya hanya menyayangkan editan green screen pada scene Milea dan Bunda di mobil tidak disunting dengan rapi. Kelihatan banget kalau editan dan rasanya kurang nyaman untuk dilihat. Untungnya, itu tertutupi karena 90% film ini digarap dengan apik. Bahkan latar tahun 90-an juga buat saya sudah cukup diperlihatkan. Mulai dari gaya pakaian, interior rumah, tone video, dan sebagainya. Mungkin hanya gaya rambutnya saja yang kurang jadul. But, over all saya benar-benar happy Indonesia ada film seperti ini.

Sumber: Instagram @vaneshaass

At the end, bahasan saya kali ini memang nggak ditujukan murni untuk review. Jadi kalau ditanya obyektif atau nggak pendapat saya ini? Ya, jawabannya obyektif sesuai selera saya. Nah, karena saya sudah sharing, yuk sharing juga pendapat kalian yang sudah nonton atau masih penasaran dengan film Dilan 1990 ini di kolom komentar! Kalau mau sharing soal adegan terfavorit versi temen, saya juga bakalan nyimak satu-satu dengan senang hati!

  • Share:

You Might Also Like

25 komentar

  1. Lah kok iso baper sampe ga bisa tidur gitu Erny? kayak abis nonton horor aja hehehehe,
    aku blm nonton nih film ini, cuma denger2 cerita tmn2 katanya bagus. jadi penasaran, kayaknya aku bakal kembali ke masa2 itu hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak soalnya cerita Dilan itu emang simple tapi ngena karena kerasa real gitu. Aku uda baca novelnya sebelum nonton filmnya. Kedua, Iqbaal ini actingnya beneran di luar ekspektasi. Dia dapet banget sih meranin sebagai sosok Dilan yang gombal abis, tp perhatiannya ke Milea out of the box, dan chemistrynya dapet banget. Haha. Itu yg uda pada nonton mostly baper krn lirikan, tatapan, dan cara ngomong Iqbaal as Dilan beneran kaya aduh mempesona haha. . Terus kukepo dan jatuh hati deh sama kepribadiannya wakaka

      Hapus
  2. Mbak Erny Toss duluuu! Hahaha aku yg udh emak2 aja juga turut baper tenggelam di lautan kenangan :)))

    Deg deg an waktu si dia main ke rumah dan nemu surat di laci meja itu ga tergantikan sih emg ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku beneran enjoy banget nonton ini lho mbak karena nggak sedih wkwk. yang ada senyum-senyum sepanjang film. Cuma nyiapin batin utk film kedua dan ketiga yang biki sedih wkwk...

      Haha, sama. Sama deg-deg annya kalau si dia mau ke rumah dengan alasan, belajar lah atau apa lah. takut kena marah bapak wakak. Atau dapet prasasti (coret2an) di bangku ngaji wwkwk

      Hapus
  3. aq udah baca novelnya dari lama, tapi masih ragu-ragu mo nonton apa gak filmnya tapi baca-baca review juga banyak yang bilang bagus filmnya, jadi makin penasaran pengen nonton..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton mbak.... Ini film ga ada sedihnya.. Sukses bikin senyum2 dan inget masa lalu

      Hapus
  4. Aku awalnya mikir ah ini filmnya bakal cheesy abis nih. Ternyataa banyak juga idolaku yang ibu2 30 tahunan ikut nonton trus termehek-mehek ahahaha. Bener kayak yang kamu bilang, rasanya seperti balik ke usia 16 taun uwuwuwuw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu nonton doooonk haha... Gimana ya... Tatapan matanya itu... Aku paling tidak tahan sama teduhnya tatapan kaya mata iqbal eh dilan ituh

      Hapus
  5. Aku jg sukaa bu, parah. Jadi merasa masih remaja. Haha
    Bunda punya novelnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada novelnya... Bhehe... Mau po? PDF tapi 😊

      Hapus
  6. Saya juga buibu pembaca dilan mba, dan ikutan baper haha. Sayangnya disini ga ada bioskop 😭. Makanya review seperti inilah yang kunanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha review yang begimana mbak? Asli baper abis mbak. Krn saya itu kan selera filmnya bukan begini. Tapi bisa tergila2. Ckck... Berarti blm nonton ya mbak. Huhubkebayang penasarannya

      Hapus
  7. Memang sangat pas untuk remaja yah. Tapi sayang, kukira bakal ada sedikit kejutan dari novelnya. Overall sih oke :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat aku, udah segitu aja.. Cukup... Manisnya bikin terngiang2 ngelu2 enak

      Hapus
  8. Ya Ampun.. Segitu excited nya mbx. Smpai motong poni. Hahaa

    BalasHapus
  9. Haha soalnya inget umur... Merasa berdosa sehappy ini. Mandang muka kl jadi keliatan lebih muda, happynya tanpa guilty wkwk

    BalasHapus
  10. Fix! pgn banget nonton jadinya XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus nontonndan siap2 baper. Atau jgn2 uda nonton ya mbak? Hihi

      Hapus
  11. Aku juga udah ngikutin novelnya dari awal, tapi sayang masih belom nonton juga sampe sekarang. Btw, sama bangetlah si mamas nggak mau juga diajak nonton film genre beginian. Duh, haruskah aku mengikuti jejakmu tuk nonton film ini sendirian, Erny T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa aku kemarin sendiri. Terus senin nonton lagi ditemenin mas hehe... Akhirnya dia mau kuajak kali ini wkwk. Aku lihat kamu kemarin nonton. Unyu kan gombalannya...

      Hapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  13. Senyum-senyum sendiri baca tulisannya, aku pun termasuk yang baper sama film ini. Ingat lagi masa SMA. Tadinya aku juga sempat sanksi sama Iqbaal, bahkan aku selalu joged-joged ala CJR sambil nyanyiin lagu eaaa di depan suamiku buat mengolok-olok tapi selalu bilang 'biar begitu aku kalo punya anak cowok mau gantengnya kayak Iqbaal', haha. Fix abis nonton Dilan ini jadi mikir emang Iqbaal cocok jadi Dilan. Mukanya pas buat anak SMA, nggak blasteran (kan Dilan masih keturunan Indonesia), trus sama Milea ngga ada kesenjangan umur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener. Aku puasnya karena itu juga. Tengilnya dapet. Lirikannya dapet. Chemistrynya uda ga diragukan. Masih demam ampe sekaramg ini

      Hapus
  14. YA TUHAAAAANNNNNNN
    AKU BARU SADAR, SAMPE BIKIN REVIEW LOH!
    AKU SAYANG DILAN, eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. FANS DILANISME LHO BEBBBBBB WAKAKA... AKU TOTALITASSSS. HARAPANNYA DINOTICE DILAN. KENYATAANNYA..... AKU INI SIAPA?

      Hapus