Wedding Preparation: Ngomongin Budget Pernikahan Bareng Pasangan dan Keluarga

By Erny Kurniawati - 20.55.00

pic: Unsplash @rawpixel

Topik yang paling banyak direquest untuk saya bahas dalam segmen wedding preparation adalah BUDGET. Well, saya nggak bakal nyebutin detail budgetnya berapa. Tapi, di postingan ini saya mau share sekilas tentang perkiraan budget pernikahan yang sudah kami keluarkan dan bagaimana kami mengkomunikasikan tentang budget ini kepada orang tua. Makanya, postingan ini judulnya "Ngomongin Budget Pernikahan Bareng Pasangan dan Keluarga" soalnya untuk merencanakan budget pernikahan, pasangan dan keluarga punya andil besar. Gimana, sudah penasaran? Yuk, langsung kita mulai pembahasan soal ngomongin budget pernikahan bareng pasangan dan keluarga ala saya!

Membuat Detil Perencanaan Biaya Menikah Bersama Pasangan


Poin pertama yang saya lakukan bareng Dhimas saat merencanakan pernikahan adalah membuat detil perencanaan biaya menikah secara keseluruhan. Tentu saja untuk membuat perencanaan ini kami survey harga terlebih dulu. Dari situ, kami jadi tahun perkiraan kasar biaya pernikahan yang sanggup kami bayar. Tentu saja nominalnya di bawah 50 juta dan sesuai dengan kondisi keuangan kami. 

Untuk membuat perencanaan biaya menikah ini saya membahasnya bareng Dhimas berkali-kali. Nggak sehari selesai gitu. Dengan membahas secara detil bareng pasangan, kami jadi punya bahan jelas untuk dishare ke keluarga saat mereka menanyakan konsep pernikahan yang kami impikan plus terlihat sudah persiapan karena sudah punya budgeting plannya. Dari pembahasan yang intens dan terus berlanjut ini, saya dan Dhimas jadi tahu bagian mana aja dari pernikahan kami yang ingin ditekan budgetnya. Saat itu, kami memilih untuk menekan budget di banyak hal. Berikut ini beberapa hal yang kami tekan budgetnya selama menyiapkan pernikahan kemarin:

  • BUDGET VENUE
Venue untuk pernikahan tuh sekarang mahal-mahal banget. Setidaknya bagi kami yang nggak kaya-kaya amat ini! Haha. Pada masa perencanaan, saya dan Dhimas cuma punya dua opsi menikah di Jogja atau di Magelang. Pilihan kami jatuh di Magelang dengan pertimbangan biaya venue di Magelang seharusnya lebih murah dan keluarga kami juga hampir semuanya tinggal di Magelang. 

Setelah itu, kami mencari tahu pricelist gedung maupun venue lainnya incaran kami. Dari semua venue yang kami tahu pricelist-nya, kami jatuh cinta dengan Balkondes Tuksongo Borobudur. Lokasinya cukup strategis karena tak terlalu jauh dari pintu masuk Candi Borobudur. Pemandangan yang ditawarkan pun cantik karena venue tersebut menghadap di keliling sawah. Lalu fasilitas seperti ruang makeup, jumlah toilet dan juga mushola sesuai dengan standar kami. Pas ditanya harganya, ternyata harga sewa 24 jam hanya 6 juta. Kami pun langsung merasa klik dan merasa seperti sudah berjodoh dengan venue ini. 

  • BUDGET MAKEUP ARTIST
Sebagai orang yang cukup paham tentang makeup, mencari makeup artist untuk acara pernikahan itu nggak gampang. Idealisme dan selera sangat menentukan harga makeup artist impian. Untungnya komitmen untuk menghemat budget menikah itu sudah mendarah daging di diri saya. Jadilah saya telaten mencari makeup artist yang pas dengan selera dan pas di kantong. FYI, makeup artist untuk di daerah Jogja itu mostly mematok harga mulai dari 5 jutaan untuk paket paling murah.

Tapi, saya masih tertantang untuk mencari opsi lain. Akhirnya saya menghubungi sahabat saya dari SMP yang sekarang punya salon dan kakaknya seorang desainer sekaligus MUA. Dia menyarankan saya untuk mencoba makeup dengan kakaknya. Kebetulan juga, saya sudah dekat dengan kakaknya sejak SMP jadi saat diskusi tentang tema makeup yang saya inginkan, saya bisa menjelaskannya dengan gamblang dan santai. O iya, kakak teman saya ini gaya makeupnya lebih ke Jawa yang manglingi, sementara tema yang saya mau itu internasional flawless gitu. Jadi memang agak berbeda dari gaya makeup ala dia biasanya.

