Eiffel I'm in Love 2, Gimana Hasil Penantian Panjang (Erny dan) Tita?

By Erny Kurniawati - 12.20.00

Photo source: Instagram @samuelrizal1

Kebayang nggak sih menjalani pacaran selama 12 tahun dan LDR antarbenua? Jujur, kalau dipikiran saya sih nggak kebayang, tapi kasus itu ada lho di film Eiffel I'm in Love 2! Film tersebut baru saja rilis pada 14 Februari 2018 kemarin. Sesuai judulnya, film dengan genre drama romance ini memang ditayangkan bertepatkan pada saat momen valentine. Tapi bukan itu yang bikin saya niat sekali buat dateng ke bioskop dan menontonnya seorang diri. Saya niatin nonton film ini karena saya penggemar Eiffel I'm in Love 1 yang tayang pada tahun 2003 silam! Yes, ini adalah film lanjutannya dan saya nggak sabar buat tahu bagaimana kabar Adit dan Tita 12 tahun kemudian (di film setting waktu dibuat 12 tahun kemudian, bukan 15 tahun kemudian). Saya yakin, penggemar film Eiffel I'm in Love yang pertama dulu bukan cuma saya. Jadi, kali ini saya mau membahas film lagi, lebih tepatnya sih review yang dibuat dengan suka-suka dan pastinya bertabur opini pribadi serta spoiler sana-sini. Kalau kamu siap untuk membaca beberapa spoiler di tulisan ini, let's start!

"Terus loe nikahnya kapan Ta?"

"Tapi loe punya cowok kan?"

Pertanyaan di atas menjadi scene pembuka dari film besutan sutradara Rizal Mantovani ini. Kebayang kan kalau pacaran 12 tahun dan selama itu LDR? Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sangat wajar muncul, apalagi kita tinggal di negara di mana orang dan teman-teman sekitar kita terlalu peduli untuk ngurusin hal pribadi seperti kapan nikah dan udah punya pacar atau belum. Tita pun harus ikhlas dibuat jengah oleh orang-orang sekitar yang mulai menanyakan kapan dia dan Adit menikah. 

Dua belas tahun pacaran, Adit dan Tita masih diceritakan sebagai sepasang kekasih yang dikit-dikit cekcok lucu lalu marahan. Karakter Adit yang cuek-cuek romantis masih menonjol dan tetap ditonjolkan sebagaimana pada film pertama dulu. Sementara Tita, ia digambarkan sebagai seorang wanita muda berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai dokter hewan. Karakternya yang ngeyel, nggak mau kalah, lucu, manja, dan cute juga masih dipertahankan serta ditonjolkan pada film kedua. Sayangnya, karakter Tita yang cenderung dipertahankan seperti film pertama justru tidak logis dan aneh. Ya, masak wanita muda umur 27 tahun masih tetap dilarang pakai handphone sama mamanya yang overprotektif? Kayanya kalau di real life sangat tidak mungkin. 

Gara-gara itu, saya sempet ngira kalau film Eiffel I'm in Love 2 ini memang dibuat menjadi komedi romance. Namun semakin lama durasinya berjalan, semakin saya bertanya-tanya kok konfliknya itu serius ya? Intinya sih, isi percakapan dan tingkah Adit maupun Tita sering memancing saya untuk tertawa, namun di beberapa bagian film konflik tentang 'kapan menikah' itu terasa serius sekali. Kebiasaan saya setiap nonton film selalu dikaitkan dengan imajinasi gimana kalau kejadian di layar itu terjadi di dunia nyata. Jadinya kebayang banget sih sedihnya Tita yang sudah sampai Paris bersama keluarganya harus kecewa kalau Adit ternyata belum siap menikahinya. 


Sesuai dengan trailernya, di film ini Tita bersama keluarga memang pindah ke Paris untuk melanjutkan usaha restoran yang sebelumnya dikelola oleh Om Reza, papa Adit. Om Reza meninggal dan restoran tersebut terpaksa tutup. Jadi, orang tua Tita yang memang punya bagian dari restoran tersebut memilih untuk mengelolanya lagi dan membuat keluarga mereka harus tinggal di Paris untuk sementara. Pindahnya Tita sekeluarga ke Paris menjadi angin segar untuk hubungan Tita dengan Adit. Tapi, sesampainya di sana harapan tersebut sempat pupus setelah Adit menyatakan ketidak siapannya untuk menikahi Tita pada tahun itu. 

Udah ngarep mau menikah, ternyata diminta nunggu Adit sampai siap lagi.


