Honeymoon Itinerary: 5 Days 4 Nights in Bali

By Erny Kurniawati - 21.09.00


Honeymoon ke Bali? Sudah terbayang kalau mainstream sekali. Tapi atas berbagai pertimbangan, honeymoon ke Bali memang jadi pilihan ideal bagi saya dan suami. Pertama, kami hanya punya waktu luang kurang dari seminggu untuk menikmati honeymoon. Kedua, kami memang nggak pernah pergi jauh bersama. Jadi, pergi ke Bali yang nggak terlalu jauh ini bisa jadi pemanasan yang pas untuk mengenal habit traveling masing-masing. Ketiga, budget paling pas kayanya memang untuk ke Bali dulu. Tiga pertimbangan itu yang akhirnya membuat kami mantap menghabiskan 5 days 4 nights in Bali. Walaupun hanya ke Bali, tapi itinerary kami atur sendiri sehingga liburan ini benar-benar mengesankan bagi kami. Dan, di postingan ini saya mau share itinerary selengkapnya! Yuk, simak jangan sampai skip!

DAY 1: UBUD


Saya pernah bilang di postingan wedding preparation kalau karakter saya adalah planner. Mungkin karena itu, saya aktif ngajakin Dhimas berdiskusi soal destinasi honeymoon sejak kami memutuskan untuk meluangkan budget berlibur setelah menikah. Saya kebagian aktif cari tahu destinasi yang menarik dan tiket penerbangan. Sementara Dhimas bertugas membayar semua tagihan! Sungguh cerminan dari suami work dan istri shop kan?

Akhirnya saya dapet tiket promo dari Instagram @mbak_tiket dengan harga yang menarik banget yaitu, sekitar 1,8 juta untuk PP Jogja-Bali berdua! Tanpa ragu kami langsung booking dan melakukan pembayaran di bulan Mei. Setelah mengantongi tiket, saya pun melanjutkan penyusunan itinerary. Sebelum honeymoon ini saya pernah ke Bali dua kali dan selalu bareng tour. Sementara Dhimas sudah empat kali, tapi tetep aja yang dikunjungi itu-itu aja. Salah satu yang pernah kami datengin tapi hanya sekilas itu adalah Ubud! Ubud pun jadi prioritas destinasi yang harus kami kunjungi. 

Berbekal aplikasi Airbnb, Traveloka, Tiket.com, dan Airy Rooms, akhirnya saya ketemu penginapan impian di Ubud dengan harga yang sangat-sangat terjangkau. Saya dan Dhimas memutuskan untuk menginap semalam di cottage tersebut. Walau kemudian kami menyesal kenapa cuma menginap semalam. Soalnya, cottage dengan harga per malam 300 ribuan ini benar-benar nyaman, fasilitas lengkap, dan pas banget buat honeymoon. 


Sayangnya, di hari pertama itu saya dan Dhimas nggak jadi keliling Ubud karena saya salah estimasi waktu. Tadinya saya memperkirakan kami sampai di Umah Hoshi sekitar pukul 14.00 WITA. Ternyata, perjalanan dari Kuta ke Ubud perlu waktu sekitar 3 jam. Jadi, kami baru tiba di cottages pukul 16.00 WITA dengan suasana mendung dan gerimis!


Selain itu, saya baru tahu kalau cottages nan nyaman ini ternyata lokasinya cukup jauh dari destinasi wisata di Ubud yang pengen kami datangi. Apalagi, beberapa destinasi itu tutup sore hari. Berhubung kami juga masih lelah, akhirnya kami menghabiskan waktu sore hingga pagi di hari berikutnya tanpa beranjak dari cottages. Untungnya, kamar kami beneran senyaman itu. Ada kulkas, ada bathtub, ruangan yang wanginya relaxing, TV dengan channel lengkap, plus amenities-nya juga lengkap dari air minum, kopi, dan teh. Kebetulan sebelum berangkat ke Bali saya juga menyiapkan sandwich sebagai bekal. Jadi, sore itu kami hanya nonton tv sambil menikmati suasana relaxing di cottages tersebut. Nggak lupa, kopi plus sandwich kami santap bersama. 

