Pregnancy Story: Kehamilan Trimester Pertama

By erny's journal - 00.12.00

Babymoon di Bali, Februari 2020

Waktu itu akhir Januari 2020, tepatnya tanggal 24. Saya ada tugas kantor ke Surabaya dengan naik kereta. Selama perjalanan dinas 2 hari ini saya merasakan sesuatu yang nggak biasa yaitu, saya tiba-tiba jadi mudah lelah dan nggak bisa pakai sepatu kitten heels andalan saya. Bingung sih karena sebenernya sepatu yang saya pakai itu sepatu yang super nyaman dan biasa saya gunakan untuk mobilitas tinggi. Sampai-sampai setelah meeting di Tunjungan Plaza, saya mampir cari sandal karena kaki sudah luar biasa sakitnya. 

Sepulang dari Surabaya, saya melihat ada flek di undies. Waktu itu happy karena artinya saya datang bulan lagi. Seperti yang saya ceritain di pregnancy story yang sebelumnya, saya punya problem siklum datang bulan yang berantakan kalau stres atau kecapekan kerja. Namun, pada malam harinya flek tersebut nggak berlanjut jadi menstruasi. Saya deg-degan sih, sekelebat dalam pikiran saya mengira-ngira kalau mungkin saja saya hamil. Soalnya, malam itu saya masih merasakan kelelahan luar biasa disertai nyeri panggul juga. Karena inget selama perjalanan ke Surabaya ini saya naikin dan nurunin koper sendiri ke kabin kereta ditambah full aktivitas, saya langsung minta suami beli testpack. Iya, saya khawatir kalau hamil karena merasa bersalah udah naikin dan nurunin koper berat plus aktivitas yang nggak ringan juga. 

Lalu malam itu juga saya test urine dengan testpack. Saya team nggak peduli tes pagi atau malam. Feeling saya waktu itu cukup kuat kalau saya hamil. Setelah nunggu sekitar semenit saya lihat testpack pertama dan hasilnya, ada dua garis. Yang satunya tegas dan satu lagi tipis. Saya deg-degan luar biasa. Tarik napas, lalu buang napas. Ada tiga testpack yang dibeli malam itu. Saya pun ambil testpack kedua dan cek lagi. Hasilnya sama! 

Hasil USG 7 Minggu, kali pertama mendengar detak jantungnya

Jangan dibayangkan kami lalu beradegan romantis kaya di film gitu yah. Saya langsung ngasih tahu suami dengan suara bergetar, suami saya ekspresinya hebring tapi kaget. Gimana ya, saya sendiri nggak pernah melihatnya se-excited ini. Waktu berpelukan pun dia deg-degan luar biasa. Makanya saya menuliskannya di sini, one day kalau anak saya sudah lahir dan bisa membaca, saya ingin dia tahu apa yang kami rasakan lewat tulisan ini. 

Tentang Trimester Pertama


Setelah tahu kalau saya hamil, saya langsung ngabarin kantor karena jadwal saya untuk keluar kota sebenarnya cukup banyak tahun ini. Oiya, waktu itu masih awal tahun, jadi belum ada isu corona di Indonesia. Dari kondisi tubuh, trimester pertama saya nggak se-challenging cerita-cerita ibu hamil lainnya. Walaupun nggak kebo-kebo amat, tapi trimester pertama di kehamilan pertama ini cukup mudah saya lalui. 

Waktu itu saya hanya disarankan untuk mengurangi aktivitas berat dan minum obat penguat. Keesokan harinya setelah tahu hamil, saya langsung cari dokter kandungan yang available hari itu juga. Saya langsung periksa dan diresepin vitamin serta obat penguat. Sebenarnya sih ada cerita yang nggak terlupakan saat periksa pertama ini. Soalnya saya cukup sial memilih dokter. Waktu itu dapet dokter yang dari bahasa penyampaiannya saja nggak bikin hati nyaman. Apalagi saat USG pertama kantong janin belum tampak karena kehamilan saya masih di bawah 7 minggu. Bukannya menguatkan hati saya yang waktu itu bertanya-tanya hamil atau tidak, tetapi dokter ini justru bilang kalau "lihat saja nanti 2 minggu lagi". Karena sesi konsultasi yang nggak menyenangkan, pengalaman USG transvaginal yang ngilu banget, dan rekomendasi tes urine karena dikhawatirkan ada infeksi saluran kemih, saya sampai nangis di kantin RS JIH sore itu.


Untungnya minggu berikutnya saya kontrol dengan dokter Dianisa yang sudah menangani saya sejak Oktober 2020 di RS Happy Land Jogja dan beliau sangat informatif. Kala itu kantung janin juga sudah terlihat walau masih sangat kecil. Setelah itu, hari-hari saya berubah karena ada sosok lain yang perlu dijaga. 

Frekuensi saya muntah dan eneg nggak begitu parah. Tidak setiap hari saya muntah, hanya saja level energi saya turun drastis. Di trimester pertama saya mudah kelelahan dan ngantuk luar biasa. Akibatnya saya yang sebelumnya seringkali begadang berubah jadi tidur jam 9 malam. Selain itu, beberapa menu makanan kesukaan saya tiba-tiba berubah jadi makanan yang paling bikin muntah. Dimsum salah satunya. Ngidam yang paling nggak terlupakan adalah suka banget makan sop tomyam Eastern Kopi TM. Saya bisa seminggu 3 kali makan di sana karena kalau bikin tomyam sendiri saya suka kelelahan.

Bukan hanya di trimester pertama, tapi sampai sekarang masuk trimester ketiga saya masih saja jadi picky eater. Dari awal hamil saya nggak doyan makanan sehat yang sebelumnya saya konsumsi. Nasi merah salah satunya. Lalu di trimester pertama juga saya nggak doyan ayam dan daging, saya cuma bisa makan ayam dan daging dengan olahan tertentu. Sayuran dan protein nabati jadi andalan. Namun, masuk trimester kedua justru saya malah jadi nggak doyan sayur! Wah emang ya, soal hamil ini penuh kejutan. 

Kalau tentang nafsu makan, dibandingkan di trimester terakhir ini, nafsu makan saya justru lebih baik di trimester pertama. Dan saya bersyukur banget karena hal itu bikin energi saya di trimester pertama nggak drop sampai harus bed rest atau libur kerja. Jadi sekalipun saya muntah-muntah, tapi frekuensinya nggak sering dan ketolong dengan hasrat makan yang terus-terusan. 

Kalau disimpulkan, trimester pertama itu challenge terbesar adalah tentang penerimaan diri pada beberapa hal yang bikin nggak nyaman. Soal muntah dan eneg sama makanan ini tidak begitu berarti, tapi soal kepercayaan diri yang turun karena tubuh berubah, lalu pegel di sana sini, nyeri payudara yang luar biasa, hingga sensitif sama bau suami jadi poin yang bikin saya waktu itu gampang pusing. Meski begitu, saya sangat menikmati perjalanan kehamilan ini. Proses adaptasi tersebut nggak bikin berkurang rasa excited mendampingi tumbuh kembang anak di dalam kandungan. Apalagi setiap bulan ada yang dinanti-nanti yaitu, ketemu si kecil lewat USG. Sampai sekarang pun masih terekam jelas diingatan bagaimana happynya hati ini saat pertama kali mendengar detak jantungnya. 

Ini foto saat trimester kedua, saya akan menceritakannya nanti di postingan berikutnya!

So, inilah cerita dari kehamilan trimester pertama. Saya akan cerita lagi lain waktu biar semua perjalanan ini terekam di sini. Untuk temen-temen yang sudah baca sampai akhir, terima kasih ya!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar