Wedding Preparation | Hal-Hal yang Dibahas Sebelum Menikah 1

By Erny Kurniawati - 10.42.00


Respon temen-temen yang membaca postingan tentang wedding di blog ini benar-benar di luar ekspektasi! Nggak nyangka juga kalau beberapa temen in real life jadi menghubungi saya buat sekadar tukar pikiran gimana nyiapin pernikahan. Saya sebenarnya sering kikuk karena saya pun belum perpengalaman dan masih di fase menyiapkan hari bahagia tersebut. Tapi, saya yakin untuk sharing sebanyak mungkin dengan siapapun tentang persiapan menikah ala saya. Saya pun seperti kalian kok, banyak bingungnya dan nggak jarang tiba-tiba stres. Biar pembukaan pada postingan kali ini nggak kemana-mana, langsung aja ya saya mau sharing ke temen-temen tentang hal-hal yang dibahas sebelum menikah. Ini bukan untuk dijadikan pedoman, tetapi ini hanya gambaran salah satu wedding preparation ala saya dan Dhimas. Bukan cuma gedung, catering, baju, dan MUA aja yang penting. Lebih dari itu, hal-hal berikut ini kami bahas karena kami anggap sebagai persiapan mental dan saling terbuka. So, here we go!


1. Terbuka soal finansial

Saya sadar betul tidak semua pasangan bisa seterbuka kami dalam hal finansial. Bukan cuma satu dua kali, tapi berkali-kali dicurhatin temen yang sudah mulai serius ke arah pernikahan tapi masih enggan untuk membahas soal finansial. Mengingat finansial memang menjadi penyebab pertama perceraian, jadi saya dan pasangan langsung intens membahas soal finansial di awal-awal kami menyiapkan pernikahan.

Soal finansial yang kami bahas memang cukup banyak. Jadinya kalau makan bareng atau ketemua bareng kita lebih seperti partner meeting gitu. Pertama, kami bahas soal penghasilan kami setiap bulannya berapa. Sebenarnya saya dan Dhimas sudah sama-sama tahu, tapi nggak tahu angka detil dan fasilitas masing-masing kantor (re: asuransi dll). 

Dari titik ini, kami berdua membahas lebih lanjut lagi tentang kebutuhan pokok yang harus ditanggung setelah menikah nanti. Kebutuhan pokok ala kami adalah mencukupi budget makan yang bergizi, ongkos transportasi, biaya listrik bulanan, biaya nyetrika (yes, saya sudah bilang ke Dhimas kalau sudah menikah tetep nggak mau nyetrika. Buat saya itu wasting time. Mending waktunya dipakai untuk kerja atau quality time), biaya internet, angsuran, tabungan darurat, tabungan Idul Fitri, dan investasi. Secara garis besar, itu pos-pos yang kami breakdown bareng. Kami juga breakdown dalam bentuk angka. Intinya, kami menerapkan 'face the number'. Berapapun angkanya kami harus siap. Kan kami sudah siap menikah nih, masak ngomongin duit aja masih tabu? Pikir kami sih begitu ya. 

Berdasarkan angka-angka yang ada, kami lalu diskusi tentang siapa yang membayar ini dan itu saat sudah berumah tangga nanti. Oiya, saya juga sudah state ke Dhimas kalau penghasilan istri maupun suami itu milik bersama. Maksudnya, saya nggak menekankan ke dia kalau uang suami itu uang istri dan uang istri itu uang istri. Lagi-lagi bagi saya nggak setuju dengan konsep itu karena kan kalau udah menikah, banyak keputusan hidup itu diambil bersama. 

Lalu, banyak yang nanya kepada saya, apakah saya yang memutuskan soal uang suami untuk apa dan uang istri itu untuk apa. Jawabannya, nggak. Kami memutuskan bersama sambil ngobrol tukar pendapat dan juga banyak pertimbangan. Tapi karena saya lebih extrovert ketimbang si calon suami, saya jadi sering dikira dominan dalam segala hal. Haha. Padahal nggak juga.


Bahasan soal finansial ini panjang banget sih karena kami juga bahas walau sekilas tentang life plan sampai beberapa tahun ke depan. Cuma saya belum bisa share sekarang. So, move ke hal kedua yang dibahas sebelum menikah versi kami, yuk! 

2. Tentang mimpi masing-masing


Kami berdua menyadari betul kalau kami ingin menikah, tapi tidak ingin berada di dalam ikatan yang membuat kami nggak bisa mengejar mimpi kami. Jadi, sejak belum membahas soal menikah, kami tuh sudah sering membahas tentang mimpi masing-masing. Percayalah, mimpi ini selalu berubah-ubah dan saat awal tahun ini kami mantap untuk merencanakan pernikaha, kami kembali membahasnya dengan serius. 

Misalnya, saya sharing dan menanyakan ke Dhimas apakah saya boleh tetep kerja kalau sudah menikah? Apakah saya boleh memilih resign dan jadi Ibu rumah tangga kalau suatu hari nanti saya ingin memilih peran itu? Apakah saya boleh kuliah S2 walaupun nanti menjadi stay at home mom? Apakah saya boleh S2 dan mengejar cita-cita menjadi dosen? Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu menurut saya penting. Itu hanya sebagian sih, kenyataannya saya itu sering banget membahas soal mimpi kami masing-masing karena kami menyadari kalau kami tak ingin suatu saat nanti menyesal sudah saling memilih hanya karena salah satu dari kami nggak memahami mimpi yang ada dalam hidup kami. 

Lucky me, Dhimas seterbuka itu dengan saya. Soal sekolah lagi misalnya, dia sih bilang mengizinkan sekalipun sampai S3 dan saya bekerja sebagai Ibu rumah tangga. Katanya sih mau ngebiayain juga. Jadi mari aminkan, semoga rejekinya banyak ya biar saya bisa sekolah terus haha. 

 

3. Sharing tentang kebiasaan dengan lebih detil 


Saya dan Dhimas juga membahas soal kebiasaan kami di rumah masing-masing selama ini. Ya namanya pacaran ya, kami nggak pernah bareng untuk waktu seharian atau lebih. Kami belum pernah liburan bareng walau pacaran hampir 6 tahun. Karena itulah, rasanya perlu membahas soal kebiasaan kami dengan lebih detil. 

Nggak melulu dibahas dengan serius banget kok. Seringkali sambil makan kami membahasnya diselingi ketawa karena ini itu. Salah satunya saya share ke dia kalau saya ini sebenernya orang yang suka menyendiri, jadi apakah boleh saya kadang bobok sendiri? Haha. Penting banget dibahas. Takutnya nanti kalau dia nggak paham saya mau bobok sendiri karena memang itu kebutuhan saya, dia bakal ngira saya marah atau selingkuh. Runyam kan? 

Pun dengannya. Dia juga cerita soal hal-hal aneh yang memang belum kelihatan selama kami pacaran. Bahasan ini nggak membuat kami jadi memahami satu sama lain dengan 100%. Tapi seenggaknya, kami jadi punya bekal adaptasi lebih cepat dan lebih baik karena saling tahu kebiasaan masing-masing. 

4. Kapan punya anak


Punya anak juga perlu kesepakatan. Ya masak nggak perlu? Ada anak artinya ada satu nyawa baru yang harus kami rawat dengan sebaik mungkin. Merawat anak tentu perlu kesiapan mental, waktu, dan finansial kan? Karena itulah saya dan Dhimas sejak sebelum lamaran sudah membahas nih kapan mau punya anak. Apakah habis nikah langsung pengen isi atau pengen menunda dulu. 

Kalau menunda dulu, enaknya menunda dengan cara apa? Apakah saya harus KB, apakah pakai pengaman, apakah KB alami, apakah kalau udah berusaha nunda terus ternyata si kecil tetap hadir suami nggak keberatan? Nggak mau kan kisahnya ntar kayak Ana dalam Fifty Shade of Freed pas ketahuan hamil sementara Christian, suaminya, belum ingin Ana hamil? Oleh karena itu, bab ini juga krusial untuk dibahas. Mungkin awalnya agak canggung. Ya tapi masak nggak dibahas sih? Masak ngebahas begini malu, tapi malam pertama nggak malu? Saya sih mikirnya begitu ya. Mungkin temen-temen bisa dengan pertimbangan lainnya. Again, saya cuma share aja apa yang ada di pikiran kami. 


5. Pekerjaan rumah tangga


Bab ini juga rawan kalau tidak dibahas. Saya sendiri melihat gimana ibu dan bapak di rumah kadang marahan nggak jelas hanya karena pekerjaan rumah tangga. Dari situ, saya dan Dhimas juga membahas soal pekerjaan rumah tangga.

Saya misalnya, saya sejak awal bilang kalau saya nggak suka bebersih, saya lebih suka masak. Tapi, saya pengen menantang diri sendiri buat rajin-rajin bebersih. Catatannya, dia tetep harus bantu pekerjaan rumah lainnya. Sejauh ini sih dia bilang mau, tapi let see habis menikah gimana realisasinya. Saya juga bilang langsung nggak mau nyetrika dan dia juga nggak mau. Oke, kami memutuskan untuk masalah setrika biar orang lain saja. Hehe. Make it simple!

Selain saya, dia juga keluar suara soal pekeraan rumah tangga ini. Sejauh ini sudah ada beberapa kesepakatan hasil diskusi tersebut. Semoga nggak melenceng ya pada praktiknya. 



Wah, nggak terasa ya kalau ngebahas wedding preparation gini baru lima poin, eh udah 1000 kata lebih. Biar nggak terlalu panjang postingannya, saya mau bagi postingan tentang hal-hal yang dibahas sebelum menikah ini saya lanjutkan di part 2 ini! Last but not least, kelima poin di atas hanya sharing based on experience saya dan pasangan. Tentunya nggak harus dijadikan pedoman, tapi boleh kalau kelima poin itu mau dijadikan acuan. Yang jelas, saya berharap tulisan ini membantu temen-temen yang sedang berniat melangkah ke jenjang lebih serius dengan pasangan. Sampai jumpa di tulisan soal wedding preparation lainnya. Kalau penasaran tentang keputusan saya untuk menikah, bisa juga lho baca tulisan "Memutuskan untuk Menikah". See you!

  • Share:

You Might Also Like

5 komentar

  1. Thanks bund, ini bermanfaat sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, seneng banget lho baca e haha

      Hapus
  2. udah siap banget nih erny berumah tangga.. harus diomongin juga tentang tempat tinggal setelah menikah apakah akan kontrak atau ikut mertua atau tetap tinggal di rumah orang tua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak maya. Amin. hehe. iya nih di tulisan kedua bakal bahas soal tempat tinggal! haha

      Hapus
  3. Seperti biasa.. Menyimak
    Dan seperti biasa.. Love it soalnya kontenmu selalu membuka pemikiran baru 😍😍😍😍 lanjut baca yg kedua ahh

    BalasHapus