Tentang cottages ini, saya bakalan bikin postingan terpisah karena beneran recommended sehingga terlalu sayang kalau nggak ditulis di blog ini!

DAY 2: MENYEBRANG KE NUSA LEMBONGAN



Setiap kali ke Bali, saya dan Dhimas hanya mengunjungi obyek wisata yang itu-itu saja. Seputar Kuta, Seminyak, Jimbaran, Sanur, dan Ubud. Mumpung kali ini kami pergi berduaan dan kami memiliki pandangan yang mirip-mirip tentang traveling, maka kami memutuskan untuk mencoba ke Nusa Lembongan di hari kedua dan menginap dua malam yang artinya kami akan balik ke Pulau Bali di hari ke-empat. Dhimas setuju dengan ide tersebut. 

Tapi, saya belum menyiapkan tiket feri untuk menyebrang jauh-jauh hari. Bahkan saya nggak tahu di Nusa Lembongan mau ngapain. Yang saya siapkan hanyalah booking penginapan! Benar-benar liburan tanpa itinerary yang matang. Tapi, itulah seninya pergi tanpa tour dan honeymoon. Melepas penat, jalan-jalan, sambil menikmati momen mumpung masih berdua. Saya memesan tiket feri untuk menyebrang ke Nusa Lembongan sehari sebelum menyebrang. Alhamdulillah kami dapet tiket PP 350 ribu/orang dan ada fasilitas antar jemput ke penginapan kami. 

Kami menyebrang pukul 12.30 WITA dari pelabuhan Sanur. Siang itu, angin berhembus kencang dan ombak cukup besar. Saya sudah memperingatkan Dhimas untuk berganti celana pendek sebelum menyebrang. Tapi, dia ngeyel tetap pakai celana panjang. Dan, first time kena sial karena ombak besar membasahi celananya sampai ke pangkal paha dan HP yang ia kantongi kena air laut. Akhirnya, HP di sakunya mati total dan nggak bisa dibenerin lagi. Moral value-nya, dengerin saran istri kali ya? Mau ketawa, tapi takut dosa ngetawain musibah suami sendiri! 

Setelah check in dan ganti baju, saya dan Dhimas masih menyempatkan diri buat tidur siang dulu. Yes, tidur siang itu kemewahan yah. Baru sekitar pukul 16.00 WITA kami berburu makan sore sebagai pengganti makan siang. Berbekal review di Google, kami pergi ke Warung Bambu yang berlokasi di Jalan Jungut Batu dengan pemandangan menghadap laut.

 

Sore itu cuaca sedang cerah-cerahnya. Angin berhembus dengan sepoi. Uniknya, angin di sini terasa segar dan nggak lembab seperti angin laut pada umumnya. Mungkin karena Nusa Lembongan merupakan pulau kecil dengan perbukitan dan pepohonan di sana sini ya? Sore itu saya memesan ikan bumbu bali dan Dhimas memesan menu ikan dengan bumbu berbeda. Untuk minumannya, saya memesan es teh jahe yang enak banget! Ini es teh jahe terenak yang pernah saya coba. 

Menurut saya, kalau kamu berlibur ke Nusa Lembongan, wajib banget untuk mampir makan di Warung Bambu karena ini warung termurah dan terenak yang saya coba selama dua hari tiga malam di Nusa Lembongan. 

Dari Nusa Lembongan, kami mengejar sunset di Devil's Tear. Sadly, kami kesorean dan petang itu langit mendung, kami pun nggak dapet momen sunset romantis itu. Dari Pantai Devil's Tear, kami balik ke penginapan untuk sholat magrib. Kemudian sekitar pukul 19.30 kami keluar lagi untuk cari makan. Setelah keliling, akhirnya kami memilih untuk dinner di Warung Baruno yang lokasinya juga di Jalan Jungut Batu dan tidak terlalu jauh dari penginapan.


