Menyiapkan Pernikahan Tanpa WO dan Anti Stres

By Erny Kurniawati - 23.08.00


"Kamu nyiapin nikahan kemarin itu tanpa bantuan WO?" Kira-kira begitulah isi beberapa DM yang masuk di akun Instagram saya setelah saya mengunggah story di hari pernikahan minggu lalu. Saya kira menikah tanpa bantuan WO itu hal yang biasa, tapi ternyata nggak sedikit juga yang bertanya ke saya sampai ngobrol panjang soal ini. Berhubung menjawab satu per satu DM pertanyaan tersebut bakalan nggak kelar-kelar dan takut kelewatan, jadi saya mau berbagi cerita saja di sini tentang menyiapkan pernikahan tanpa WO dan anti stres. Bener kok, kamu nggak salah baca. Saya stres menjelang pernikahan justru disebabkan oleh hal lain di luar perintilan yang bisa diurus oleh WO. Nah, hal apa yang bikin stres? Saya bagiin juga ceritanya, tapi lain waktu!

Back to topic tentang menyiapkan pernikahan tanpa WO dan anti stres. Setelah hari pernikahan berlalu, saya baru yakin untuk share pengalaman yang tak terlupakan ini. Menurut saya pribadi, ada beberapa hal yang bikin persiapan pernikahan tanpa WO ini less drama dan menyenangkan.

1. Siapkan konsep jauh-jauh hari

Saya dan Dhimas sudah membahas soal rencana pernikahan sejak awal tahun ini, tepatnya mulai Januari 2018. Benar, saat itu kami belum melangsungkan lamaran. Namun, keluarga masing-masing sudah tahu niat baik tersebut dan kami memang sepakat untuk menyicil persiapan secepatnya. Rasanya, weekend selama Januari - Agustus menjadi weekend paling personal bagi kami. Saya pun sadar betul kalau harus mengurangi aktivitas di hari libur tersebut demi mengurus persiapan menikah.

Kalau temen-temen mau menyiapkan pernikahan tanpa WO dan anti stres, memang sebaiknya jangan mendadak. Lebih baik disiapin dari jauh-jauh hari agar nyicil pekerjaan ini itu, survey ini itu, dan mikirin banyak halnya nggak terjadi dalam satu waktu. Soalnya, stres itu biasanya muncul karena kita kelelahan, terlalu banyak mikir dalam satu waktu, dan buru-buru.

2. Buat timeline yang jelas

Pada dasarnya, saya dan Dhimas itu berbeda tipe dalam hal menyiapkan segala sesuatu. Dhimas itu spontan dan saya itu planner. Nah, di saat persiapan menikah kemarin, kami mengombinasikan cara berpikir kami berdua. Sebagai orang yang cenderung berkarakter planner, saya memang membuat target tiap bulannya apa saja yang harus disiapkan. Buat catatan juga biar tidak ada yang terlewat.

Karena tidak dibantu WO, jadi apa yang dibutuhkan dan direncanakan semua harus direalisasikan sendiri. Maka dari itu, mencatat dengan detil setiap kebutuhan dan list yang harus dikerjakan itu penting. Lalu, sepakati dengan pasangan kalau masing-masing harus jadi alarm pengingat. Setidaknya itu yang saya dan Dhimas lakukan.

Setiap kebutuhan dan list yang harus dikerjakan kami beri ketentuan waktu. Ada satu bulan itu isinya survey mulai dari tempat, vendor dekor, vendor foto, penjahit, vendor souvenir dan banyak lainnya. Bagian survey ini juga dibagi dua.

3. Sedikit Mengeluh, Banyak Bersyukur

Capek ngurusin nikahan itu wajar banget. Tapi, jangan sampai lelahnya kita, capeknya kita, malah bikin kita kebanyakan mengeluh dan lupa bersyukur. Untuk kami yang sudah pacaran hampir 6 tahun, momen menyiapkan pernikahan adalah momen yang sangat kami syukuri. Makanya, saat ada yang tanya udah ribut belum sama pasangan soal persiapan menikah, jawabannya adalah nggak ribut. Setiap hubungan pasti berbeda ya, salah satunya ya seperti kami yang memang tidak pernah ribut soal persiapan. Setiap kali kami mulai mengeluh, sudah otomatis kami akan nyeletuk "ini proses yang harus disyukuri" karena tidak semua pasangan bisa berakhir hingga pelaminan. Tidak semua orang juga menikah dengan pasangan yang saling sayang dan cinta. Rasanya, kalau dihitung hal yang bisa disyukuri itu banyak jadi kami seringnya malu kalau mau mengeluh. Ternyata, sugesti positif untuk selalu bersyukur itu benar-benar bikin drama dalam persiapan menikah jadi lebih sedikit. Kami pun nggak stres sampai-sampai saya berkali-kali nyeletuk, beneran nih mau nikah? Kok aku nggak jadi bridezilla.

4. Menjaga ekspektasi

Memang benar kalau salah satu penyebab kecewa itu adalah ekspektasi kita sendiri. Untuk itu, perlu banget menjaga ekspektasi selama persiapan menikah. Saya merasa, ada banyak hal yang kemarin saya lalui dan berpotensi bikin stres. Alhamdulillah, stres itu bisa dihindari dengan signifikan karena legowo kalau ada sesuatu yang kurang. Tapi, setiap orang sebenarnya punya caranya masing-masing untuk mengatasi  atau mencegah stres kalau kecewa. Nah, kebetulan kalau saya selalu mensugesti diri bahwa 'kesempurnaan hanya milik Alloh'. Jadi, tugas kita usaha yang terbaik dan kalau ada kurang yaudah diterima aja. Apalagi menyangkut persiapan menikah. Pasti ada aja hal yang dirasa kurang mendekati the big day. 

Nggak apa-apa kalau ada yang kurang, toh persiapan yang dilakukan sendiri bersama pasangan udah meninggalkan momen tersendiri agar lebih dekat satu sama lain dan jadi tahu karakter masing-masing. Bisa jadi memori lelahnya persiapan menikah yang kadang tak sesuai ekspektasi justru akan jadi kenangan manis di kemudian hari.

5. Jangan lupa merasa bahagia

Pernikahan disebut hari bahagia, tetapi berapa banyak sih yang benar-benar sadar untuk enjoy the moment dan merasa bahagia selama menyiapkan hingga hari H? Setiap kali kepala mulai pusing dan menunjukkan tanda-tanda stres, saya memilih untuk menyepi sendiri terlebih dulu. Menjaga jarak dari segala hal yang berkaitan dengan persiapan hari H. 

Seperti H-2 pernikahan saya lalu. Saya sudah masuk masa cuti. Sedihnya, di rumah saya justru ramai oleh tetangga yang bantu-bantu masak dan nyiapin selametan untuk acara pernikahan saya. Saya pun bukannya tenang, tapi suasana ramai tersebut malah bikin pikiran saya  tegang dan nggak bisa beristirahat. Karena merasa mulai stres, saya pun memilih pamit keluar sebentar untuk sekadar creambath dan makan sendiri. Creambat atau makan sendiri di luar bisa jadi sarana untuk ngembaliin perasaan happy saya. Cara setiap orang mungkin berbeda. Tapi intinya, jangan lupa untuk merasa bahagia.


Menyiapkan pernikahan tanpa WO dan anti stres itu bisa banget, tergantung bagaimana mindset kita aja. Karena semua itu awalnya dari pikiran, jadi gimana kita mengendalikan pikiran selama persiapan menikah bakalan mempengaruhi tingkat stres kita. Nah, ini trik menyiapkan pernikahan tanpa WO dan anti stres ala saya, share yuk versimu!

  • Share:

You Might Also Like

6 komentar

  1. Wah keren tanpa WO ya mbk. Saluuut. Aku jg pengen rencananya ngehemat biaya tanpa WO. Makasih tipsnya mbk. Salam, muthihauradotcom

    BalasHapus
  2. Mantaap sistur tips2nyaaa. So helpful! :))

    abis ini bikin postingan life after marriage dong wkwkwk

    *rikues

    BalasHapus
  3. Aku juga lg stress bgt nih nyiapin merit, padahal msh lama, skrg msh fokus ngurus syarat2 di greja karna nikah secara katolik ribetnya setengah mati, untuk resepsi juga tanpa WO, semua handle sendiri aja hahaha, berbeda yg kamu yg planner dan pasanganmu yg spontan. kami berdua sama2 planner sebenernya jd segala sesuatu hrs dipikirkan jauh2 hari hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, jadi dua-duanya sepaneng ya ato tegang mikirnya! Good luck ya mbak, semoga lancar dan tetep jangan lupa jaga kesehatan.

      Hapus
  4. blog nya bagus 😁 saya saya lagi persiapan tanoa wo nih.. lagi cari inspirasi... semangat menulis yah mba.. tulisannya jelas dan mudah dimengerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak ANna, makasih banget ya. Seneng sekali kalau tulisan ini bisa jadi temen mbak menyiapkan pernikahan.

      Hapus