Engagement Story | Menyiapkan Lamaran Sendiri

By Erny Kurniawati - 23.34.00


Sudah membaca tulisan sebelum ini tentang memutuskan untuk menikah? Nah tulisan kali ini ada hubungannya. Kalau ingin lebih nyambung, temen-temen bisa klik link di atas. Hehe. Jadi, setelah kami mantap memutuskan untuk menikah, saya dan Dhimas mencoba mem-break down apa saja yang perlu dipersiapkan. Salah satunya menyiapkan lamaran sendiri. 

Keluarga saya dan Dhimas bukan tipe yang nyuruh cepet-cepet nikah. Kadang orang tua memang bertanya rencana kami ke depan, tapi bukan yang intimidatif. Mereka hanya ingin tahu kami punya rencana apa. That's all. Oleh karena itu, akhir tahun lalu saya dan Dhimas jalan berdua yang lebih seperti meeting. Kami membahas soal kenapa kami ingin menikah dan apa saja langkah yang harus ditempuh untuk sampai ke jenjang tersebut. Alhasil, kami melakukan beberapa hal berikut ini:

Survey cincin untuk lamaran


Kenapa survey cincin duluan sebelum ngomong orang tua? Karena kami pengen pas ngomong ke orang tua, kami sudah punya bukti kalau kami serius mau menikah dan sudah melakukan salah satu langkah terkecilnya yaitu, survey cincin! Judulnya survey, jadi kami tidak langsung membelinya. Selain karena nunggu tabungan lebih gembung, model yang saya mau juga nggak ada. 

Menyampaikan keinginan dan kemauan untuk menikah pada orang tua


Sekitar awal Januari tahun ini, saya dan Dhimas sepakat untuk menyampaikan keinginan dan kemauan kami untuk menikah ke orang tua masing-masing. Alhamdulillah, orang tua saya dan orang tuanya menyambut dengan baik dan ikut senang dengan keputusan kami tersebut. Setelah itu, Dhimas menghadap orang tua saya untuk bilang maksudnya ingin melamar saya. Atas permintaan orang tua Dhimas, saya juga diajak untuk bertemu bapak dan ibunya. Kami ditanyai tentang banyak hal yang akhirnya restu pun sudah didapat dari kedua belah pihak. 

Mulai hunting venue lamaran


Rumah saya kecil, sementara keluarga Dhimas besar. Rasanya bakalan sumpek kalau pertemuan keluarga diadakan di rumah. Jadilah kami mengambil jalan tengah yaitu mengadakan lamaran di venue lain. Awalnya kami ingin melakukan acara lamaran ini di Jogja karena pilihan tempat hingga hingga kepraktisan saat mengurusnya lebih banyak dibanding mengadakan lamaran di kota kelahiran kami, Magelang. Namun, orang tua saya kurang setuju dan ingin kami mencari venue di dekat tempat tinggal orang tua. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan acara lamaran di Balkondes Tuksongo yang lokasinya hanya sekitar 15 menit dari rumah orang tua kami.

Untuk memilih lokasi ini, sebenarnya kami tak melewati masa survey berbagai venue. Kami ini pasangan yang sebisa mungkin segala sesuatu dibikin mudah. Jadi saat nemu venue yang cukup oke dan best price, kami langsung lock venue tersebut tanpa tergoda survey ke venue lain. Alasannya, saving tenaga untuk urusin printilan lainnya!

Menyiapkan seserahan


Soal seserahan ini, tak semua pasangan membawa seserahan saat lamaran. Namun, adat di daerah kami lamaran itu bisa berarti tunangan aja atau bayar tukon (duh nggak ngerti bahasa Indonesianya). Tunangan ini biasanya dilakukan untuk mengikat perempuan, tetapi acara pernikahan masih jauh atau setidaknya setahun kemudian. Sementara bayar tukon itu lebih serius karena pihak lelaki sudah membawa seserahan dan ada juga yang sudah membawa mahar untuk memastikan kalau perempuan tersebut akan dinikahi secepatnya.

Soal prosesi ini mungkin akan saya bahas terpisah karena kali ini saya cuma akan membahas secara garis besar soal menyiapkan seserahan. Supaya kami lebih santai, seserahan disiapkan sejak Januari hingga awal April sebelum lamaran diselenggarakan. Saya yang memang berjiwa hemat ini getol mencari kebutuhan seserahan dengan harga diskon atau best price. Berhubung belanja dilakukan bertahap, jadi hampir tiap bulan kami shopping dan saya memilih di tanggal-tanggal diskonan bertebaran. 


