Pregnancy Story: Merencanakan Kehamilan

By erny's journal - 10.00.00


Tahun 2020 ini memang menjadi tahun yang istimewa untuk saya dan suami. Bukan, bukan karena belakangan ini kami 24/7 bersama-sama yang disebabkan oleh WFH dan Corona ya! Tapi, awal tahun 2020 ini saya dinyatakan hamil! 

Kehamilan pertama ini adalah kehamilan yang memang kami rencanakan. Sebelumnya, selama setahun pertama pernikahan kami memang sengaja menunda punya momongan. Persiapan pindah rumah ke Jogja hingga beberapa checklist persiapan punya anak memang belum rampung pada tahun pertama pernikahan kami. Oiya, kami juga masih pengen pacaran waktu itu! Jadi, memang mentally merasa belum benar-benar siap untuk punya baby. 

Pada ulang tahun pernikahan yang pertama di bulan Agustus 2019, saya dan suami sengaja mengambil cuti untuk staycation. Momen anniversary ini kami yakini sebagai momen yang tepat untuk refleksi dan juga merencanakan apa yang ingin kami lakukan, kami capai, dan kami perbaiki di tahun kedua pernikahan. Saat itu sambil leyeh-leyeh di empuknya kasur Greenhost Hotel saya nyeletuk, "tahun kedua ini siap nggak kalau kita program punya anak?" Suamiku tampak berpikir sesaat dan menjawab, "siap kok, dibandingkan setahun kemarin InshaAlloh tahun kedua nanti kita lebih siap." 

Dari obrolan tersebut, kami langsung mencari tahu apa aja sih hal-hal detil yang perlu dipersiapkan kalau mau punya anak. Selain mental, tentu finansial. Kami sempat tertawa bareng, saling melotot bareng, lalu bareng-bareng mengamini kalau secara mental sudah siap, finansial juga sudah jauh lebih matang. Selebihnya, sebagai manusia ya sesungguhnya kami nggak bakalan siap 100% kalau ditanya. Tapi at least, di momen tersebut kami menyadari kalau sudah lebih dari 60% kami siap. Sisanya bisa kami persiapkan sambil jalan. 

Konsultasi ke Dokter Kandungan


Setelah memutuskan untuk serius usaha hamil, hal pertama yang saya perhatikan adalah siklus mens. Kebetulan dari bulan Juli 2019 siklus mens-ku berantakan. Waktu itu sudah masuk bulan Oktober, saya belum juga datang bulan. Sudah cek tespek 3 kalian dan tetap nihil hasilnya. Bukan sedih yang dirasa, tapi penasaran aku kenapa. Saya pun mencoba menganalisa sendiri dan memang ketemu alasannya yaitu, dari bulan Juli saya sering keluar kota dan handle event kantor yang cukup stressful. Dari remaja siklus menstruasi saya memang bermasalah kalau banyak pikiran. Namun menghindari self diagnose, saya pun ngajakin suami ke RS Happy Land Jogja untuk konsultasi dengan dokter kandungan. 

Waktu itu, pas 30 menit sebelum kami berangkat tiba-tiba saya menstruasi. Namun kami nggak mengurungkan niat. Kami tetep ke dokter sore itu setelah jam pulang kerja. Saat itu saya bertemu dengan dokter Dianisa namanya. Sebenarnya dokter incaran saya bukan beliau, tapi berhubung dokter yang dituju sedang cuti maka saya bersedia untuk ganti.

Pertemuan pertama dengan dokter Dianisa membuat saya langsung jatuh cinta. Soalnya dokter ini friendly dan komunikatif. Penjelasannya sama sekali nggak ada yang bikin takut. Lalu beliau lebih menyarankan untuk memperbaiki pola makan dan pola hidup terlebih dulu dibandingkan langsung memberi resep. Sore itu, saya juga bilang kalau saya dan suami berencana untuk program hamil. Setelah konsultasi dan cerita panjang lebar, dokter menyarankan kami agar program alami dulu mengingat kami selama setahun sebelumnya menunda punya momongan secara alami. Jadi, hitungannya kami baru ikhtiar selama 2 bulan terakhir dan itu wajar kalau belum isi.