Kali ini Tita tidak terima karena Adit pun tidak menceritakan alasan di balik ketidak siapannya. Lagi-lagi kebayang kan? Pacaran 12 tahun dan pasanganmu masih belum siap untuk menikahimu, tapi tidak cerita apa alasannya. Kalau saya jadi Tita, saya juga bakalan mutusin Adit sih, persis seperti sikap yang Tita pilih di film Eiffel I'm in Love 2 ini. 

Patah hatinya Tita jadi angin segar untuk Adam, sahabatnya sejak kuliah. Adam ini memang sudah lama menaruh rasa pada Tita, tapi dia tahu kalau Tita hanya menganggapnya sahabat dan cintanya tetep untuk Adit. Well, hal-hal semacam ini juga jamak terjadi di real life. Iya kan? Adam pun menyusul ke Paris waktu Tita cerita dia putus dengan Adit. Kali ini ia memutuskan untuk langsung menyatakan perasaannya ke Tita yang ternyata........ bertepuk sebelah tangan. 

Karena saya ini terlahir di keluarga ekonomi menengah ke bawah, saya mikir dan bertanya-tanya, "memangnya nyusulin cinta ke Paris itu semudah itu yah?" Bagian ini membuat saya inget endingnya Ada Apa dengan Cinta di mana Cinta nyusul Rangga ke US. Mending Vanesha ajalah yang nyusul Iqbaal ke US (lhaaa.....). Jadi bagian ini buat saya sangat cheesy dan khas film atau ftv banget. 

Puncak konflik di film Eiffel I'm in Love 2 itu ada pada saat Adit dan Tita putus. Keduanya digambarkan sama-sama patah hati dan juga pengen bersama. Namun, penggambarannya nggak menggigit buat saya. Entah kalau buat penonton lain. Endingnya pun ketebak kalau Adit dan Tita kembali bersama lagi dan diajak nikah. Adit yang memang romantis walau cuek itu melamar Tita di puncak menara Eiffel. That's why judul filmnya Eiffel I'm in Love. Karena menara Eiffel emang menjadi icon cinta mereka dari jadian sampai ngelamar. Sweet? Ya sweet sih karena saya memang penggemarnya Samuel Rizal. Jadi suka deg-degan kalau Adit menyatakan cinta atau bersikap romantis. Kaya gemes gitu. Haha. 

Photo source: @samuelrizal1

Move to My Own Opinion

Bagi saya, nonton Eifell I'm in Love 2 nggak bisa dipisahkan dari bayang-bayang Eiffel I'm in Love yang pertama. Entah sudah berapa kali saya nonton Eiffel I'm in Love yang tayang tahun 2003 itu di televisi maupun di laptop. Saya nggak pernah menontonnya di bioskop karena tahun 2003 baru kelas 3 SD. Tapi, pertama nonton film tersebut sekitar tahun 2005 atau 2006. Udah 13 belasan tahun yang lalu!

Buat saya, konflik yang diangkat dalam Eiffel I'm in Love 2 itu sesungguhnya menarik dan pas. Ya walaupun pacaran 12 tahun dan LDR itu berlebihan sekaligus bikin decak kagum. Kok bisa pacaran jarak jauh selanggeng itu? 

Sayangnya, konflik tersebut tidak dieksekusi dengan baik. Ceritanya terasa datar dan pada menit-menit ke 40-an saya sempat merasa bosan. Mulai memasuki scene yang serius, feel patah hatinya Tita lagi-lagi kurang menggigit. Untungnya soundtrack untuk film ini dibawakan oleh Melly Goeslow dan lagu-lagunya menjadi penyelamat untuk beberapa scene. Ada salah satu scene yang kalau tanpa lagu Melly feel-nya nggak dapet. Ya sedih, tapi yaudah sih. Gitu aja. Berhubung ada soundtracknya Melly, saya sampe mau nangis! The power of music kan? So, buat saya soundtrack film ini benar-benar membantu Eiffel I'm in Love 2 lebih touchy.

Terus ngomongin soal pemerannya, buat saya pribadi chemistry Adit dan Tita masih dapet banget. Sayang sekali acting cast pendukungnya kaku, jadi aneh aja gitu. Feelnya nggak dapet dan seolah-olah satu sama lain kurang mendalami karakter mereka. Bahkan ada cast baru yaitu Nanda yang merupakan sahabat Tita, ia hadir dalam film ini tanpa punya urgensi. Maksudnya pengaruh dari sosok Nanda ini nggak terlalu penting dan nggak punya pengaruh besar.

But over all, Eiffel I'm in Love 2 ini masih termasuk film yang enak untuk ditonton. Selain soundtrack pendukung yang membuat film ini lebih touchy, penonton juga terhibur dengan percakapan Adit dan Tita yang sering memancing gelak tawa. Itulah kenapa di awal film saya mengira Eiffel I'm in Love 2 punya genre komedi romantis. 