Warung Baruno ini ramai banget! Sampai-sampai kami nunggu makan satu jam lebih. Untungnya, staf mereka ramah banget, nggak membedakan turis lokal atau bukan. Bahkan waitress minta maaf beberapa kali karena pesanan kami tak kunjung datang. Makan malam di Warung Baruno ini menjadi aktivitas penutup di hari kedua kami. Selama di Nusa Lembongan, kami juga nggak menyiapkan itinerary. Kami hanya pergi ke setiap tempat dengan impulsif dan memanfaatkan motor sewaan sehari 80 ribu untuk menunjang mobilitas selama di pulau kecil ini.

DAY 3: HUTAN MANGROVE & NUSA CENINGAN


Malam hari kedua kami di Nusa Lembongan, ada temen saya yang nge-DM kalau hutan mangrove di Nusa Lembongan cantik banget jadi jangan sampai kami lewatkan. Saya pun ngajakin Dhimas untuk mencari tahu testimoni orang-orang yang pernah ke hutan mangrove pulau ini dan rata-rata meninggalkan bintang 4 sampai 5 untuk destinasi ini. Dari review itu juga kami dapet kisaran harga sewa canoe plus pengemudinya untuk menemani kami berkeliling di hutan tersebut. Kami pun merealisasikan rencana jalan-jalan ke hutan mangrove. Soalnya, kapan lagi jalan-jalan ke hutan mangrove kan? 

Sekitar pukul 09.00 WITA kami sudah bergegas menuju hutan mangrove setelah sarapan di penginapan. Hutan Mangrove tersebut letaknya nggak terlalu jauh. Dengan sepeda motor, kami bisa mencapai lokasi dalam waktu 15 menit saja. Itu pun dengan kecepatan rendah. Sebelum sampai di lokasi kami sudah dicegat oleh bapak-bapak yang nawarin paket keliling hutan mangrove. Pertama-tama, dia menawarkan harga 200 ribu untuk kami berdua. Tapi, kami berhasil menawarnya jadi 150 ribu untuk dua orang. Tidak terlalu murah sih, tapi menurut kami itu sudah best price

Kami pun mulai naik ke canoe dan menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit mengelilingi hutan mangrove yang rimbun dengan daun hijau segar dan air bening hingga tampak kehidupan di bawah air sana. Ternyata, air yang merendam hutan mangrove ini nggak terlalu dalam. Bahkan mungkin tidak sampai setengah meter. Namun rimbunnya pohon mangrove memang membuat perjalanan ini seperti memasuki labirin. 

Bagi saya dan Dhimas, menyusuri hutan mangrove ini jadi momen yang sangat menyenangkan. Suasana tenang, hawa sejuk, dan cerita bapak pendayung perahu kami membuat perjalanan singkat itu jadi lebih worth to remember. Sayangnya, kami lupa bertanya nama bapak yang menemani perjalanan kami kemarin. Selain itu, air jernih di hutan ini membuat saya merasa relaks saat memandanginya. Dari perahu, saya bisa melihat ke dasar air dan menemuka akar-akar pohon bakau yang berlumut ataupun kepiting yang tengah berjalan-jalan. Benar-benar bikin pikiran fresh. Apalagi menjelang akhir kita akan disuguhi pemandangan birunya luatan dan hijaunya hutan mengrove yang berdampingan. Sejuk sekali di mata ini!

Setelah perjalanan di hutan mangrove selesai, kami melanjutkan perjalanan untuk menjelajahi pulau Nusa Lembongan dengan sepeda motor dengan tujuan menyebrang ke Nusa Ceningan. Surprisingly, jaraknya tak terlalu jauh karena hanya butuh sekitar 30 menit dari hutan mangrove ke yellow bridge atau jembatan yang menghubungkan Nusa Lembongan ke Nusa Ceningan. Hanya saja, jalanan sepanjang Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan memang naik turun perbukitan dengan aspal yang nggak selalu mulus. 


