Perjalanan Menuju Sarjana | 6 Wisuda

By Erny Kurniawati - 14.34.00



Sebagian orang mungkin bilang saya "telat lulus kuliah" karena baru lulus di tahun ke-lima. Namun bagi saya, setelah direnungi dan disadari dengan sesadar-sadarnya, telat satu tahun empat bulan itu bukan apa-apa dibandingkan dengan banyaknya life lesson yang saya dapatkan. Asli, saya sering sedih kenapa pernah terlalu fokus untuk mengeluh. Di sisi lain, perjuangan menuju lulus yang pernah saya tulis di blog ini dalam beberapa series itu memang menjadi ujian tersendiri bagi saya. Tapi sesuai janji-Nya, ujian itu ada agar kita naik kelas, dan semoga "telat lulus" ini benar-benar membantu saya untuk bisa naik kelas. Setelah tulisan kelima saya post lebih dari satu tahun yang lalu, kali ini saya harus bernapas lega karena ini akan menjadi tulisan terakhir dari Perjalanan Menuju Sarjana. Saya mau berbagi cerita dan point of view tentang apa yang saya sebut 'life lesson' sebelumnya yang saya dapat selama perjalanan ini. 


About Mixed Feeling, Mixed Mood, & How I Deal with It


Sebelum menulis postingan ini, saya membaca ulang kelima tulisan tentang Perjalanan Menuju Sarjana. Saya senyum-senyum sendiri karena ternyata di tengah perasaan kalut, putus asa, semangat, bersyukur, dan burn out yang saya alami selama perjalanan ini, pada akhirnya membawa saya sampai di titik ini. Lulus tanpa ada apa pun yang kurang. Yang kurang mungkin cuma kurang cepet aja haha. 

Pelajaran hidup pertama yang saya dapetin dari perjalanan ini adalah mixed feeling, mixed mood, dan how I deal with it! Proses mengenal diri sendiri itu terjadi terus menerus dan saya semakin mengenal diri sendiri dari perjalanan ini. Kalau temen-temen ngikutin, mungkin ada yang bertanya kenapa ada jeda panjang antara Perjalanan Menuju Sarjana 5 ke 6 ini. Alasannya, saat itu saya merasa berkubang di perasaan negatif yang berlebih dan saya merasa perlu untuk nggak curhat-curhat lagi di sini sampai perasaan saya lebih baik. Saya memilih untuk fokus memupuk semangat biar bisa segera lulus dan I can do it. Alhamdulillah. 

Itu salah satu contoh saya mengenali perasaan negatif yang ada dan berusaha untuk deal dengan kondisi tersebut.  

Dalam perjalanan yang penuh ups & down ini, saya juga berterima kasih banget kalau Dhimas benar-benar selalu ada di sana. Sekalipun pernah dalam kondisi LDR sekalipun, tapi  saya merasa dia benar-benar bisa menghandle saya di segala situasi. Inget sekali di bulan Oktober 2017, saya sempat down banget karena target lulus meleset. Saya nangis berhari-hari, saya merasa bodoh, saya putus semangat, saya marah-marah sendiri, but he still with me. Nggak sok tahu nyuruh saya nerima atau banyak bersyukur seperti orang-orang lainnya. Dia beneran ada mendengarkan setiap keluhan dan pernah ikut menangis karena merasa nggak tahu harus berbuat apa. Tapi itu meaningful untuk saya. Kalau kamu membaca series tentang persiapan wedding yang saya tulis, maka hal ini salah satu alasan saya mantab untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. 


Don't compare to others


Untuk nggak membandingkan diri kita dengan orang lain itu nggak semudah membaca quote yang bertebaran di Pinterest. Asli, don't compare yourself to others itu sulit dan saya belajar banget dari perjalanan menuju sarjana ini. Saya bersyukur bisa sampai di titik, "hidup saya dan teman-teman saya itu berbeda, terus kenapa harus membandingkannya?" dan ini berlaku saat saya menyiapkan mental dan pikiran untuk menikah! See, ternyata ujian di perjalanan menuju sarjana itu benar-benar besar artinya untuk saya. Pengaruhnya beneran saya rasakan dan karena itu, saya nggak menyesal nggak dapet samir cumlaude karena lulus di atas lima tahun. Saya anggap itu adalah bayaran untuk life lesson selama perjalanan ini.

Lebih Menghargai Hidup Orang Lain


Terlalu sempit kalau kita menghargai hidup orang lain dari kacamata dia lulus dengan status apa? Dia lulus tepat waktu atau tidak? Dia kerja di kantor bergengsi atau tidak, dan soon.  Dulu saya pernah hidup dengan kacamata itu. Kalau seharusnya semua orang itu menghargai waktu dengan do the best seperti lulus harus tepat waktu, kerja di tempat keren, nilai-nilai kuliah mentereng, dan sebagainya. Lalu saya ditegur oleh-Nya agar melihat orang tidak hanya dengan standar itu.

Saya kembali disadarkan kalau jalan hidup setiap orang itu tidak sama. Setiap orang punya masalah hidup sendiri-sendiri, perjuangan hidup yang berbeda-beda, dan ujian hidup yang tidak sama. Jadi, apa pun pilihan hidup orang lain semestinya kita bisa lebih menghargainya. Sesimple nggak nanyain "kapan lulus" terus menerus. Nggak bertanya "kapan menikah setiap waktu". Dan sebagainya. Saya belajar banyak soal ini dalam perjalanan menuju sarjana. Belajar untuk sebisa mungkin jangan menjadi orang dengan mulut atau jari yang bitter, mudah membuat orang lain tersinggung atau down. 


Sebenarnya masih ada banyak pelajaran hidup lainnya yang saya dapetin selama proses menuju sarjana. Tapi karena saking banyaknya, saya hanya bisa sharing tiga hal itu. Berharap banget temen-temen yang sedang down karena perjalanan yang sama selalu bisa menemukan cara untuk kembali semangat. Terus, saya juga mau sharing tentang hari kelulusan dan wisuda beberapa waktu lalu. Asli, saya nggak sabar ingin sharing, tapi baru punya waktu sekarang. 





Saya sudah lulus pada Januari 2018 kemarin, tapi baru diwisuda pada minggu ketiga Mei 2018 kemarin. Rasanya gimana? Lega pasti, tapi nggak gimana-gimana. Pikiran untuk lanjut jenjang S2 terus menerus memenuhi pikiran saya. Jadi, saya nggak kapok dengan perjalanan menuju sarjana yang berliku-liku itu. Buktinya, saya masih punya keinginan nih untuk S2 haha.

Saya diwisuda di bulan puasa dengan ditemani kedua orang tua dan Dhimas. Persis seperti saat saya dulu masuk UGM. Bedanya, pas diwisuda ada kedua adek saya juga. Walaupun saya terlihat biasa saja nggak excited amat, tapi jujur saya bahagia lho karena melihat ibu senyum-senyum bahagia dan excited dari beberapa hari sebelumnya. 


Saat wisuda kemarin saya juga makeup sendiri dan makeup in ibu dikit-dikit. Sebenarnya hasil makeup saya buat wisuda kemarin tak sesuai dengan ekspektasi. Tapi saya nggak mempermasalahkannya karena rasa lega dan senang sudah memenuhi hati dan pikiran. 


  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Erny, selamat buat wisudanya! Hargai setiap prosesnya sebagai pengalaman belajar, yang tentunya akan kepakai untuk kerja nanti.

    BalasHapus