How I Love Myself

By erny's journal - 23.56.00


Isu soal self love kayanya lagi naik daun karena banyak dibahas di berbagai platform media online atau sosial media orang-orang. Saya jadi tertarik buat ikutan membahasnya. Tentunya dari kacamata saya sendiri. Bener kok kalau orang-orang bilang, cintailah diri sendiri dulu baru kita siap mencintai orang lain. Soalnya dengan mencintai diri sendiri, kita akan tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Kita juga bakal tahu gimana melindungi diri kita dari hal-hal toxic di luar sana. Bagi saya, untuk mencintai diri sendiri itu prosesnya nggak instan. Terkadang, mencintai diri sendiri justru jauh lebih sulit karena kadang tanpa kita sadari, kita suka menyalahkan diri sendiri bila kita melakukan suatu kesalahan. Padahal sebenernya nggak perlu segitunya. 

Kalau ditanya soal self love, saya bisa jawab kondisi saya sekarang itu sedang baik-baiknya. Ya bener kadang masih ngeluh atau menyalahkan diri sendiri. Tetapi sudah jauh berkurang intensitasnya dibanding saat menginjak dekade usia awal 20-an lalu. Dengan mampu mencintai dan menyayangi diri sendiri, saya merasa hidup lebih berharga, bermakna, lebih mudah melihat apa-apa dengan sudut pandang positif, dan semangat untuk terus memperbaiki diri. Ada beberapa hal yang saya highlight dari perjalanan menemukan makna dan mewujudkan self love ini: 

1. Kenali dulu diri sendiri lebih dalam 


Cinta itu bisa muncul karena kita kenal. Begitu pun dengan diri sendiri. Saya berusaha kerasa untuk mengenal diri saya yang maksudnya, saya mencoba memahami apa saja sih kekurangan dan kelebihan saya. Saya mencoba memahami apa saja yang bisa membuat saya bahagia dan sedih hingga berusaha untuk mengenali emosi yang saya rasakan setiap saat. Saat sudah mengenal diri sendiri lebih dalam, saya merasa lebih mudah untuk menerima imperfection diri sendiri. 


2. Mengetahui "value" diri sendiri


Kekurangan itu nggak bikin kita nggak berharga kok, setidaknya itu yang selalu saya tanamkan dalam pikiran. Sangat wajar sebagai manusia punya kekurangan. Saya nggak lagi perfeksionis membabi buta pada diri sendiri, saya memilih untuk menerima kekurangan itu dan fokus pada kelebihan. Dengan fokus pada kelebihan, saya jadi sadar value saya apa dan saya jadi lebih jernih saat berpikir untuk memperbaiki kekurangan diri. Mengetahui value diri sendiri membuat saya mampu mencintai diri sendiri dengan paket lengkap kurang dan lebihnya. 

3. Tahu yang terbaik untuk diri sendiri


Setelah melewati proses pengenalan dan memahami value diri sendiri, next step yang saya alami adalah jadi tahu yang terbaik untuk diri sendiri. Jangan salah, yang terbaik ini bukan berarti yang paling menyenangkan lho. Bisa jadi yang terbaik itu justru sesuatu yang sulit. Misalnya nih, saya sadar kalau ilmu marketing saya di kantor tuh kurang. Yang terbaik tentunya saya harus belajar gimana pun caranya, tetapi untuk sampai ke langkah mau belajar tuh kadang ada kerikil-kerikil denial yang bikin kita sulit melakukan hal yang terbaik untuk diri sendiri. 

 

4. Berada dalam circle yang positif


Secara nggak langsung saya tuh tipe orang yang suka membatasi pergaulan. Bukan apa-apa, kenalan boleh banyak, tetapi saya punya filter sendiri untuk temen atau keluarga yang mana sih yang layak masuk inner circle saya. Sejauh ini dengan menjaga inner circle berisi orang-orang positif, saya jadi lebih gampang untuk selalu berpikir positif. Termasuk berpikir positif sama diri sendiri biar nggak terlalu banyak blaming kalau saya melakukan kesalahan.



Empat poin itu saya highlight dalam perjalanan menemukan makna dan merealisasikan self love pada diri sendiri. Karena kebahagiaan kita itu tanggung jawab kita sendiri. Kalau kamu, gimana perjalananmu menemukan makna self love dan merealisasikannya?

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Dulu, saya sangka self love itu narsis. Jadi saya bangga menjadi narsis.

    Sampai kemudian, saya sadar bahwa narsis itu sebetulnya mekanisme diri sendiri menutupi kelemahan diri.

    Setelah mengalami beberapa kesulitan hidup, merasa ditolak di sana-sini yang membuat saya jadi menolak diri sendiri, akhirnya saya pergi ke psikolog. Saya bilang ke psikolog, saya capek nangis terus sendirian sambil melirik-lirik pisau dapur (iya, saya pernah ingin bunuh diri).

    Lalu psikolognya mengajari saya tentang diri kita yang terdiri atas banyak kelebihan dan banyak kekurangan. Saya disuruhnya menerima setiap bagian yang merupakan kelebihan, tapi juga menerima setiap bagian yang merupakan kekurangan. Terima saja, jangan ditolak. "Suruh tiap-tiap bagian itu hidup berdampingan menjadi dirimu yang utuh."

    Dan jangan dikira itu mudah. Katanya, menerima masing-masing bagian diri sendiri itu butuh latihan. Dan latihannya bisa memakan waktu bertahun-tahun.

    Alhamdulillah, setelah banyak berlatih menerima setiap bagian dari diri sendiri itu, saya jadi lebih mencintai diri sendiri. Ya kadang-kadang masih stress, tapi memang frekuensi frustasinya jauh lebih sedikit daripada 2-3 tahun yang lalu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Vicky, send my virtual hug to you! Iya bener menerima kekurang dan kelebihan diri secara sepaket ya dan setuju kalo itu susah, but you did it kak! Thanks for sharing

      Hapus
  2. menerima diri sendiri terutama dengan kekurangannya dan berada di lingkungan yang positive kalau buat aq mah, terutama dalam bertemen, lebih baik punya sedikit temen tapi memberi kebaikan untuk diri kita

    BalasHapus
  3. Soal value itu masih jadi PR saya banget. Terkadang di kondisi yang vulnerable saya gampang sekali terpengaruh dengan keadaan di sekitar, akhirnya saya gampang goyah dan akhirnya malah mendengar apa kata orang lain ketimbang mendengar suara hati sendiri. Apalagi setelah menjadi ibu, saya sering berada di posisi seperti di atas. Tapi bersyukur Tuhan memakai kesempatan ini untuk saya belajar mengenal diri sendiri lebih baik lagi. Lewat sang anak, saya juga belajar banyak tentang diri saya sendiri yang bahkan sebelumnya saya nggak ketahui. So, I'm thankful for being a mother to my child (:

    BalasHapus