Begitu sampai di yellow bridge, saya nyempet-nyempit untuk foto di jembatan ikonik ini. Beneran bagus viewnya karena air laut di bawah jembatan tersebut biru jernih. Dan, outfit saya hari itu matching dengan warna jembatannya! Happy. 

Setelah puas foto-foto, barulah kami mencari destinasi terdekat untuk dikunjungi. Iya, setidakterencana itu perjalanan hari itu. Saya emang sengaja menekan kebiasaan planner dan mencoba jadi orang yang mikir sesuatu mendadak. Herannya, saya sangat menikmati perjalanan hari itu. Berkali-kali saya bilang ke Dhimas kalau saya happy sekali.

Dari yellow bridge, kami memutuskan untuk ke Secret Beach. Rupanya, Secret Beach ini lokasinya ada di dalam villa. Untungnya nggak ada biaya masuk. Hanya saja kami diharuskan beli makan atau minuman minimal 35 Ribu untuk bisa menikmati pemandangan Secret Beach dari cafe terdekat. Sementara cafe itu juga jadi pintu masuk ke pantai itu. Siang itu saya masih kenyang, tapi kehausan jadi pesanan kami hanya air mineral dan watermelon juice yang enak banget!

Sekitar pukul 13.00 WITA, kami meninggalkan Secret Beach dengan kondisi perut kelaparan. Saya mencari halal restaurant di pulau ini melalui bantuan internet. Hasil pencarian mengarahkan saya ke Ria Warung. Berbekal review positif dan daftar harga yang terjangkau pada Google Maps, kami pun bergegas menuju warung di tepi laut dengan pemandangan indah ini. 

Saya suka sekali dengan ambience Ria Warung. Dinding bambu, atap daun kelapa, ayunan di sana sini, bangku dan meja kayu, hingga bean bag warna-warni memenuhi warung mungil ini. Suasana teduh dengan angin sepoi dan pemandangan laut dangkal yang seolah memanggil kami untuk turun dan tak perlu takut basah. 


Lagi-lagi kami harus menunggu agak lama di tempat makan ini. Namun, rasa capek, lapar, dan suasana yang nyaman membuat kami enggan protes. Mending menikmati pemandangan yang ada. Walaupun saya sebel sih nggak turun basah-basahan karena nggak bawa ganti plus kurang aman karena saya nggak bisa berenang! Setelah menunggu sekitar satu jam, menu pesanan kami datang. Saya memesan menu khas bali dengan sate lilit tuna sedangkan Dhimas memesan menu seafood dengan bumbu lainnya. Setelah kenyang, kami pun bergegas membayar menu makanan yang sudah kami pesan. Harga menu di Ria Warung berkisar antara 50 ribu sampai 150-an. Porsinya cukup mengenyangkan walau nggak bisa dibilang banyak. Bumbu masakannya juga enak. Apalagi dinikmati dengan pemandangan birunya laut. Ah makin enak!


Baca juga: Sunplay Ultra Protection Sunscreen SPF 99+ PA++++

Perjalanan kami di Nusa Ceningan berakhir di Ria Warung. Kami merasa lelah dan mengejar waktu dhuhur agar bisa sholat di penginapan. Setelah itu, sore harinya kami berencana mengejar sunset yang gagal kami dapatkan pada hari sebelumnya. Sayangnya, kami sial karena langit sangat mendung bahkan gerimis. Saya dan Dhimas yang awalnya berencana ke Dream Beach pun mengurungkan niat. Dengan berat hati, kami mengganti tujuan mengejar sunset ke Mahagiri Beach dan sekali lagi langit terlalu mendung sehingga momen magis matahari tenggelam benar-benar tak terlihat.

Malam terakhir di Nusa Lembongan diselimuti gerimis tipis. Kami yang tak punya jas hujan jadi mengurungkan niat untuk wisata kuliner malam. Akhirnya kami kembali makan malam di Warung Bambu. Ternyata warung ini sangat ramai di saat jam makan malam. Walaupun ramai, tapi tak perlu waktu lama untuk menikmati menu makanan pesanan kami. Malam itu saya memesan pepes ikan dan Dhimas memesan seafood bumbu Bali seperti yang saya pesan di hari sebelumnya.

DAY 4: KEMBALI KE KUTA



Pagi-pagi di hari ke-empat kami kembali mengunjungi Mahagiri Beach sebelum sarapan dan check out. Tujuannya hanya untuk melihat matahari pagi sekaligus berfoto dengan latar bean bag warna-warni. Sepertinya, nasib kami selama di Bali memang kurang beruntung karena susah sekali untuk bertemu matahari yang biasanya tampil dengan cantiknya. Setelah jalan-jalan sebentar, kami bergegas kembali ke penginapan. O iya, kami menginap di D'Camels. Penginapan di Nusa Lembongan itu umumnya sederhana bukan hotel. Kalau kamu mau menginap di hotel, ada kok tapi pilihan sangat terbatas dan harga lumayan mahal untuk ukuran kualitasnya. Namun, soal penginapan itu nggak begitu penting asalkan bersih dan nyaman karena kalau di Nusa Lembongan emang sebaiknya menghabiskan waktu untuk eksplor ke sana-ke mari.


Sekitar pukul 10.45 WITA driver dari vendor feri penyebrangan menjemput kami di penginapan. Lokasinya penginapan kami dengan pelabuhan hanya sekitar 5 menit saja dengan kendaraan bak terbuka yang sudah dimodifikasi menjadi angkot khas di sana. Lalu pukul 11.00 WITA kami sudah bersiap menyebrang ke Pulau Bali lagi. Sungguh rasanya campur aduk karena selama honeymoon kemarin, momen di Nusa Lembongan adalah momen terbaik kami. Benar-benar membuat kami jauh dari handphone dan menikmati kebersamaan keliling pulau naik motor, nyobain makanan yang walaupun lumayan pricey, tapi enak-enak. Sungguh nggak menyesal meluangkan waktu untuk tinggal 2 hari 2 malam di pulau ini.

Begitu tiba di Sanur, saya langsung order Go-car yang kemudian mengantar kami ke tempat makan siang. Atas rekomendasi teman, kami mencoba makan siang di Ayam Kedewatan Bu Mangku di daerah Jl. Tukad, Denpasar. Sesungguhnya kami berekspektasi menu makan siang ini seenak menu-menu yang kami santap di hari-hari sebelumnya. Ternyata di balik tampilannya yang membuat kami menelan ludah, ayam kedewatan ini biasa saja. Nilai plusnya, restoran Ayam Kedewatan Bu Mangku itu nyaman sekali dengan interior unik yang penuh tanaman dan juga gemericik air dari kolam ikan koi di tengah-tengah area outdoor. Jujur, saya dan Dhimas sangat menikmati waktu istirahat kami di tempat makan ini. Untuk menu utamanya kami hanya berani memberi nilai 7/10. Beda cerita dengan minumannya yang perfect! Saya puas banget nyeruput es degan jeruk nipis di tengah siang hari. Sementara menu es campur pesanan Dhimas juga nggak kalah segar!


Kami pun segera bergegas memesan Go-Car untuk melanjutkan perjalanan ke Hotel Alron yang lokasinya sangat dekat dengan pusat wisata di Kuta. Di penginapan terakhir ini, kami mendapat kamar dengan dekorasi khusus honeymoon. Kami cukup senang dengan kejutan ini. Setidaknya hal itu menutupi kekecewaan kami dengan lokasi kamar yang letaknya agak di belakang dan bagian depannya kurang terawat.


Tak berlama-lama, sore hari ke-empat kami di Bali, kami memutuskan untuk mencari oleh-oleh di Kuta Art Market yang hasilnya nihil! Karena nggak mendapatkan barang oleh-oleh yang dimau, sekitar pukul 16.30 kami bergegas memacu motor menuju cafe dan outlet Kim Soo. Sayangnya, cafe Kim Soo hanya buka sampai jam 6 petang dan last order jam 5 sore. Sore itu cuaca juga kurang bersahabat sehingga kami hanya mampir sebentar dan kembali beranjak menuju tempat makan hits Nasi Pedas Bu Andi.

Tak perlu waktu lama untuk menikmati menu Nasi Pedas Bu Andika di hadapan kami. Agenda hari itu belum selesai, sesaat setelah kenyang, kami beranjak menuju pusat oleh-oleh Krisna yang tak jauh dari warung makan Nasi Pedas Bu Andika. Membeli oleh-oleh di Krisna menjadi penutup aktivitas kami di Bali hari itu. Rasanya capek luar biasa dan sedikit sedih karena itu artinya besok siang kami harus bergegas kembali ke Jogja.

Baca juga: Cleanser Andalan Saat Travelling


DAY 5: LAST DAY IN BALI



Hari sebelumnya kami sudah mengunjungi Kim Soo dan harus pulang dengan perasaan kecewa karena cafe sudah tutup. Karena itulah, hari terakhir di Bali kami manfaatkan untuk menikmati morning coffee di cafe tersebut. Saya dan Dhimas berangkat menuju Kim Soo setelah sarapan di hotel.

Perut kenyang tidak membuat rasa penasaran kami untuk mencicipi menu camilan di cafe tersebut berkurang. Saya dan Dhimas memesan minuman dan cake. Pagi itu Kim Soo cukup ramai oleh customer yang mayoritas turis. Kami hanya menikmati waktu luang sekitar satu jam karena harus segera balik ke hotel untuk bersiap dan bergegas ke bandara.

Hari ke-lima di Bali kami hanya sampai jam 2 siang karena jam setengah tiga pesawat Air Asia yang membawa kami pulang ke Jogja akan dijadwalkan terbang. 5 Days 4 Nights in Bali tuh sebenarnya kurang. Tapi, kami bersyukur punya waktu luang dan rezeki untuk honeymoon. Menurut kami sih honeymoon memang sepenting itu, semacam kenangan lain yang bisa diingat untuk seumur hidup. Plus menjadi bahan bakar semangat buat bekerja biar habis ini bisa liburan bersama lagi!


Last but not least, semoga itinerary yang saya share ini berguna untuk kamu! Untuk yang penasaran dengan budget perjalanan kami ini, kami menghabiskan dana total sekitar 9 juta. Tidak terlalu sedikit karena kami memang nggak mau backpacker sekalipun menginap tak menghabiskan biaya yang besar. Justru kami menghabiskan banyak uang untuk makan selama di Nusa Lembongan. Biaya sehari makan tiga kali selama di Pulau ini paling sedikit menghabiskan 500 ribu. Untungnya, semua makanan di Nusa Lembongan memang enak-enak sehingga kami nggak menyesal sama sekali. Nanti bakalan saya update di postingan lagi tentang detil tempat berkesan yang kami kunjungi. See you!


  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Jujur, udah bolak-balik ke Bali tetapi sekalipun belum pernah ke Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, mentok di Seminyak, hehehe. Baca cerita kamu, jadi pengen suatu saat ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus banget nyobain ke Nusa Lembongan or Ceningan mbak. Feelsnya beda. Kalau sama kepulauan Gili Lombok emang pemandangan pantainya ciamik Lombok. Tapi feel liburan di dua nusa ini bener-bener pengen balik lagi sih. Hehe

      Hapus
  2. aq nungguin review hotel D'Camels ada rencana bulan november kesana sama suami dan anak,,, kira2 cocok gak yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, pas banget udah bikin draftnya. Segera aku kelarin yah mbak hihi. maacih uda mampir.

      Hapus