Nah, saya akhirnya deal dengannya karena saat test makeup saya sangat puas dengan hasilnya. Rate untuk makeup pernikahan saya + touch up dan test makeup sebenarnya sekitar 5 juta lebih. Tapi tanpa saya minta, MUA ini memberi harga 3,5 juta saja untuk makeup pernikahan + touch up dan makeup dua ibu. Wah asli, saya geleng-geleng kepala karena takjub dapet harga segini dan produk yang dipakai pun high end seperti MAC, Shuemura, Urban Decay, Channel, dll. Untuk keaslian produknya saya jamin asli karena saya lihat sendiri dan tahu rate dia di pasaran berapa. Yes, ini bagian dari rejeki nikah ya!

  • DEKORASI PERNIKAHAN 


Dekorasi pernikahan juga berpeluang besar menghabiskan budget. Dari semua vendor, menemukan vendor dekorasi yang pas dengan budget kami itu paling susah. Tapi rejeki nggak kemana. Setelah tanya sana-sini dan mostly ngasih harga 25-40 juta, akhirnya saya dapet vendor dekorasi pernikahan kami seharga 15 juta. Kabar baiknya, pihak vendor mau ngasih harga 8 jutaan karena mereka masih terhitung vendor baru dan sedang butuh portofolio dekorasi di venue tempat kami menikah!

Saya sama Dhimas rasanya nggak henti berterima kasih kepada-Nya yang sudah mempertemukan kami dengan vendor Griyo Dekorasi. Sebenarnya, awal cerita kami dapet harga murah itu juga menarik! Saya dan Dhimas mencari vendor dengan budget sekitar 10 juta. Sedangkan setelah meeting dengan Griyo Dekorasi mereka bilang harga paling rendah 14 juta dengan fasilitas dekor yang minim. Akhirnya kami diskusi dan Dhimas bilang kalau kami nggak jadi pakai karena budget kami hanya 7 juta. Surprisingly, pihak dekor ngajak ngobrol hingga akhirnya menawarkan harga yang selanjutnya kami sepakati itu.


Yang bikin kami tercengang, saat hari H dekorasi yang mereka buat ternyata lebih dari bayangan kami. Mereka improve dengan sangat baik! Saya dan Dhimas sampai tercengang dan merasa harga yang kami dapet itu bukan hanya best price, tapi lucky price!


  • WEDDING ATTIRE
Bukan cuma soal makeup, soal wedding attire yang saya inginkan juga nggak banyak sanggar pernikahan yang menyediakan. Apalagi saya ingin tema yang internasional, tapi bukan ball gown atau mermaid. Jadilah membuat wedding dress custom menjadi pilihan saya. Saya bersyukur punya kenalan seorang desainer sekaligus penjahit yang sejak jauh-jauh hari saya incar. Namanya Mbak Lita, kami kenal di aplikasi MIG33 saat saya SMP dan dia yang membuat wedding dress impian saya jadi kenyataan hanya dengan biaya jahit + payet 1,1 juta! Super best price.

Sementara Dhimas memilih untuk membeli wedding attire sendiri karena mencari setelah jas berwarna biru navy tanpa unsur metalik itu susah sekali. Saya juga bingung, kenapa kebanyakan setelah jas untuk mempelai pria yang disewakan sanggar itu ada lis nuansa silver atau metaliknya. Beruntungnya, Dhimas nemuin jas yang fit dengan tubuhny di Executive dengan harga diskon 50%. Harga jas tersebut hanya sekitar 600 ribuan saja. Best price lagi!


Selain ke-empat hal tersebut, sebenarnya budget vendor foto juga berhasil kami tekan. Kami dapet harga 5 jutaan dengan hasil foto mirip vendor impian kami yang mematok harga termurah 7 hingga 9 juta. Jadi, pernikahan kami kemarin benar-benar on budget dan ternyata hasilnya melebihi ekspektasi kami. Super happy.

