Explore Kyoto: 3 Nights 2 Days Itinerary

By erny's journal - 23.12.00


Setelah empat tahun yang lalu ke Jepang, finally bulan Maret tahun 2019 ini saya kembali lagi menginjakkan kaki di Jepang! Ada dua kota yang saya singgahi untuk kunjungan kali ini, Kyoto dan Tokyo. Dari total seminggu, 3 malam 2 hari saya habiskan di Kyoto, salah satu prefektur di Jepang yang identik dengan kesan tradisional dan punya destinasi wisata menarik. Kali ini saya tiba di Jepang tepat saat musim semi alias spring. Kebayang kan gimana suasana spring di Jepang dengan bunga sakuranya yang mulai mekar? Well, siap-siap baca blogpost ini sampai kelar, plus saya pamerin foto-foto liburan yang mungkin bikin kamu makin pengen ke Jepang ya!

DAY 1


Perjalanan ke Jepang ini merupakan bagian dari pekerjaan sebenarnya. Kantor tempat saya bekerja memiliki program yang disebut "Workation" atau kepanjangan dari Working & Vacation untuk pegawainya. Program ini dibuat setelah kami achieve challenge. Tapi bukan itu saja, program ini sebenarnya ditujukan untuk membuktikan kalau bekerja itu bisa di mana saja dan vacation juga bisa jadi ajang belajar atau kalau saya nyebutnya ajang "benchmarking". Dalam perjalanan kali ini saya juga nggak sendirian. Saya berangkat bareng 11 orang lainnya.

Kami berangkat dari Soekarno Hatta Airport pada 19 Maret lalu dengan pesawat JAL yang take off pada pukul 21.15 WIB dan mendarat di Narita pada 20 Maret pukul 06.30 waktu Jepang. Sore harinya sekitar pukul 15.00 waktu Tokyo, saya dan teman-teman naik shinkansen untuk melanjutkan perjalanan ke Kyoto. Agendanya, kami bakalan stay 3 malam dan menikmati 2 hari di Kyoto untuk eksplor tempat-tempat menariknya. Sekitar pukul 18.30 kami tiba di stasiun Kyoto. Kami berencana jalan kaki dari stasiun ke AirBnB yang sudah dibooking sebelumnya. Tentunya jalan kaki sambil menggeret masing-masing koper karena dari maps lokasi penginapan tak jauh dari stasiun.

Setelah berjalan hampir satu jam, rupanya kami nyasar ke perumahan lain. Padahal kami sudah mengikuti intruksi maps, tapi hal semacam ini emang wajar terjadi. Sekitar pukul 21.00 kami akhirnya tiba di AirBnB yang sudah dipesan sebelumnya. Tentunya kami sudah pegel-pegel dan kelaparan banget karena insiden nyasar itu. Tapi buat saya pribadi insiden nyasar ini malah nunjukkin kalau partner jalan-jalan saya ini nggak rese dan fokus pada solusi. Mereka nggak ngeluh atau menyalahkan satu sama lain. Good job!


Pagi harinya, agenda kami adalah eksplor Kiyomizu-dera dan Arashiyama. Kami berangkat dengan jalan kaki dan naik suttle bus di Kyoto untuk sampai ke Kiyomizu-dera. Walaupun judulnya group vacation, tapi trip kali ini santai banget bahkan kami berpencar untuk mengeksplor destinasi wisata ini. Saking santainya di hari pertama ini kami menghabiskan waktu seharian di Kiyomizu-dera saja. Sampai-sampai agenda ke Arashiyama digeser untuk hari berikutnya.

Walaupun menghabiskan seharian di tempat ini, tapi saya tetep happy banget karena Kiyomizu-dera ternyata memang menarik dan seramai itu pun saya masih tetap bisa menikmatinya. Padahal saya tuh tipe orang yang kurang suka keramaian. Makanya cukup heran hari itu saya masih bisa menikmati Kiyomizu-dera dengan segala keramaiannya. Mungkin juga karena ada street food yang enak-enak dan karena di tempat ini juga saya for the first time merealisasikan cita-cita untuk nyicipin kopi % ARABICA yang direkomendasikan banyak orang itu.


Setelah dari Kiyomizu-dera, kami melanjutkan berjalan kaki menuju kedai ramen halal Narita-Ya di Gion. Rasa lapar sore itu rasanya langsung terbayar lunas dengan hidangan ramen pedas yang saya pesan. Semangkok ramen ini juga menjadi bahan bakar untuk kembali berjalan kaki mengeksplor Ponthoco.

Ponthoco merupakan gang kecil di dekat Sungai Kamogawa yang merupakan ikon kota Kyoto. Tempa ini juga bisa disebut sebagai sisi lain dari Kyoto yang identik dengan jalanan kecil dan dipenuhi tempat makanan di sisi kanan dan kiri. Ponthoco ini memang terkenal sebagai salah satu pusat kuliner malam di Kyoto. Yang membuatnya unik adalah atmosfernya karena sepanjang jalanan Ponthoco ini kita bakalan ketemu banyak tempat makan dengan bangunan khas Jepang yang identik dengan kesan tradisional. Berhubung masih kenyang, saya pun nggak mampir makan lagi di sini. Saya dan temen-temen justru menghabiskan waktu di pinggir sungai kecil yang kami nggak tahu namanya hanya sekadar untuk ngemil camilan yang di beli di convenience store setempat. Semakin malam udara semakin dingin dan kami akhirnya balik ke penginapan saat jam menunjukkan sekitar pukul 21.00 malam.