Soal seserahan isinya apa saja juga akan saya bahas di postingan terpisah. Soalnya, bahasan ini pasti akan panjang dan saya paham banyak calon pengantin yang bingung memilih barang apa saja untuk seserahan. Kalau saya pribadi sejak awal sudah bilang ke pasangan untuk membeli barang-barang yang bener-bener akan  saya pakai untuk menghindari sesuatu yang mubadzir. Di samping itu, saya nggak menodong dia untuk membeli produk-produk yang semuanya branded, tetapi belum pernah saya pakai. Soalnya, saya yakin sih dia bakalan memberikan apapun itu kalau ada rejeki jadi nggak perlu "mumpung bisa minta ini itu untuk lamaran nih" gitu. Tapi ini pikiran pribadi saya sendiri ya, setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang hal ini. 

Cincin dan dekorasinya


Survey cincin memang yang pertama kali kami lakukan, tetapi kami membelinya justru mendekati hari H lamaran. Cincin lamaran ini hanya satu karena Dhimas nggak pakai cincin sebelum menikah. Ini juga request dari bapaknya. Alasannya, laki-laki sebaiknya nggak pakai perhiasan. Tapi Dhimas ingin memakainya, jadi dia sengaja pesan untuk cincin nikah aja. 

Cincin lamaran saya sama dengan cincin nikah. Kami sendiri yang memutuskan cincin lamaran sama dengan cincin nikah. Modelnya sebenarnya standar karena saya enggan memesan model baru dan model yang bagus-bagus mostly kebesaran atau kekecilan. Jadi saya pilih yang paling mendekati selera saya dan kalau dibuat versi untuk laki-lakinya nggak jauh berbeda. 


Setelah membeli cincin, waktu sudah mepet untuk saya membeli ring bearer atau tempat cincin kekinian. Lucky me to have Tita! Tita ini teman kampus saya, dia nggak dateng pas acara lamaran saya, tetapi dia membantu saya membuat ring bearer. Dia mendekornya sendiri dan meminjamkan ke saya. Sungguh, saya terharu dibuatnya!

Menyusun konsep lamaran 


Kami menginginkan prosesi lamaran yang homey walaupun nggak di rumah. Suasana yang nggak kaku dan ramah anak-anak biar saudara yang ngajak anak kecil nggak kerepotan anaknya rewel. Nah, atas pertimbangan itu kami memilih venue Balkondes Tuksongo. Karena memiliki beberapa spot yang bagus, jadi kami bisa meminimalisir biaya dekorasi dan photo booth sudah ada dengan sendirinya! 

Ngomong-ngomong soal dekorasi, sebenarnya tidak sesuai ekspektasi kami karena kain yang kami sewa sebagai background kurang tebal. Namun, kami nggak mau fokus pada negativity. Jadi daripada stres karena tidak sesuai harapan, mending kami enjoy the moment aja! 

Oiya, untuk dekorasi dan penataan ruang untuk lamaran ini kami lakukan sendiri lho! Kami nggak menyewa jasa dekorasi karena orang tua kurang setuju. Alasannya sederhana, supaya nggak dikira mau di-akad-in sekalian! Kocak kan? Maklum kami tinggal di kampung jadi kalau dekorasinya heboh takutnya malah jadi omongan. Ya, walaupun kami nggak peduli omongan orang. Tapi, nggak ada salahnya mengikuti saran orang tua. 

Perihal dekorasi, kami menggarapnya sendiri dibantu oleh adik saya dan beberapa orang yang menjadi petugas pengelola venue. Bantuan dari pengelola venue juga free. Rejeki mau nikah nih!

Sebenarnya soal menyusun konsep lamaran ini cukup melelahkan. Bukan karena kami beda pendapat, tapi karena event yang kami pikir kecil ini ternyata rumit juga! Jadi, temen-temen ingin tahu cerita behind the scene saat kami mengonsep lamaran ini nggak? Kalau iya, saya akan mempertimbangkannya untuk menuliskan di postingan terpisah supaya lebih detil!

Memilih menu makanan


Kami setuju kalau makanan itu menjadi poin yang sangat penting dalam acara lamaran ini. Kami pun melakukan test food untuk menu-menu yang ditawarkan oleh pihak venue. Alhamdulillah, rasanya pas banget dengan selera kami dan keluarga. Selain mengambil paket makanan dari venue, ibu saya juga memasak beberapa menu yang dihidangkan saat acara lamaran. Untungnya venue tidak mengenakan biaya tambahan kalau kami membawa makanan dari luar. Justru mereka dengan sukarela meminjamkan peralatan untuk display makanannya. Ini nih yang bikin saya dan Dhimas jatuh cinta sama venue ini dan berniat memakainya untuk resepsi. Ini juga yang bikin kami yakin untuk menggelar pernikahan di Magelang. Yes, hospitality pengelola venue ini memang juara.