Selain menekan budget, membahas biaya pernikahan bareng pasangan juga membuat kami sama-sama tahu standar pernikahan yang diinginkan orang tua kami. Nggak bisa dipungkiri kalau pernikahan itu nggak cuma pesta untuk pengantinnya saja, tetapi juga pesta untuk orang tua. Dan kami memang sejak awal ingin melibatkan masukan dari mereka untuk acara hari H sebagai wujud pernghargaan. Namun, keputusan tersebut membuat mertua saya bersikukuh untuk membantu dana pernikahan kami. Kami sempat menolak secara halus beberapa kali, tetapi orang tua terus bersikukuh. Akhirnya, kami memutuskan untuk menerima bantuan tersebut tapi tidak sepenuhnya dan soal ini menjadi highlight omongan kami soal budget pernikahan bareng orang tua.

Membahas Budget Pernikahan dengan Orang Tua


Dari awal meminta izin menikah, orang tua saya sudah wanti-wanti kalau biaya pernikahan akan jadi tanggung jawab saya. Saya tidak keberatan sama sekali karena justru saya merasa tenang nggak merepotkan orang tua. Namun berbeda dengan Dhimas. Orang tuanya yang kala itu belum jadi mertua saya ingin membantu membiayai pernikahan kami. Alasannya agar uang kami bisa ditabung dan digunakan untuk bekal berumah tangga. Namun dasarnya kami ingin membayar biaya-biaya tersebut, kami pun bernegosiasi beberapa kali sampai akhirnya tidak mencapai titik temu. Akhirnya kami menerima bantuan orang tua, tetapi untuk beberapa kebutuhan menyangkut pesta pernikahan akan kami bayar sendiri atau dengan kata lain nggak menerima bantuan secara 100%. Alhamdulillah syarat tersebut diiyakan oleh calon mertua saya.

Berhubung impian kami untuk membiayai semuanya sendiri tidak terwujud, kami pun berkomitmen untuk mencari vendor dengan harga sebagus mungkin supaya nggak terlalu merepotkan. Kecuali vendor catering yang sepenuhnya dihandle oleh Ibu mertua saya. Saya percaya pada beliau karena sudah berpengalaman memilih vendor catering, plus soal catering ini seluruhnya ditanggung oleh orang tua. Terus apa nggak gengsi cerita begini di sini? Nggak sama sekali. Saya dan Dhimas meniatkan diri untuk nyenengin atau bahasa Jawanya 'nglegani ati' niat baik orang tua untuk membantu kami. Jadi, nggak ada yang memalukan dari hal ini. Pun untuk teman-teman yang biaya menikahnya ditanggung sendiri 100%, kalian keren juga!

Meskipun beberapa kebutuhan dibantu oleh orang tua, sepertinya kami berdua harus bersyukur lagi karena mereka tidak request tema diubah atau konsep pernikahan diganti. Impian resepsi dengan venue semi-outdoor dan dekorasi rustic serta tidak menggunakan adat tetap bisa kami wujudkan. Walaupun jumlah tamu yang tadinya kami usulkan 200 undangan saja harus naik jumlah hingga dua kali lipat. Berhubung soal tamu hubungannya dengan catering dan catering disupport, jadi kami nggak mikir lama untuk mengiyakan usulan orang tua tersebut.

Kalau dihitung kasar, total biaya pernikahan kami menghabiskan dana sekitar 50 jutaan. Angka tersebut bisa dianggap besar, tapi bisa juga terlihat kecil. Menurut kami, besar kecil biaya pernikahan itu murni kembali ke kemampuan masing-masing pasangan. Kalau ada temen-temen di sini yang membaca tulisan ini saat sedang menyiapkan pernikahan, kalian nggak perlu merasa terintimidasi "kok budget nikahanku tinggi banget?" as long as kalian mampu dan nggak terlalu membebani ya go ahead. Pun bagi temen-temen yang mungkin budgetnya di bawah itu, tak perlu pula merasa pernikahannya kurang wah atau gimana. Just go ahead pokoknya. Sesuaikan kemampuan. Sesuaikan prinsip juga. Kalau ada di antara temen-temen yang biaya menikahnya full 100% disupport ortu, ya kalau kalian nyaman maka jalanin aja. Kalau 100% biaya menikah ditanggung sendiri, ya pastikan temen-temen ketat dengan budget dan jangan kasih kendor untuk usaha terus. Kalau seperti kami yang win-win dibantu orang tua dan beberapa hal dibayar sendiri, ya itu jalani saja. Intinya setiap pilihan ada konsekuensinya. Tinggal berani ambil risiko aja!



Last but not least, ngomongin budget pernikahan bareng pasangan dan keluarga itu part yang krusial. Jangan karena merasa nggak nyaman, lalu nggak dibahas dan malah dipendam sendiri. So, semoga sharing saya di tulisan kali ini membantu teman-teman untuk lebih open mind soal ngomongin budget pernikahan ya! BTW, ada usulan bahasan apa lagi nih untuk next post tentang wedding preparation yang sebaiknya saya tulis? Asli, butuh masukan dari teman-teman. Kasih tahu saran kalian di kolom komentar ya!

  • Share:

You Might Also Like

12 komentar

  1. dulu aq malah gak sempat urus2 budget pernikahan semua yang urus orang tua, jadi seru sendiri baca ceritanya... barakallahuu laka, wa baaraka alaika, wa jamaa baynakumaa fii khair untuk erny dan suami

    BalasHapus
  2. Cakep banget mba dekor dan gaunnya, itu masih on budget banget kok. Saya sendiri kemaren habis 75jutaan dan standar di Jambilah. Kalau ini kece banget dekorasinya :D

    BalasHapus
  3. Erny, bagus banget sih dekorasi venuenya, aduh aduh bikin mupeng. Aku lagi puyeng buat wedding preparation nih hihi, lumayan dpt inspirasi setelah baca tulisan ini, thank you dear.

    BalasHapus
  4. Ngomongin tentang budjet pernikahan emang banyak tips and tricknya yah, mba dan masnya Alhamdulillah banget dapet rezeki nikah dapet harga yang bagus :D
    Saya juga setahun lalu bikin budjeting nikah berdua sama Kangmas ga pake WO, dan Alhamdulillah realisasinya di bawah planning

    Biaya catering juga lumayan makan budjet, klo saya catering sendiri ambil persentase 40% dari budjeting

    BalasHapus
  5. Erny... mau tanya dong. Catering nya itu vendor mana yaa? karena jujur enak sekaliii hahahha

    Love,
    Deniathly

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu pake catering Laksana beb, ada di Jogja dan Temanggung. Harganya cukup murah dibanding lainnya.

      Hapus
  6. *liat foto bertiga sama mbak dindit* sedi anet aku dikacangin nggak digandeeeeeeeeeeeeeeeeng :((

    BalasHapus
  7. Murah bangett. Di Bandung dapet 60jt aja udah termaduk murah, itu gak sama venue. :')
    Apa yaaa adat di aku juga bahasanya masih 'Orangtua A nikahin anaknya' bukan 'Anaknya A nikah' gitu jadi umumnya dibiayain orangtua sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, itu wujud lain dari lancar rejeki mendekati hari H kak hehe. Sama, di sini juga mostly yg bayarin menikah ortunya, kalo ortuku emang sante. Tapi kalau mertuaku pengennya beliau semua. untung bisa dinego hihi

      Hapus
  8. Selamat ya atas pernikahannya. Semoga langgeng sampai tua :)

    BalasHapus
  9. Kalo aku waktu nikah dulu mertuaku gak nyumbang banyak, mostly dari tabungan suamiku. Mertuaku gak nyumbang secara kasat mata, karena beliau membiayai akomodasi sodara-sodara yang datang dari jauh, ngasih seragam, dan kasih oleh-oleh juga. Keluarga suamiku tuh sampe lintas buyut masih terjaga jadi sebisa mungkin ya 'ngeragati'. :D

    Kalo ortuku sih yang handle makanan. Memakai jasa tetangga karena nikah di rumah dan karena ibuku lebih suka ngasih kerjaan ke orang-orang terdekat. Jadi ya sama kayak kamu, aku dan suami membiayai pestanya. :D Menurutku win-win solution. Bersyukur ya punya ortu yang tidak ribet, karena ini termasuk rezeki.

    Trus yang bikin hepi, mertua + ortuku sepakat gak pake acara ngunduh mantu dan itu bisa menghemat banget kan. Tenaganya pun bisa disimpan untuk istirahat. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener ikka, menurutku nikmat ortu dan mertua ga ribet juga masuk dalm kategori rejeki. Iya banget, untung nggak pake ngunduh mantu.

      Hapus