DAY 2 



Hari kedua ini kami harus lebih disiplin dengan waktu karena hari ini ada dua agenda yaitu ke Arashiyama dan Fushimi Inari. Kami berangkat lebih pagi dari penginapan menuju Arashiyama yang jaraknya sekitar 10 km. Perjalanan pagi itu mengandalkan kereta dari Stasiun Emmachi menuju Stasiun Saga-Arashiyama.

Tak jauh dari stasiun, kami sudah sampai di dekat pintu masuk Arashiyama Bamboo Grove. Nah, di sana ada kedai makan yang menyajikan beragam menu untuk sarapan. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami langsung mengantri untuk memesan menu pengganjal perut sebelum eksplor Arashiyama Bamboo Grove. Dari beberapa kedai yang ada, saya memilih untuk memesan yakisoba dan semacam crabstick yang saya lupa namanya.

Menu breakfast yang Jepang banget dan harganya pun lumayan terjangkau kisaran 300-700 yen

Setelah perut kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan mengeksplor Arashiyama Bamboo Grove yang ternyata se-ra-mai itu. Saya nggak nyangka bakalan seramai itu karena biasanya lihat di foto-foto orang lain suasananya sepi dan peaceful. Saking ramainya bahkan saya kesulitan untuk sekadar berfoto mengabadikan momen di sana.

Berhubung siang itu suhu udara dingin mencapai sekitar 9-11 derajat, jalan kaki memang menjadi salah satu cara menghangatkan tubuh. Saya terus berjalan dan tujuan kedua setelah Arashiyama adalah ingin minum kopi hangat! Untungnya, di Arashiyama ada juga kedai kopi % ARABICA. Wah happy bukan main, apalagi selama jalan kaki menuju % ARABICA mata ini disuguhi pemandangan indahan bunga magnolia dan sakura yang mulai bermekaran.



% ARABICA Arashiyama ini lokasinya bagus banget menghadap Sungai Katsura dan perbukitan. Beberapa ratus meter sebelum sampai di kedai kopi ini, saya sudah takjub dan bahagia sekali menikmati pemandangan perbukitan dan sungai yang dihiasi oleh canoe. Udara memang semakin dingin, tapi justru itu yang membuat saya semakin semangat berjalan menuju kedai kopi ini agar segera bisa memesan segelas coffee latte dengan rasa khas walaupun harus mengantri terlebih dulu.

Segelas kopi sudah berada di genggaman. Kini waktunya melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari yang jaraknya kurang lebih juga sekitar 10 km dari Emmachi Station. Semakin sore udara semakin dingin dan langit pun sempat mendung. Untungnya hujan enggan turun. Kami menghabiskan waktu satu jam lebih untuk eksplor Fushimi Inari Taisha. Sebagai salah satu ikon Kyoto, destinasi wisata ini juga ramai luar biasa. Kalau saya diberi kesempatan ke Kyoto lagi, mungkin saya nggak akan mampir ke sini lagi. Kecuali untuk mampir menikmati street foodnya yang memang enak-enak dan tutup saat matahari tenggelam. Next time saya bakalan share street food apa saja yang saya cobain di sini dan bikin keinget terus.

Fushimi Inari Taisha: Ramai dan Street Foodnya

Saya melangkahkan kaki meninggalkan Fushimi Inari Taisha sekitar pukul 18.00 saat matahari mulai tenggelam. Setelah dari sini, destinasi berikutnya yang kami tuju adalah Teramachi Shopping Street. Karena ini malam terakhir di Kyoto, otomatis banyak temen-temen yang memutuskan untuk nyicil belanja oleh-oleh di sini. Sementara saya sendiri masih enggan belanja oleh-oleh karena kebayang keesokan harinya bakalan ribet saat perjalanan ke Tokyo. Akhirnya saya memilih untuk sekadar jalan-jalan dan masuk dari satu drugstore ke drugstore lain hanya untuk melihat produk-produk skincare drugstore Jepang. Sekalian benchmarking dan mengamati keunikan skincare mereka. Walau begitu, di tempat ini sebenarnya saya juga belanja sepatu Adidas dengan harga agak miring karena kebetulan running shoes yang saya pakai rusak saat tiba di Kyoto.

Teramachi shopping street

Butuh waktu sekitar 3 jam untuk eksplor Teramachi hingga ke Nishiki Market yang sudah tutup malam itu. Kaki mulai pegal dan kaku. Plus suara saya makin habis karena suhu terus turun hingga kisaran 7 derajat. Saya menutup malam ketiga di Kyoto dengan batuk dan pilek yang disebabkan perubahan suhu drastis di hari kedua ini. Tapi, masih ada 5 hari lainnya di Tokyo yang bakalan saya ceritain di postingan berikutnya. Jangan bosan-bosan membaca cerita saya ya!

  • Share:

You Might Also Like

5 komentar

  1. Kangen Kyoto banget! Pengen balik lagi ke sana deh ;")

    www.bigdreamerblog.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Me too... Pengen eksplore lbh lagi sama kota ini

      Hapus
  2. Fotonya cakep-cakep banget euy! Semakin ingin menjelajahi Kyoto :D

    BalasHapus
  3. Waaaa, bisa jadi contekan itinerary nih. Aku pengen ke Kyoto buat explore Old Japan apalagi menikmati kopi % ARABICA yang hits itu.

    BalasHapus