Menentukan waktu lamaran


Dalam menyiapkan lamaran sendiri, kami sudah sepakat untuk menggelar acara saat weekend dan waktunya sore hari. Awalnya ingin mulai setelah sholat ashar atau sekitar pukul 15.00 WIB. Tapi pihak keluarga ada yang nggak setuju dan minta dimajuin pukul 13.00 WIB. Kami juga mengiyakan usulan orang tua tersebut. Soalnya, kami dari awal sudah sepakat untuk menganggap acara ini bukan hajatan kami pribadi. Namun, ini adalah acara keluarga jadi keluarga yang hadir harus nyaman dan menikmati momennya bersama kami. 

Untung dimajuin karena acara molor satu jam. Oh iya, biar pun molor kami nggak dikenai biaya tambahan oleh pengelola venue. Memang nih, juara banget! Acara pun dimulai pukul 14.00 WIB dan selesai sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah acara inti selesai, tamu-tamu menikmati sajian makanan yang ada sambil menikmati suasana sore yang cerah kala itu. 

Beruntung matahari sudah berangsur turun sehingga tidak begitu panas dan cuaca sangat cerah. Walaupun keluarga kami tinggal di desa, tetapi pemandangan di venue waktu itu memang bikin nyaman. Langit biru cerah dihiasi oleh arak-arakan awan putih dan semburat kekuningan dari cahaya matahari berpadu harmonis dengan warna hijau dari rerumputan dan sawah di hadapan venue. Beberapa orang yang lihat postingan foto atau insta-story kami di Instagram mengira kami mengadakan lamaran di Pelataran Borobudur. Padahal nggak, tapi bisa dibilang ini venue versi murahnya Pelataran Borobudur. Dari tempat tamu menikmati makanan juga bisa melihat puncak tertinggi Candi Borobudur. Senang sekali melihat keluarga yang hadir di acara kami membaur dengan akrab dan menikmati suasana sore itu! Rasanya puas dan lupa kalau ada dekorasi yang nggak sesuai ekspektasi. 

Memilih vendor dokumentasi


Kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi nih nyenengin karena banyak temen kami di kampus yang talented dan bisa diandalkan. Misalnya untuk vendor dokumentasi momen lamaran ini. Saya memilih untuk mengandalkan Axalia Creative yang sudah sekitar 4 kali bekerja sama dengan saya untuk menangani kebutuhan dokumentasi event kantor. Kebetulan orang di balik vendor ini adalah teman kami di kampus. Bahkan mereka sudah paham apa yang saya mau dan saya suka. Inisiatifnya pun tinggi dan harganya terjangkau! 

Jadi, semua foto tentang lamaran kami diambil oleh Axalia Creative. Sebenarnya ada video juga tetapi belum selesai editing. Soon akan saya share juga hasil videonya! Saya juga sudah nggak sabar untuk sharing ke temen-temen. Barangkali ada pembaca dari Jogja yang juga ingin menggunakan jasa mereka. 

Menentukan busana dan makeup


Saya nih sebenarnya detil banget, tapi lagi-lagi karena orangnya ogah ribet dan berusaha tidak terlalu perfeksionis (karena perfeksionis menyiksa, terutama kalau nggak sesuai ekspektasi), jadi masalah baju yang kami pakai itu saya pikirin banget. Saya dan Dhimas memutuskan membuat baju kembaran, yah mainstream tapi nggak masalah.

Kami memilih kain batik warna hitam dengan pattern warna gold. Dhimas menjadikannya kemeja lengan panjang, sementara saya membuat skirt model sarung yang dipadukan dengan atasan kebaya modern. Soal fashion lamaran ini juga akan saya bahas sendiri. Apalagi saya punya badan petite yang cukup berisi, jadi ada beberapa poin yang saya perhatikan saat membuat setelah baju untuk momen istimewa ini.

Selain masalah baju, saya juga detil untuk hal makeup. Sejak awal saya sudah niat untuk makeup sendiri. Namun, ada chaos karena saya menangani semua hal dari persiapan hingga dekorasi lamaran nyaris sendiri, jadi saya telat makeup. Alhasil makeup saya ala kadarnya banget dan kurang rapih. Plus, ada kantong mata yang tidak tercover sempurna. It's okay, itu kesalahan saya karena malam sebelum hari H saya begadang sampai jam 2 dini hari untuk merangkai bunga sendiri!

Menyiapkan buket bunga


Buket bunga untuk lamaran itu nggak wajib, tapi saya pengen dan Dhimas kelupaan pesen. Yah, karena saya sudah mantab mau menikah dengan laki-laki yang pelupa ini, jadi saya nggak mau ambil pusing soal bunga. Saya pun memilih untuk merangkai sendiri dan selesai saya rangkai sekitar pukul 1 dini hari. Tapi, keesokan harinya bunga mawar dalam buket itu rontok karena kepanasan dan sepertinya tergencet bunga lain saat dibawa ke venue. Saya sempat sebel dan rasanya jengkel karena sudah bela-belain merangkainya sendiri hingga dini hari dan malah rusak. 

