Wedding Preparation | Hal-Hal yang Dibahas Sebelum Menikah 2

By Erny Kurniawati - 00.59.00


Lagi-lagi tulisan terakhir tentang wedding preparation dapet tanggapan positif. Saya seneng banget karena ada yang mention di twitter, bantu share, komen, dan ngomong langsung ke saya kalau tulisan itu bermanfaat. Sungguh, membuat konten yang bisa membantu temen-temen itu bikin saya semangat banget untuk nulis lagi. Buktinya, weekend ini saya melanjutkan postingan kedua tentang hal-hal yang dibahas sebelum menikah. Biar temen-temen relate, kamu bisa membaca terlebih dulu tulisan terntang hal-hal yang dibahas sebelum menikah 1. Kalau sudah membacanya, yuk kita lanjutnya sesi sharingnya! 

Masih banyak hal yang saya dan Dhimas bahas sejak kami memutuskan untuk serius dan berani untuk menikah. Selain kelima hal yang saya bahas pada postingan pertama, ini dia beberapa bahasan kami yang mungkin bisa, menjadi referensi bahasan temen-temen dengan pasangan saat menyiapkan mental berumah tangga. 

1. Sayang, kita mau tinggal di mana? 


Poin pertama ini adalah hal yang kami bahas sejak rencana menikah belum muncul. Kami sudah berandai-andai kalau suatu hari nanti hari pernikahan itu tiba, kita sudah punya bayangan mau tinggal di mana. Pernah membayangkan untuk tinggal di kontrakan, tetapi alhamdulillah rencana tinggal di kontrakan itu berubah menjadi tinggal di rumah. Alhamdulillah kedua, insha Alloh setelah menikah kami langsung tinggal berdua. 

Sebelum sampai pada titik tersebut, menurut saya diskusi dengan pasangan dengan beragam pertimbangan tentang tinggal di mana setelah menikah itu jadi hal yang sangat penting. Banyak pasangan muda yang berpedoman untuk nggak tinggal lagi bareng ortu atau mertua. Namun, nggak sedikit yang kondisinya memaksa mereka untuk tinggal bersama. Ada pula yang memutuskan untuk langsung KPR, kos, atau mengontrak. Semua pilihan itu kembali ke masing-masing pasangan karena yang penting keduanya sepakat. 

Setelah mencapai kesepakatan mau tinggal di mana, selanjutnya kami juga bikin kesepakatan soal home decor. Hal tersebut sangat memudahkan kami dalam mewujudkan rumah impian. Nggak ada tuh (calon) suami yang males-malesan diajak hunting isi rumah. Soalnya, dia sudah dilibatkan sejak awal jadi ikutan excited. Saat ini saya dan Dhimas juga sedang seneng-senengnya nyiapin tempat tinggal. Insha Alloh didominasi warna light grey, blue, & white.

2.  Perhatian kepada orang tua


Bener banget kalau menikah itu nggak cuma sama suami atau istri aja, tetapi sepaket dengan keluarganya. Nah, salah satu yang krusial itu tentang perhatian kepada orang tua. Saya merasakan banget kalau keluarga orang tua saya dengan orang tua Dhimas itu berbeda. Orang tua kami juga punya sikap, cara pandang, cara komunikasi, dan cara menunjukkan perhatian yang berbeda. 

Sejak kami memutuskan buat menikah, kami mendiskusikan tentang wujud perhatian kepada masing-masing orang tua kami dengan lebih intens. Kapan berkunjung, gimana mewujudkan perhatian, dan bagaimana kami mengakrabkan mereka semua. 

Saya merasa beruntung banget karena Dhimas sangat memahami bagaimana kondisi orang tua saya yang divorced. Karena sikap Dhimas yang bikin saya nyaman dan mau memberikan perhatiannya, saya pun jadi ringan hati untuk benar-benar menganggap kedua orang tuanya sebagai orang tua saya. And I'm beyond happy soalnya sejauh ini (4 tahun) kenal calon mertua, beliau sangat kooperatif dalam mendukung hubungan kami, karir kami, masa depan kami, bahkan pendidikan kami. Oiya, saat saya nyeletuk pengen sekolah lagi setelah menikah, beliau juga mendukung banget. Dan itu bikin saya lega setengah mati!

Selain itu, kami juga sudah membahas soal bagaimana kalau memberi uang kepada orang tua atau adik/kakak. Hal-hal semacam ini menurut saya penting banget dibahas sebelum menikah karena nggak sedikit juga pasangan suami istri bertengkar karena masalah tersebut. 


3. Entertainment & Hobi

Saya dan Dhimas juga membahas soal hiburan dan hobi versi masing-masing. Misalnya tentang traveling. Traveling seperti apa yang bikin saya nyaman dan traveling seperti apa yang membuat dia nyaman. Untungnya, bab traveling ini kami punya pandangan yang sama. Kami juga sempat membahas soal konsep solo traveling setelah menikah. Dan, kami sepakat kalau nggak masalah sesekali traveling sendiri. Tapi, kalau mungkin berdua ya sebisa mungkin bersama. 

Soal entertainment ini juga berhubungan sama budget. So, kami pun membahas kalau hiburan bulanan itu diambil dari berapa persen penghasilan kami setiap bulannya? Kalau perlu traveling, kami butuh nabung berapa perbulannya. 

Selain itu, hiburan bagi kami bisa juga hobi. Misalnya Dhimas yang hobi mengoleksi gundam. Otomatis bakal butuh biaya dan kami juga membuat kesepakatan soal ini. Personally, saya nggak mempermasalahkan soal hobinya yang cukup mahal itu. Kami sudah sama-sama sepakat yang penting kebutuhan primer dan nabung udah terpenuhi baru boleh ngeluarin dana lebih untuk hobi. Dia pun demikian mendukung saya yang hobi mainan makeup. So, kalau ada temen kuliah atau temen kami yang selama ini mikir kok Erny nggak ngelarang Dhimas mainan gundam, ya alasannya karena dia nggak ngelarang saya mainan makeup. Haha. 



4. Menu makanan


Mungkin ada yang mengernyitkan dahi membaca poin keempat ini. Tapi, serius saya dan Dhimas sering membahas ini walaupun dengan santai. Soal menu makanan setelah menikah itu bagi kami krusial. Apalagi, you're what you eat. Setelah menikah nanti kami sudah sepakat kalau memasak itu urusan saya. Tapi, saya request agar dia tetap makan sayur yang saya masak. Nggak tahu kenapa, rasanya banyak laki-laki males makan sayur, termasuk dia. Jadi, hal ini saya bahas dan saya pun alhamdulillah sudah khatam sama makanan yang dia suka, menu yang tidak dia suka, kebiasaannya yang suka makan nasi dingin, dll. 


Kami juga sepakat kalau sesekali beli makanan di luar nggak jadi masalah. Misal sedang bosen masak sendiri, males, dan sebagainya. Hal remeh seperti menu makanan tuh tetep kami anggap penting. Mungkin bagi temen-temen yang mau menikah juga bisa membahas ini dengan pasangan. 

5. Berteman dengan lawan jenis


Tidak semua pasangan memperbolehkan suami atau istrinya berteman dengan lawan jenis. Ada yang ngebolehin, tapi penuh curiga. Ada yang kalau pasangannya kemana-mana sama temennya (walaupun sesama jenis) tetap sebisa mungkin ikut. Kalau kami sebenarnya nggak masalah masing-masing berteman dengan lawan jenis. Asalkan tahu batasannya. Misalnya, nggak boleh curhat soal kondisi rumah tangga sama teman lawan jenis karena berpeluang bikin masalah makin runyam. Solusinya, kami berkomitmen untuk jujur satu sama lain kalau ada masalah atau ada hal yang bikin nggak nyaman. 


6. Marahan dan baikan


Namanya hubungan suami istri udah pasti bakalan ada masa marahan dan baikan. Walaupun selama 6 tahun ini kami nggak pernah marahan. Tapi, kami tetap membahas bagaimana kalau suatu hari nanti kami marahan dan bagaimana caranya untuk baikan. 

Firstly, saya cerita ke Dhimas sejak beberapa waktu lalu kalau saya marah itu biasanya diam. Caranya ya cukup dia minta maaf dan biarkan saya sejenak. Saya selalu mengendalikan marah dengan batasan waktu. Selama ini sih berhasil dan berharap cara itu juga bisa diterapkan saat berumah tangga nanti. 

Lalu Dhimas juga mengungkapkan kepada saya kalau dia marah dia bakalan tidur dan biasanya berusaha semaksimal mungkin untuk 'udah selesai' marahnya saat bangun. Jadi, kalau dia tidur karena marah jangan dibangunkan, kecuali untuk sholat. 

Selain cara tersebut, banyak hal lain tentang marahan ala kami dan cara baikan yang kami bahas. Harapannya, saat kami marahan nanti kami nggak perlu waktu lama untuk menyadari kesalahan dan bisa bersikap untuk gantian mengalah. Poin pentingnya, baik saya maupun Dhimas sudah sepakat kalau selingkuh adalah hal yang paling tidak kami toleransi. Komitmen ini benar-benar kami ucapin jadi bukan hanya 'tau sama tau, tapi diem aja'. 

7. Tentang poligami dan menikah lagi


Iya, nggak salah baca kok! Saya dan Dhimas membahas juga tentang poligami dan menikah lagi. Soal poligami, saya sendiri termasuk perempuan yang mending bercerai ketimbang dimadu. Ya, saya tahu kalau saya nggak bakalan ikhlas dimadu seumur hidup, jadi saya jujur hal ini dari awal. Mungkin temen-temen ada yang nggak setuju dengan pendapat saya. Jadi, cukup hormati pilihan saya aja ya. Untungnya, sejak awal Dhimas juga sudah state ke saya kalau dia nggak pengen menikah lebih dari sekali. Apalagi poligami. Alasannya, karena bagi dia menikah itu hanya sekali. Jadi, poligami nggak ada di dalam pikirannya. 

Kedua, soal menikah lagi. Menikah lagi di sini maksudnya kalau salah satu dari kami ada yang meninggal duluan. Duh asli sedih pas nulis ini, berasa inget dosa! Kami juga membahas bagaimana kalau saya yang meninggal duluan dan bagaimana kalau dia yang meninggal duluan. Mungkin terlalu jauh obrolan kami. Tapi, hal ini penting untuk kami ketahui dari saat ini. 



Kurang lebih, ada hal-hal itulah yang perlu juga dibahas sebelum menikah. Untuk kami kunci hubungan sehat itu komunikasi, makanya kami membahas hal-hal tersebut sebelum menikah. Kami berharap banget agar semua jelas sejak awal walaupun saat membangun rumah tangga nanti bakal banyak kejutan. Sekali lagi, semoga tulisan hal-hal yang dibahas sebelum menikah 2 ini memberi pandangan baru untuk teman-teman dan ada manfaatnya. See you on the next wedding preparation post!


Credit pic: unsplash.com & doc. pri.

  • Share:

You Might Also Like

10 komentar

  1. Baca postingan ini, jadi ngerti hal apa aja yang harus dibahas sebelum menikah. Aku kira cuma masalah tempat tinggal. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh, kalau orang lain bisa jadi cuma rumah aja yg dibahas atau justru bahas lebih banyak dari kami. kalau kami bahasannya ya ini mbak hehe

      Hapus
  2. Satu hal : realistis. Biasanya berpikir menikah itu bahagia kayak di negeri dongeng, atau sekedar "ena enanya halal". Makasih erny udah nulis soal ini, mau sharing obrolan pribadi kalian berdua. Jadi excited nyalamin kalian berdua sebagai pasangan sah 😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha ena-ena mah berapa menit bel, sisanya mikirin gimana biar hidup layak wakaka.... jadi kudu realistis donk. Ga sabar juga ketemu!

      Hapus
  3. aduuhh erny bahasannya beraaat... but aku setuju sih yang point entertainment dan hoi sama traveling, karna daku aja yang masih pacaran suka ribut bab traveling... hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, sesekali share bukan blush on or skin care haha. Iya bener, soal entertainment tuh sering dianggep tersier juga. Makanya, kami dari awal ngebahas dan jadiin ini salah satu kebutuhan primer haha

      Hapus
  4. Udah baca kedua partnya!
    ternyata kita se-tim yang sama2 ngga suka setrika karena itu wasting time hahaha
    Suka banget sama artikelnyaaaa, thanks for sharing erny!
    Tapi jujur aku malah sedih bacanya, soalnya sampai sekarang pun aku gatau kapan mau nikahnya (padahal ya pengen) wkwkwkwk

    ditunggu sharing2 berikutnya! <3

    Love,
    Deniathly

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih nia udah baca hihi. Semoga nih bisa ngasih gambaran dikit ya haha. Barangkali kamu mau mengawali dengan ngajak ngobrol begini hehe. Tak doain segera ya karena calonnya ada! :D

      Hapus
  5. Perkara tempat tinggal emang krusial banget ya Erny, aku sama cowoku juga udh memikirkannya dari jaman dulum jauh2 sebelum mikirin persiapan merit kami udh mengusahakan untuk tempat tinggal dulu hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget... Mbak! Pesta pernikahan kan hari itu aja. Tp afternya itukan...

      Hapus