Namun harus saya akui juga, selain nggak bisa lepas dari bayang-bayang Eiffel I'm in Love pertama, saya juga nggak bisa lepas dari membandingkannya dengan film Dilan. Sebenarnya nggak bisa dibandingin secara head to head dari segi jalan cerita. Karena film Dilan mengangkat cinta remaja dan Eiffel I'm in Love 2 mengangkat cerita cinta sepasang kekasih dewasa. Secara emosional konflik yang dibawa pun berbeda. Namun karena keduanya punya genre yang sama yaitu, romance, maka saya tetap nggak bisa untuk nggak membandingkannya.

Buat saya, Eiffel I'm in Love 2 masih menjadi film yang cukup ditonton sekali saja. Berbeda dengan Eiffel I'm in Love pertama yang sudah saya tonton lebih dari 2 kali atau film Dilan yang untuk pertama kalinya saya tonton 2 kali di bioskop. Sensasi yang diberikan sesaat setelah selesai menonton Eiffel I'm in Love 2 ini biasa saja. Saya cuma inget deg-degannya kalau Adit sedang manis ke Tita. Tokoh Adit ini punya pengaruh besar di masa remaja saya. Dulu saya paling males deket sama cowok seumuran. Selalu kiblatnya tuh Adit dan Tita. Pengennya dapet pacar yang umurnya sekitar 5 tahun di atas saya, ya persis seperti Adit Tita ini. Eh ternyata, in real life justru seriusnya sama yang beda setahun. Haha. 

Terakhir, setelah nonton film ini saya harus jujur ekspektasi saya nggak terpenuhi. Jadi kalau harus kasih nilai, versi saya sih cukup 6,5/10. Masih layak tonton, cuma nggak perlu serius mikirin setiap scene dan jalan ceritanya. Karena saya mikirin dua hal tersebut dan justru jadi kecewa kok penantianku selama 14 tahun gini-gini aja. Terus gimana ending film ini? Ya tonton yuk ke bioskop terdekat!

  • Share:

You Might Also Like

12 komentar

  1. Pengen nonton film ini dari jauh-jauh hari, tapi sempat gak pengen lagi karena udah tau endingnya. Ya masa ada temen yang videoin ending filmnya di insta story. huhuuu.

    Tapi abis baca review ini jadi pengen nonton lagi deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, aku lebih parah donk malah ceritain spoilernya di sini haha.. Kok gitu yah, masa distory-in. BTW ayo nonton :) Walaupun nggak sebagus Dilan, tapi worth lah...

      Hapus
  2. Dulu aq juga sempet suka sama novel dan filmnya, tp gak terlalu exited untuk nonton yg ke 2 ini... nggak yakin bagus eh ternyata bener yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, endingnya ya mirip-mirip Ada Apa dengan Cinta. Mungkin karena terlalu lama ya jadi kaya aneh gitu..

      Hapus
  3. Dari trailernya aja aku kayak berasa garing loh erny wkwkw
    Makanya aku gak nonton, beda sama AADC waktu di bilang mau di bikin lanjutannya langsung penasaran.

    Eh. tapi tapi..
    Tita awet ya cantiknya hahaha *salah fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tita mah emang gila.... makan formalin kali... dishoot deket aja ga keliatan lho garis halus sekitar mata. Tapi adit juga, dia uda 37 tahun masih seger gitu. Hot daddy wkwk. Ya gak sih? AKu justru tergoda sama trailer karena mirip yang pertama wkwk.

      Hapus
  4. Yang pertama itu selalu lebih berkesan ya mba.
    Tapi aku tetap penasaran si sama film keduanya. Menurutku komedinya itu garing tapi gak bikin ilfeel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, aku juga masih penasaran makanya rela banget nonton pas premier hehe. dan studio full lho hehe. Setuju juga soal komedi yang nggak garing. Aku sih bisa ketawa hehe

      Hapus
  5. Aku ngga tertarik nonton, ahahaha. Tetapi, keren juga setelah belasan tahun film ini mampu mempertemukan kembali Tita & Adit yang iconic.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang nggak kalah keren, Adit dan Titanya masih awet muda haha. Setuju gak?

      Hapus
  6. Wahhh akoh belum nonton nih, udah lupa juga critanya sama eiffel yg versi 12 thn yg lalu hahahha, liat trailernya bagus, jadi makin penasaran hihihihi

    BalasHapus
  7. Setau aku sih ya mbak , emang sengaja di buat kaku sih film nya mbak .

    BalasHapus