Wedding Preparation: Drama Kebaya Akad

By Erny Kurniawati - 10.00.00


Sudah baca postingan tentang wedding preparation sebelumnya? Kalau sebelumnya saya membahas gimana caranya Dhimas dapet best price untuk setelah jas-nya, kali ini saya mau cerita tentang drama kebaya akad yang sempat bikin kepala saya migrain dan berat. Sudah penasaran? Here we go!

Gambaran singkatnya, saya bakalan memakai dua baju untuk acara pernikahan ini. Pertama, setelan kebaya dan kain jadi pilihan untuk acara akad. Berhubung saya nggak nemu model kebaya yang diinginkan di sanggar dan penyewaan kebaya, akhirnya saya pun memutuskan untuk membuat sendiri. 

Awalnya saya berniat membuat kebaya ini di penjahit sekaligus desainer wedding dress saya. Namun saya mengurungkan niat karena punya penjahit baju langganan dari masa kecil. Inginnya, di momen bahagia ini saya pakai baju yang dijahit oleh orang yang sudah saya kenal lama hasil jahitannya. Sayangnya, keputusan tersebut bukanlah yang terbaik. 

Sekitar Lebaran 2018 ini saya dan Ibu dateng ke penjahit langganan tersebut. Saya membawa kain lace berpayet dengan warna dasar putih dan payet bernuansa silver. Sedangkan ibu saya membawa kain lace warna biru navy yang akan dipakai saat hari pernikahan saya nanti. Setelah menunjukkan foto model kebaya yang diinginkan dan model gamis idaman ibu, kami pun mengukur tubuh dan membuat deadline untuk kebaya akan plus gamis ibu tersebut. Penjahit menjanjikan akan jadi pada tanggal 5 Agustus.

Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Dibahas Sebelum Menikah

Singkat cerita tanggal 5 Agustus tiba dan baju kebaya tersebut belum jadi. Malahan ibu saya bilang kalau ada ukuran yang terlewat, jadi saya harus ukur ulang. Sebenernya sampai di sini saya sudah firasat kalau kebaya untuk akad tersebut bakalan kurang sesuai dengan model yang saya mau. Akhirnya saya memilih untuk menepiskan firasat itu dan fokus untuk mengurus hal lain karena the big day tinggal dua minggu lebih.

Dua minggu sebelum the big day, kebaya dan kain untuk akad sudah jadi. Saya pun excited bukan kepalang untuk fitting. But....... hasilnya seperti di bawah ini: 


Kaget? Kecewa? Bingung? Yes, seketika perut saya melilit. Dan, saya sempat bitter sama ibu penjahitnya karena merasa brief di awal nggak dihiraukan. Asli, saya sedih tapi nggak tahu mesti bagaimana. Waktu itu saya cuma nyeletuk, "duh ini mah nggak kaya kebaya untuk akad bu, ini kaya kebaya wisuda," kata saya dengan nada frustasi. 

Lucky me, waktu itu saya pulang ke rumah orang tua dan saat ada waktu luang tersebut saya sempat curhat dengan Kak Sofi. Saya cerita deh kalau kebaya akad saya fail. Dia solutif banget karena minta foto kaya gimana failnya dan langsung bantu cari jalan keluar. Saran pertamanya, saya mending ambil kebaya setengah jadi tersebut dan hari berikutnya yaitu Minggu, 12 Agustus kami ketemuan. Padahal waktu itu Kak Sofi kebetulan sedang pulang dan saya sudah riweh luar biasa karena siap-siap pindahan kost ke rumah baru dan juga nyiapin ini itu tentang pernikahan. 

Kebaya tadi akhirnya disulap dengan tambahan kain dan lace berpayet. Ajaibnya, semua itu dikerjakan dengan tangan. Yang ngerjain tentu bukan saya, tapi Kak Sofi! Sungguh rasanya ingin bersyukur terus-terusan karena waktu itu saya pun sudah panik dan kondisi fisik lagi lelah-lelahnya. Dan beginilah kebaya akad saya. Jujur, model ini tidak sesuai rencana awal, tetapi saya bersyukur karena kebaya ini tetap layak dipakai. Plus beberapa orang pun menanyakan dimana saya membuat kebaya tersebut. 

Baca juga: Ngomongin Budget Pernikahan Bareng Pasangan dan Keluarga



Belajar dari pengalaman tersebut, saya mau share beberapa notes untuk temen-temen yang juga sedang menyiapkan pernikahan dan berencana bikin kebaya akad atau wedding dress sendiri (tidak nyewa). 

1.  Pilih penjahit yang bisa mendesain baju atau kalau bisa, eh sebaiknya harus punya basic desainer. Pantes desainer itu jasanya mahal karena mereka teliti, bisa membayangkan model tertentu dengan banyak pertimbangan, dan tahu yang terbaik untuk customernya. 

2. Kalau ada budget, lebih baik memilih vendor yang jelas portfolio-nya sekalian. Atau setidaknya penjahit tersebut sudah punya karya baju pernikahan yang bisa kamu lihat langsung. So, tidak ada keraguan dan ketakutan hasil bajunya beda dengan yang kita mau pun nggak banyak. Jadi lebih relaks. 

Kesalahan saya, kemarin itu saya ditawarin sama Kak Sofi untuk dibuatin kebaya akad, tapi saya nggak enak karena dia sedang sibuk-sibuknya. Jadi saya tolak deh.

3. Lampirkan foto atau minta penjahit tersebut gambarin desain baju yang sedetail mungkin sehingga yakin hasilnya nggak bakal jauh berbeda. 

Memang cuma tiga catatan saja, tetapi ketiga hal tersebut sangat vital saat menentukan penjahit untuk bikin kebaya atau wedding dress


Walaupun drama kebaya akad ini sempat membuat kepala saya nyut-nyutan dan bad mood, tetapi saya bersyukur sekali semua hal itu nggak saya rasakan di hari pernikahan. Acara akad berlangsung lancar, sederhana, dan khitmad. Salah satu momen paling mengharukan sepanjang perjalanan saya bareng Dhimas. 



  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. duh aq bacanya jadi ikut deg-deg-an... hihihi untungnya ada yang bisa bantu untuk memperbaiki gaun yang hampir gak jadi pakai lagi yah

    BalasHapus