Temen saya yang juga fotografer untuk acara lamaran ini langsung sigap menghibur dan fokus cari solusi. Mereka berdua berinisiatif nyariin saya buket bunga pengganti walaupun sayang sekali nggak dapet karena di sekitar venue memang nggak ada yang jualan bunga. Sedih? Saya sudah biasa saja. 

Hari itu saya berulang kali memberi sugesti pada diri sendiri untuk tenang menghadapi semua dan mengingat-ingat apa esensi acara lamaran ini. Jadi, saya benar-benar bisa fokus ke hal positif dan mengikhlaskan segala sesuatu yang kurang sesuai dengan ekspektasi saya. Untungnya saya bisa melakukannya!

Mengundang teman dekat yang pasti ikutan happy


Menyiapkan lamaran sendiri itu stressful, saya nggak memungkiri hal tersebut. Oleh karena itu, buat saya yang nggak punya saudara sepupu sepantaran dan nggak punya saudara yang dekat secara personal, saya memilih untuk mengundang beberapa teman dekat yang memang tahu perjalanan saya dan Dhimas bisa sampai di titik ini. Salah satu teman yang saya undang itu adalah Mbak Dindit. Dia bahkan ngebantuin ibu saya dandan walau alakadarnya banget. Saat saya kebingungan dan nerveous, dia juga ada. I am lucky to have her on my engagement day!

Mbak dindit-erny-dhimas
Teman kuliah, saksi kami memulai hubungan ini dari awal

Secara garis besar, beberapa poin tersebut adalah poin-poin penting yang saya lakukan dalam menyiapkan lamaran sendiri. Acara lamaran ini menurut saya cocok untuk kamu yang punya budget terbatas. Oleh karena itu, konsepnya sederhana dan nggak mewah sama sekali. Justru mewahnya itu saat saya tahu para tamu enjoy the moment di acara ini. Kalau kamu sedang merencanakan lamaran dan ingin menyiapkannya sendiri, saya punya pesan untuk temen-temen supaya perbanyak stok sabar dan energinya! You can do it, if you believe on yourself. Plus, pastikan pasanganmu mendukung ya. Lamaran bukan acara diri sendiri. So, this is the end of cerita menyiapkan lamaran sendiri. Setelah ini saya bakalan cerita tentang detilnya. See you!


  • Share:

You Might Also Like

11 komentar

  1. Saya baru ini nih blogwalking dan nemu blog ini. Abis baca rasanya kok kepikiran pertama riweuhnya tapi puas di akhir acara. Kan jadi pingin ntar ngurus sendiri jg hihi. Boleh dong ya,,share lebih detilnya lagi mbak :) saya penasaran hihii. Infonya bagus sekali lho mbak :)


    dari Lita di Jember, Jawa Timur, yg lagi menunggu kapan dilamar wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau berguna. Saya nulis ini krn waktu persiapan lamaran saya juga cari2 referensi. Terima kasih dan pasti bakalan saya share detil persiapannya. Semoga cepet dilamar juga mba

      Hapus
  2. aku baru tau lhooo ibumu juga masak sendiri pas lamaran itu. bhahahak. 💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha dalam upaya biar ibu tetap merasa terlibat mpit

      Hapus
  3. Wah capeknya hilang begitu puas sama kelancaran acara. Seneng ya er karena semua terkonsep sendiri. Semoga kamu sehat terus dan lancar segala urusan yaaa... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Yosa maturnuwun dan amin semoga lancar sampai kelar

      Hapus
  4. Sebenarnya ini cukup bikin capek dan ribet tapi...enaknya kita bisa mewujudkan sesuai keinginan kita sendiri. Nice review

    www.coolatmoshpeer.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... Capek tp lihat orang hepi walau ada banyak kekurangan uda bikij aku bersyukur bgt

      Hapus
  5. rasanya pengen bilang selamat terus... hehe XD
    aku subscribe update-an love story-nya lebih lanjut...memantau tips untuk persiapan dilamar XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha makasih ya bell. Aku pasti nulisin detilnya sih, soalnya sambil inget2 momen sulit nyiapin biar pas ngambekan inget wkwk

      Hapus
  6. wah selamat yahh, saya juga dulu persiapan sendiri nikahnya (lamaran cuma acara syukuran biasa di rumah)..
    jadi inget dulu emang survei apa2 itu ngabisin tenaga, udah dapet yang bagus pengen cari lagi yang lebih bagus.. semoga bisa menjadi inspirasi bagi yg lain dlm mempersiapkan lamaran/pernikahan

    BalasHapus