Baca juga: Hal-Hal yang Sebaiknya Dibahas Sebelum Menikah

Saya pulang dengan hati tenang dan juga happy. Waktu pemeriksaan, sebenarnya ada kista di rahim saya. Tapi hasil analisis dokter menunjukkan kalau itu kista normal yang terbentuk karena siklus menstruasi saya bermasalah. So, saya nggak perlu worry.

Ikhtiar untuk Memperbaiki Pola Hidup


Poin yang ditekankan oleh dokter kandungan di awal bulan Oktober 2019 tersebut adalah kami harus memperbaiki pola hidup. Untungnya suami nggak merokok juga sehingga hal yang paling kami perhatikan di stage ini adalah mengelola stres. Jujur, saya suka sekali bekerja dan beban pekerjaan saya nggak ringan juga. Apalagi selama akhir tahun event yang harus dihandle ada banyak ditambah mengejar goals perusahaan juga. Saya happy karena merasa produktif. Namun di samping itu, saya berusaha untuk terus menyadarkan diri bahwa mengejar pekerjaan nggak ada habisnya.

Saya inget waktu sebelum menikah dulu ada yang bilang, "kalau mau melihat kamu siap apa nggak menikah, coba bayangkan dan lakukan hal-hal kecil yang menunjukkan kalau kamu mampu berbagi hidup dengan orang lain." Karena itu saya jadi inget, kalau menyisihkan waktu lebih banyak untuk istirahat, memanage stres, dan makan yang baik adalah upaya yang juga menunjukkan kalau saya siap dititipin seorang anak oleh Tuhan untuk saya besarkan.

Dari pertemuan dengan dokter kandungan tersebut saya diberi beberapa tablet folavit. Ini vitamin dengan kandungan asam folat untuk menyiapkan tubuh saya agar siap hamil. Selain itu, dokter hanya menekankan untuk perbaiki pola tidur, makan yang sehat seperti sayur, buah, dan daging secara imbang, dan juga menyarankan saya untuk minum rimpang-rimpangan yang biasanya dishare sama Ust. Zaidul Akbar di Instagram. Saya pun mengangguk mengiyakan. Walaupun untuk minum rimpang-rimpangan ini riset panjang. Dari mengenali siapa Ust. Zaidul Akbar, apa latar belakangnya, bagaimana pemikirannya, dan akhirnya saya mantep karena semua penjelasannya logis serta masuk akal.

Baca juga: Rekomendasi Skincare untuk Ibu Hamil

Sejak saat itu, saya menjadi rajin kembali untuk minum vitamin C dari madu dan perasan lemon setiap pagi. Saya juga minum bersih rahim dari rimpang-rimpangan yang diolah sendiri. Dua bulan pertama saya belum begitu rajin. Bahkan vitamin Folavit juga sering skip saya minum. Kemudian sekitar pertengahan Desember saya kembali galau karena sejak konsultasi ke dokter kandungan, saya menstruasi kembali di tanggal 9 bulan Desember. Artinya di bulan November saya nggak datang bulan. Jadi siklus mens saya masih kacau.

Kala itu saya langsung bertekad untuk lebih serius lagi. Diawali dengan bersusah payah memperbaiki waktu tidur dan minum vitamin secara rutin. Oiya, pola makan juga saya perbaiki dengan lebih banyak masak sendiri. Karena dari beberapa bulan sebelumnya saya sempat setiap hari makan makanan jajan atau junk food biar cepet nggak perlu ribet.



Sampai di sini saya menyadari betul kalau proses merencanakan kehamilan ini adalah proses yang terpenting bagi saya dan suami. Karena saat kami mantap merencanakannya, emotionally kami semakin siap dari hari ke hari. Kecewa karena testpack negatif mah hal yang biasa ya, tapi justru jadi momen saling menguatkan dan meyakinkan diri kalau anak yang kami nanti akan datang pada waktu yang tepat.

Sebenarnya, saya juga ingin berbagi cerita tentang trimester pertama kehamilan. Tapi tulisan curhat kali ini sudah terlalu panjang. So, saya akan sharing ceritanya di postingan terpisah. See you! 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar