Engagement Story: Menentukan Baju Lamaran

By Erny Kurniawati - 10.02.00


Lamaran adalah salah satu momen awal menuju pernikahan yang menurut saya penting banget dan harus memorable. Alasan itu juga yang membuat saya konsisten untuk menuliskan cerita-ceritanya di sini. Setelah vakum karena keriwehan menyiapkan hari H pernikahan, kali ini saya mau berbagi cerita soal menentukan baju lamaran. Bagi perempuan, tampil dengan baju yang nyaman dan model yang pas di badan akan menambah kepercayaan diri. Apalagi di momen seperti lamaran ini. 

Waktu lamaran pada akhir April lalu, saya memutuskan untuk membuat kebaya simple modern dipadukan dengan kain batik berwarna hitam dengan corak gold. Kedua warna ini menurut saya dapet banget kesan elegannya dan klasik. Sementara untuk kebayanya sendiri berwarna putih tulang. 

Sebenarnya ada cerita di balik kain kebaya yang saya gunakan untuk lamaran ini. Awalnya saya membeli kain tersebut untuk membuat kebaya akad nikah. Tapi, saat ke toko kain untuk kedua kalinya, saya malah melihat kain lain yang full payet dan lebih cocok untuk kebaya akad. Alhasil, saya yang memang waktu itu belum bikin kebaya lamaran langsung kepikiran untuk memakai kain yang sudah dibeli itu untuk baju lamaran. 

Saat mencari model yang pas selera saya, saya mempertimbangkan kalau kebaya dan pencil skirt ini harus bisa dipakai beberapa kali. Apalagi saya sedang memasuki usia sering kondangan. Biar hemat, bikin kebaya lamaran pun harus fungsional bisa dipakai berkali-kali.


Pilihan saya jatuh pada model kebaya loose dengan resleting di belakang dan bagian bawah ngembang. Modelnya benar-benar simple, tapi tepat untuk bentuk tubuh saya. Kebaya dibuat tidak terlalu panjang biar tidak membuat tubuh saya seperti tenggelam. Lalu kebaya ini terdiri dari dua lapis, lapis dalam menggunakan kain cavali sebagai furing dan bagian luar lace dengan aksen bulu timbul. Sedangkan untuk bagian bawah, saya menggunakan kain batik dengan warna hitam-gold tadi yang dijahit menyerupai sarung dengan model pencil skirt. 

Karena dari awal saya ingin baju lamaran ini fungsional dan cocok dipakai kembali, jadi beberapa waktu lalu saya memadukan kebara modern tersebut dengan celana kulot beraksen lipit. Selain cocok, perpaduan kebaya dengan celana kulot membuatnya terkesan lebih modern, simple, dan pastinya nyaman untuk aktif bergerak.



Pertimbangan dalam menentukan baju lamaran yang fungsional juga jadi pertimbangan saya saat memutuskan membuat baju untuk akad dan resepsi. Nah, kalau tentang baju akad dan resepsi, saya bakalan share beberapa waktu mendatang. But first, saya mohon doa restu dari teman-teman agar dilancarkan sampai hari H ya! See you!







  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. sudah makin mendekati hari H yah erny.. semoga sehat selalu, lancar acaranya... sama nih ma aq dulu mikirnya kalau baju nikah dan kainnya masih bisa di gunakan kembali alias fungsional...

    BalasHapus
  2. Lancar2 ya sist hari H nya, mungkin bakalan banyak cobaan emosional pas mau akad atau resepsi terkait vendor atau apa gitu, tapi let it go aja ikhlasin yang penting kamu harus jaga positive vibe biar happy di hari itu. Ini curcol pengalaman pribadi yang tadinya lancar2 aja. Haha. Aku tadinya mau pakai lace atau kebaya juga pas lamaran tapi akhirnya pakai atasan putih dan bawahan kain songket gitu aja. Hahaha. Dasarnya aku pemalas, alesan capek bolak balik Jkt :p

    BalasHapus